Seangkatan Harry Kewell dan Jonathan Woodgate. Jika anda pendukung Leeds, pasti ingat!
Pada 21 September 1996, Wesley Boyle melakukan debut untuk Leeds United sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan pada saat itu. Tapi, nasib buruk dan penanganan yang kurang tepat dari fisioterapis klub saat cedera, membuat laga debut sekaligus yang terakhir.

Boyle dibeli dari Portadown pada usia 16 tahun dan bermain bersama Harry Kewell serta Jonathan Woodgate untuk Leeds U-18 saat memenangkan Piala FA Junior 1996/1997. Tapi, karier tiga sahabat itu memiliki cerita yang berbeda.

"Leeds melihat saya bermain di Liga Irlandia Utara untuk tim utama Portadown dan mengundang saya untuk uji coba selama seminggu. Lalu, saya menandatangani konytak. Sulit untuk diselesaikan, tapi saya tidak akan pernah menolak kesempatan itu," kata Boyle.

"Kami mungkin memiliki salah satu tim muda terbaik di negara ini. Setiap pemain luar biasa ingin bermain di sini. Tidak perlu seorang ahli untuk melihat Harry (Kewell) menjadi pemain hebat, dan Woody (Jonathan Woodgate) adalah pemain luar biasa lainnya di tim itu," tambah Boyle.

"Kami mengalahkan tim lain setiap minggu. Kami hanya kalah satu pertandingan musim itu. Beberapa dari kami sebenarnya sudah melakukan debut untuk tim utama pada saat itu. Saya melakukan debut, Harry (Kewell) dan (Alan) Maybury juga bermain," ungkap Boyle.

Boyle membuat debut di tim utama saat berusia 17 tahun melawan Newcastle United pada September 1996. Dia masuk sebagai pemain pengganti untuk Ian Rush, pemain yang usianya hampir dua kali dari Boyle.

Boyle berada dalam performa yang bagus untuk tim junior. Tapi, kariernya di Leed berlangsung cepat. Hanya enam bulan. Dia berada di tempat latihan ketika dipanggil oleh kepala akademi saat itu, Paul Hart.

"Saya sebenarnya bermaksud pulang akhir pekan itu untuk mengunjungi ibu dan ayah saya. Tapi, saya dipanggil ke kantor oleh Paul Hart dan dia memberi tahu saya bahwa saya masuk dalam skuad tim utama untuk pertandingan akhir pekan itu. Itu adalah kejutan besar, terutama karena saya baru berusia 17 tahun," beber Boyle.

"Pelatih tim junior mengatakan bahwa saya mungkin akan memulai debut karena Lee Sharpe mengalami cedera. Jadi, dia menyuruh saya untuk bersiap menghadapi pertandingan itu. Rasa gugup muncul, tapi saya hanya ada di bangku cadangan," ujar Boyle.

"Saya masuk selama 10 menit di akhir pertandingan. George Graham adalah pelatihnya, dan dia tidak mengatakan apa pun kepada saya. David O'Leary adalah asistennya dan dia memanggil saya dan memberi tahu saya bahwa saya akan menggantikan Ian Rush," ungkap Boyle.

"Dia mengatakan kepada saya untuk menunjukkan apa yang bisa saya lakukan, menikmatinya, itu saja," tambah Boyle.

Itu adalah moment mahal untuk Boyle, yang dimainkan dengan beban bisa menyelamatkan Leeds dari kekalahan setelah Alan Shearer mencetak gol untuk Newcastle. "Mereka menempatkan saya di depan selama beberapa menit pertama. Saya melawan Darren Peacock. Dia benar-benar hebat," kata Boyle.

"Saya sempat berduel udara dengannya, tapi dia sekitar tiga kaki lebih besar dari saya. Saya pindah ke sayap kiri dan mendapat beberapa sentuhan di sudut. Tapi, pertandingan berjalan begitu saja dalam sekejap mata. Kami dikalahkan 0-1 oleh tim hebat yang berisikan (David) Ginola, (Faustino) Asprilla, Keith Gillespie, dan David Batty," ungkap Boyle.




Tidak ada lagi kesempatan yang didapat

Sayang bagi Boyle dan pemain-pemain seangkatannya. Peluang untuk menjadi bintang muda di Leeds terhambat karena Hart dan Graham berselisih paham tentang anak-anak muda ini. "Saya pikir perselisihan antara pelatih tim junior dan tim utama benar-benar menghambat kemajuan beberapa pemain," kata Boyle.

