Membawa Ghana juara Piala Dunia U-17 yang juga diikuti Alessandro del Piero dan Juan Sebastian Veron. Kariernya hancur karena agen nakal.
Sejak dulu, pemain yang menyandang status "the next" dari media dan suporter selalu tampil mengecewakan. Salah satunya menimpa Nii Odartey Lamptey, yang sempat dianggap sebagai "Pele berikutnya".

Lamptey adalah rising star di sepakbola internasional pada awal dekade 1990-an. Diprediksi akan melampaui prestasi Pele, pemuda harapan bangsa Ghana kelahiran Tema, 10 Desember 1974, itu justru mengalami kehancuran ketika salah memutuskan memilih klub akibat ulah agen nakal.

Kisah tragis Lamptey berawal jauh sebelum membela Ghana di Piala Dunia U-16 1989 dan U-17 1991. Pada 1989, Lamptey baru berusia 14 tahun dan menjadi pemimpin The Black Starlets pada kompetisi di Skotlandia. Tapi, Ghana hanya mampu menempati peringkat 3 klasemen akhir Grup A di bawah Bahrain dan Skotlandia, serta di atas Kuba.

Dua tahun berselang, di usia 16 tahun Lamptey kembali terpilih masuk skuad Ghana yang tampil di Piala Dunia U-17. Saat itu, peruntungan The Black Starlets lebih baik dari 1989. Memproduksi 4 gol sepanjang turnamen, dia menjadi pencetak gol terbanyak bersama Adriano da Silva dari Brasil. Lamptey meraih Golden Ball, sementara Adriano mendapatkan Golden Shoes.

Pada akhir turnamen, Ghana juga menjadi juara setelah mengalahkan Spanyol 1-0 melalui gol semata wayang Emmanuel Duah. Pada kompetisi di Italia tersebut sejumlah pemain yang kemudian menjadi bintang seperti Juan Sebastian Veron (Argentina) dan Alessandro del Piero (Italia) ikut berpartisipasi.

Sukses di Piala Dunia U-17, julukan The Next pele langsung melekat. Di usia 17 tahun, Lamptey terpilih sebagai African Footballer of the Year 1991 di posisi 5. Selanjutnya,  Lamptey masuk skuad Ghana di Olimpiade 1992 Barcelona. Hasilnya, medali perunggu setelah mengalahkan Australia.

Beberapa bulan sebelum tampil di Barcelona, Lamptey sudah naik pangkat ke timnas senior. Dia dipanggil masuk skuad utama The Black Stars di Piala Afrika 1992. Bersama Abedi Pele Ayew dan Anthony Yeboah, Lamptey membantu The Black Stars mencapai final setelah tampil perkasa di fase grup, perempat final, hingga semifinal.

Sayang, kekalahan dari Pantai Gading didapatkan pada final di Dakar, Senegal. Bermain imbang tanpa gol selama 120 menit, Ghana harus menyerah 10-11 lewat drama adu penalti yang melibatkan semua pemain kedua kubu.

Dengan pengalaman di tim senior, Lamptey kembali dipercaya memperkuat Ghana saat tampil di Piala Dunia U-20 1993. Dengan skuad yang meraih perunggu Olimpiade 1992, Ghana mampu mencapai pertandingan puncak. Tapi, mereka dikalahkan Brasil 1-2.

Namun, sebelum membela timnas, Lamptey punya jalan berliku untuk bisa bermain sepakbola. Pada usia 15 tahun dirinya mengajukan izin untuk merantau ke Eropa. Sayang, Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) tidak mengizinkan dirinya merantau ke luar negeri. Paspor Ghana miliknya turut disita.

Akibatnya, Lamptey harus mencari jalan lain agar bisa mewujudkan mimpi bermain di Benua Biru. Salah satuya melalui Nigeria menumpang taksi. Di Lagos, Lamptey bertemu Stephen Keshi. Saat itu, Keshi merupakan kapten timnas Nigeria dan pemain yang populer.

Berkat Keshi, Lamptey bisa bertolak ke Belgia dengan memakai paspor palsu Nigeria. Keshi mengaku Lamptey sebagai anaknya. Dia membawa Lamptey menjalani trial di sejumlah klub di Belgia, Prancis, Belanda, Jerman, hingga Italia. Salah satunya di Anderlecht.

