Ada tiga klaster negara Eropa yang mencalonkan. Siapa saja mereka dan bagaimana peluangnya?
Ada harga mahal yang harus dibayar Inggris akibat kejadian selama final Euro 2020. Selain denda UEFA, potensi dukungan kepada Negeri Ratu Elizabeth II untuk menggelar Piala Dunia 2030 menguap. Gantinya, Spanyol-Portugal menguat.

Inggris baru saja menggelar final turnamen internasional pertama setelah Euro 1996. Kepercayaan itu seharusnya menjadi kesempatan Inggris untuk menunjukkan kesiapan mereka dalam semua hal untuk mencuri kepercayaan publik, termasuk oleh suporter.

Namun, banyak penggemar Inggris yang berperilaku negatif saat pasukan Gareth Southgate dikalahkan Italia di final. Perilaku sembrono dari oknum suporter itu cukup memberikan gambaran buruk atas usaha Inggris mendapatkan dukungan negara-negara Eropa untuk menjadi penyelenggara turnamen internasional lain di masa depan.

Seperti yang dilaporan The Telegraph, mereka mengklaim bahwa peristiwa di Wembley itu telah menjadi kerugian besar dalam upaya Inggris untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Irlandia. Sebaliknya, itu akan memperbesar Spanyol dan Portugal.

Telegraph Sport telah diberitahu bahwa presiden UEFA lebih mendukung usaha Semenanjung Iberia (Portugal-Spanyol) dibanding Inggris-Irlandia. Mereka menyebut UEFA sangat kecewa kepada Inggris terkait banyaknya kejadian tidak mengenakkan seperti penonton tanpa tiket yang memaksa masuk, kerusuhan setelah laga, hingga aksi rasial suporter.

Spanyol dan Portugal sekarang menjadi yang terdepan untuk diajukan UEFA kepada FIFA. Otoritas sepakbola tertinggi Eropa itu berniat mendukung salah satu anggotanya untuk Piala Dunia 2030. Pemungutan suara akan dilakukan pada kongres berikutnya, Mei tahun depan, untuk memutuskan siapa yang akan dipilih.

Spanyol dan Portugal sekarang dianggap sebagai yang terdepan setelah blunder fatal Inggris dengan semboyan "Football is Coming Home", yang justru membuat fans anarkistis. Apalagi, Presiden Asosiasi Sepakbola Spanyol (RFEF), Luis Rubiales, punya pengaruh yang besar di UEFA.




Bidding Piala Dunia 2030 masih dibuka

Dulu FIFA sempat membuat regulasi yang menggilir tuan rumah Piala Dunia di enam konfederasi anggota. Meski sudah tidak diterapkan lagi, secara tidak tertulis aturan itu masih melandasi FIFA saat melakukan bidding.

Dengan Piala Dunia 2022 berlangsung di Qatar (AFC) dan Piala Dunia 2016 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat (CONCACAF), FIFA sudah menyatakan bahwa tuan rumah diprioritaskan untuk Afrika (CAF). Itu untuk memberi kesempatan Maroko mencalonkan diri lagi setelah gagal terpilih pada 2026.

Tapi, FIFA juga membuka kesempatan untuk Eropa (UEFA), Amerika Selatan (CONMEBOL), dan Oceania (OFC). Itu karena sepertinya Maroko gagal mengajak Tunisia dan Aljazair untuk menjadi penyelenggara bersama.

Untuk mengantispasi hal itu, UEFA segera menyiapkan proposal untuk negara anggotanya. Mereka berencana memilih salah satu calon tuan rumah yang akan didukung bersama. Syaratnya, tuan rumah bersama. Kandidatnya, Spanyol-Portugal (Iberia), Inggris-Irlandia (Britania Raya), dan Bulgaria-Yunani-Rumania-Serbia (Balkan).