Bento mengawali karier profesional di Indonesia. Pada 1992, Bento bergabung dengan Arseto Solo.
Miro Baldo Bento de Araujo pernah menghiasi pemberitaan media-media olahraga Indonesia pada dekade 1990-an. Pernah membela tim nasional Indonesia, Bento kemudian kembali ke kampung halamannya untuk memperkuat Timor Leste. Kini, pria kelahiran Dili, 4 Juni 1975, itu berstatus pelatih Boavista Futebol Clube.

Meski lahir dan tumbuh di Timor Timur (nama Timor Leste saat jadi wilayah Indonesia), Bento justru mengawali karier profesional di Jawa. Pada 1992, Bento bergabung dengan Arseto Solo sebagai penyerang di Galatama.

Ketika Liga Indonesia digulirkan, dia tetap setia membela Arseto. Bento bermain sangat bagus bersama Rochi Putiray di lini depan. Dia tetap berada di Stadion Sriwedari hingga tawaran membela Persija Jakarta datang pada 1998.

Hanya sebentar membela Macan Kemayoran, Bento selanjutnya bergabung dengan PSM Makassar. Dia bermain pada 1999-2002. Bento termasuk generasi emas Juku Eja ketika menjuarai Liga Indonesia 1999/2000 bersama Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Hendro Kartiko, Orizan Solossa, dan Carlos de Melo.

Selanjutnya, Bento berkelana ke sejumlah klub Liga Indonesia. Dia pernah membela Perseden Denpasar (2003), Persekaba Kabupaten Badung (2004), Persijap Jepara (2004/2005), Persim Minahasa (2006), Persiba Balikpapan (2007), Persela Lamongan (2007), PSBL Langsa (2008/2009), hingga PSIS Semarang (2010).

Berkat penampilan yang garang di kotak penalti lawan, Bento mendapatkan panggilan membela timnas senior. Salah satu momen yang tidak mungkin dilupakan Bento bersama pasukan Garuda adalah Piala Tiger 1998.

Turnamen di Vietnam tersebut dikenang sebagai salah satu sejarah kelam sepakbola di Asia Tenggara ketika Indonesia dan Thailand sama-sama ingin kalah. Pertandingan itu dikenang karena gol bunuh diri Musyid Effendi di penghujung laga yang membuat Indonesia kalah 2-3. Thailand dan Indonesia saat itu ingin menghindari Vietnam di semifinal.

Meski secara tim memalukan dan dihujat banyak orang di seluruh dunia, Bento tetap menunjukkan tajinya. Dia mengemas 3 gol saat Indonesia menghadapi Myanmar, Thailand, dan Singapura. Koleksi golnya sama dengan Aji Santoso, Aung Khine, Alfredo Razon Gonzalez, Ahmad Latiff Khamaruddin, Worrawoot Srimaka, dan Nguyen Hong Son. Mereka tertinggal 1 gol dari sang peraih sepatu emas, Myo Hlaing Win.

Ketika Timor Timur memutuskan berpisah dengan Indonesia dalam jajak pendapat yang disponsori PBB dan merdeka menjadi Timor Leste, Bento memutuskan kembali ke kampung halaman. Dia membela FC Porto Taibesse di usia 40 tahun dan bermain sebagai gelandang.

Bento sebenarnya tidak ingin bermain sepakbola lagi saat mudik karena ingin fokus berbisnis. Tapi, karena Porto adalah klubnya masa kecil, dia tidak bisa menolak. Di zaman Indonesia, Porto bernama PS Hiber, yang merupakan singkatan "Hitam Bersaudara". Klub itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal Bento di masa kanak-kanak.

Tidak lama bermain untuk Porto, Bento akhirnya benar-benar pensiun. Dia beralih profesi menjadi pelatih. Bento memulainya dengan menjadi asisten di Porto, berlanjut ke timnas Timor Leste dan Boavista. Tahun ini, dia naik kelas menjadi pelatih kepala.  

Bukti tangan dingin dan pengalaman Bento di sepakbola mampu membawa Boavista mencapai final Copa FFTL 2020 menghadapi Karketu Dili. Kompetisi yang di Inggris disebut Piala FA tersebut akan memainkan pertandingan puncak pada 17 Oktober 2020 di Estadio Cafe Gleno, Ermera. Jika sukses, itu akan menjadi gelar pertama Boavista di sepakbola Timor Leste.

"Jayalah Boavista! Hidup sepakbola Timor Leste," tulis Boavista di lama resmi Facebook miliknya untuk menyemangati para pemain yang sedang bersiap menghadapi Karketu.



Sepakbola di Timor Leste cukup unik. Meski merdeka dari Indonesia, negara di timur NTT tersebut punya riwayat hubungan yang panjang dengan Portugal. Terbukti, klub-klub sepakbola di negara tersebut mengambil nama-nama klub Portugal. Logo maupun warga jersey juga hampir sama.

Selain Porto dan Boavista, ada lagi Academica Timor yang meniru Academica de Coimbra. Lalu, Benfica Dili dan Benfica Laulara, yang meniru Benfica di Lisbon. Begitu pula Sporting Clube de Timor, yang namanya diambil dari Sporting Lisbon.

Menariknya, tidak semua klub didirikan setelah Timor Leste merdeka. Ada beberapa tim yang sudah ada sejak zaman Indonesia. Selain Porto, Boavista juga menjadi contoh klub lama yang masih eksis. Hanya saja, Porto dan Boavista adalah nama baru dari klub masa lalu.

Sebelum menjadi Boavista, klub berseragam kotak-kotak hitam-putih itu bernama Kumpulan Anak Remaja Lorosae dan didirikan pada 1986 oleh Pedro Carrascalao. Setelah sempat dibubarkan seusai Tragedi Santa Cruz, klub berubah menjadi Boavista pada 2018 dan tampil di Liga Timor Leste.