Nakhoda Anderlecht saat itu, Adriaan de Mos, terpukau dengan Lamptey dan memutuskan menyodorkan kontrak. Pelatih asal Belanda itu memuji Lamptey sebagai titisan Pele. Regulasi batas minimal pemain muda di Belgia akhirnya diubah menjadi 16 tahun untuk mengakomodasi usia Lamptey yang saat itu baru 15 tahun. Lalu, dia menjalani debut di usia 16 tahun dan menjadi pemain termuda di Liga Belgia.

Sayang, peruntungan Lamptey di klub dan timnas berbanding 180 derajat. Dia jarang mendapat kesempatan bermain di Anderlecht karena adaptasi dengan budaya Eropa yang tidak mudah. Lamptey hanya mencetak 9 gol dari 30 pertarungan pada 1990-1995. Dia lebih banyak dipinjamkan ke PSV Eindhoven dan Aston Villa.



Bersama PSV, Lamptey sempat dianggap sebagai pemain yang bagus setelah mencetak 10 gol dari 22 laga Eredivisie. Penampilan bagus di Belanda membuat Lamptey kerap dilirik sejumlah klub besar Eropa. "Harapan kepada saya sangat besar ketika itu," ucap Lamptey kepada The Observer pada 2008.

Selain ekspektasi berlebih, performa Lamptey justru meredup akibat ulah sang agen nakal bernama Antonio Caliendo. Pria berpaspor Italia itu rakus. Dia hanya mengambil keuntungan finansial dari Lamptey. Caliendo mencari klub yang mau membeli kliennya dengan harga tinggi dengan harapan mendapatkan 25% dari nilai transfer. Contohnya saat membela Villa.

"Saya banyak ditipu. Saya bahkan tidak tahu jika saya berhak atas transfer fee. Pelatih Aston Villa, Ron Atkinson, yang memberi tahu saya. Di kantor klub mereka, mereka memberikannya (fee) langsung kepada saya," kata Lamptey tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Caliendo.

"Dua minggu kemudian, agen saya datang dan saya pikir dia pergi ke klub untuk mendapatkan uang. Mereka bilang mereka telah memberikannya kepada pemain. Lalu, dia (Caliendo) sangat kesal dengan saya. Ada begitu banyak orang yang menipu saya. Mereka hanya menjaga kepentingan mereka sendiri demi uang," tambah Lamptey.

Lamptey tidak bisa berbuat banyak karena pendidikan yang minim dan tidak terlalu memahami isi kontrak kerja. Latar belakang keluarga membuat Lamptey tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Dia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya pemabuk dan sering memukuli dirinya saat kanak-kanak.

Saat berusia 8 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Ibunya menikah lagi dan dirinya dibuang olah sang ayah tiri ke tempat pengungsian. Tapi, bakat yang bagus dalam sepak bola membuat Lamptey mendapatkan kesempatan bergabung dengan tim junior Ghana.

Akibat ulah sang agen yang tidak bertanggung jawab telah membuat Lamptey kerap gonta-ganti klub setelah meninggalkan Anderlecht, PSV, dan Villa. Dimulai dari Coventry City, Venezia, Union Santa Fe, Ancaragucu, Uniao Leiria, Greuther Fuerth, Shandong Luneng, Al Nasr, Asante Kotoko, hingga pensiun bersama Jomo Cosmos. Total, 13 klub diperkuat selama 16 tahun.

Lamptey pensiun dari sepakbola pada 2008. Dia sekarang memelihara sapi dan domba di sebuah peternakan di pinggiran Accra. Lamptey sempat bekerja sebagai komentator di televisi Ghana selama Piala Dunia 2014. Dia juga merangkat sebagai asisten pelatih di salah satu klub di Ghana, Sekondi Wise Fighters.

Dia juga mendirikan Glow-lamp International School. Itu adalah sekolah gratis untuk masyarakat miskin. Tujuannya, memastikan anak-anak yang kurang beruntung memiliki kesempatan  belajar membaca dan menulis. Pada 2017, sekolahnya memiliki hampir 400 murid. Dia juga memiliki akademi sepakbola yang dilatihnya sendiri di Elmina.

Lamptey mengatakan, terlepas dari segalanya, dia tidak merasa seperti pecundang, melainkan orang yang selamat yang menolak dihancurkan, dan yang tidak akan dihukum oleh Tuhan. "Pendidikan sangat penting. Pendidikan jadi masalah terbesar saya. Saat kecil saya tidak punya waktu ke sekolah. Setelah besar saya kehilangan segalanya," pungkas Lamptey.