"Kami bermain bagus sepanjang musim itu dan biasa bermain melawan tim utama setiap hari Jumat dalam pertandingan latihan kecil yang selalu mengesankan. Paul Hart berusaha untuk memasukkan Woody ke dalam tim. Tapi, George Graham tidak memasukkannya, itu ada hubungannya," kata Boyle.

"Pelatih tim junior akhirnya meninggalkan tim di musim berikutnya. Kemudian, dia pergi untuk melatih di Nottingham Forest setelah kami memenangkan Piala FA Junior," tambah Boyle.

Woodgate terus mendapatkan kesempatan bermain setelah itu. Sementara Boyle tidak tampil lagi karena cedera. Itu diperparah oleh saran yang diberikan staf medis Leeds.

"Cedera pertama yang saya alami ada di betis saya, yang membutuhkan operasi, dan itu membuat saya absen selama beberapa bulan. Sekitar enam bulan kemudian saya mendapat cedera yang pada dasarnya menghancurkan karier saya di Leeds. Tulang saya keluar di tumit kiri dan harus menjalani operasi dua kali. Itu membuat saya absen selama dua tahun lebih," ungkap Boyle.

"Melihat ke belakang, saya bahkan tidak berpikir bahwa saya membutuhkan operasi. Dokter bedah mengatakan saya akan kembali dalam enam minggu. Tapi, setelah tulang tumit anda keluar, itu tidak akan terjadi," beber Boyle.

"Saya hanya melakukan apa yang dikatakan klub. Saya bahkan tidak berjalan dengan nyaman selama setahun setelah itu. Apalagi kembali berlatih dalam enam minggu. Mereka menjalani operasi lagi karena pertumbuhan tulang kecil pada tulang tumit saya dan mereka harus mengambilnya lagi. Itu adalah mimpi buruk bagi saya," lanjut Boyle.

"Tumit saya memiliki bentuk yang berbeda. Bahkan, tendon achilles menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Ini pasti akan menghentikan karier saya. Klub mengistirahatkan saya dari November hingga akhir musim karena mereka mengatakan fisioterapis tidak dapat melakukan apa pun untuk saya dan saya harus beristrahat total," ungkap Boyle.


Harapan singkat yang kembali menguap

Kembali ke sepakbola terlihat seperti tidak mungkin untuk Boyle, dan akhirnya Leeds memecat fisioterapis mereka karena penanganan yang buruk terhadap situasi tersebut. Boyle memiliki harapan untuk kembali ke olahraga yang dia cintai.

"Saya kembali musim depan dan mencoba bermain lagi. Tapi, masih sakit sehingga mereka memberi saya opsi operasi ketiga untuk rekonstruksi tumit. Tapi, fisio itu dipecat oleh Leeds karena dia sama sekali tidak berguna, dan fisio baru datang dari Blackburn, Dave Hancock, yang langsung mengatakan bahwa saya tidak boleh menjalani operasi itu karena saya tidak akan bisa berjalan dengan baik," kata Boyle.

"Dia memberi saya enam bulan rehabilitasi dan membuat saya kembali bermain musim itu. Dia hebat, dan saya mendapat kontrak satu tahun untuk membuktikan diri saya. Tapi, kemudian saya mengalami cedera di pergelangan kaki saya," tambah Boyle.

Leeds sukses mencapai semifinal Liga Champions 2000/2001. Tapi, Boyle hanya bisa menonton dari meja perawatan. Itu pasti diluar bayangan Boyle. "Itu adalah saat-saat yang menyenangkan bagi klub. Mereka bermain di Liga Champions, naik ke puncak Liga Premier, dan itu membuat saya frustrasi," ujar Boyle.

"Semua pemain tim junior mendapatkan kesempatan bermain di tim utama. Sedangkan saya yang berada di atas mereka sejak awal justru tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya terjebak di ruang fisio dari pukul sembilan hingga lima sore setiap hari dan menghabiskan berjam-jam di gym sendirian. Itu sedikit mimpi buruk," ungkap Boyle.

Setelah sembuh, Boyle meninggalkan Leeds. Dia sempat menjalani masa percobaan di Rushden and Diamonds serta Hull City. Tapi, semuanya tidak membuahkan hasil. Kemudian, di kembali ke Irlandia Utara, ke klub kanak-kanaknya, Portadown.

Di sana, Boyle memenangkan liga dan bermain di Eropa. Dia menghabiskan 200 penampilan untuk klub. "Saya senang masih memiliki karier. Saya pikir banyak orang akan menyerah dengan cedera itu," ucap Boyle.

"Saya melihat ke belakang dan berpikir betapa senangnya saya memiliki ketahanan untuk kembali dari semua cedera itu. Tapi, saya terus berjalan karena saya ingin bermain sepakbola," pungkas Boyle.