Awalnya memiliki tujuan mulia. Tapi, politik praktis membuat mereka tersesat. Ini kisahnya.
Masih ingat sejumlah insiden rasialis saat Budapest jadi salah satu venue Euro 2020? Begitu pula saat Inggris tandang ke Hungaria di Kualifikasi Piala Dunia 2022? Yang paling baru saat The Three Lions giliran menjamu The Magical Magyars di Wembley. Semua itu ulah Carpathian Brigade.

Ketika Hungaria menjamu Prancis dalam hasil imbang 1-1 di Euro 2020, Carpathian Brigade juga melakukan nyanyian rasialis yang ditujukan kepada Kylian Mbappe dan Karim Benzema.

Selanjutnya, dalam pertandingan melawan Portugal, sebagian dari penonton Hungaria meneriakkan: "Cristiano Ronaldo, homoseksual!" Kemudian, sekelompok suporter yang berpakaian hitam-hitam membentangkan spanduk yang bertuliskan: "Anti LMBTQ" (LGBTQ+ dalam Bahasa Hungaria). 

Lantas, siapakah sebenarnya kelompok suporter bengal ini? Carpathian Brigade adalah Ultras yang memayungi para suporter garis keras dari berbagai klub sepakbola di kompetisi Hungaria. Carpathian Brigade dibentuk pada 2009 dan seharusnya menjadi kelompok yang humanis dan pluralis.

"Kelompok itu ada sebagai upaya yang didukung pemerintah untuk menyatukan seluruh Ultras (milik) klub dengan tujuan agar mereka tidak terlalu radikal," kata Csaba Toth, seorang jurnalis untuk situs berita independen di Hungaria, Azonnali.



Sama seperti banyak kelompok Ultras di seluruh Eropa, Hungaria juga selalu memiliki kecenderungan neo NAZI. "Mereka diberitahu untuk tidak mengekspresikan dukungan kepada NAZI. Sebaliknya, semangat mereka disalurkan ke jalur propaganda pemerintah yang lebih halus seperti homofobia, transfobia, antiimigran, rasialis, hingga kontra Black Lives Matter," tambah Toth.

"Masyarakat penggemar sepakbola di Hungaria pada dasarnya adalah nasionalis. Kami sangat mencintai negara kami. Dan, kami bangga akan hal itu," kata seorang perwakilan dari kelompok neo NAZI, Legio Hungaria, kepada Bellingcat pada September 2021. 

Carpathian Brigade  seharusnya berbeda. Mereka sengaja didirikan untuk menyatukan semua orang. Kiri, liberal, dan kanan, seharusnya sama saja bagi mereka. "Ini bukan massa yang homogen," kata Gergely Marosi, dosen jurnalisme olahraga di Universitas Budapest. 

"Sejak 2008, semakin banyak penggemar yang menonton timnas. Itu menyebabkan jumlah penonton di stadion kami meningkat tajam. Saya percaya beberapa diantaranya adalah karena Carpathian Brigade, dan hasilnya menjadi lebih baik," tambah Marosi.

Pemerintah Hungaria secara terbuka mengatakan tidak terganggu dengan apa yang diperjuangkan Carpathian Brigade di stadion. Itu menyebabkan kedua belah pihak terus saling mendukung.

Saat membela fans Hungaria yang mencemooh berlututnya para pemain Irlandia dalam sebuah laga uji coba sebelum Euro 2020, Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, menyebut tidak ada yang salah dengan orang-orang di negaranya. "Orang Hungaria hanya berlutut di hadapan Tuhan, tanah air, dan ketika mereka melamar kekasih yang mereka cintai," kata PM Orban.

Akibat pernyataan itu, bendera-bendera Hungaria dengan tulisan "Kami hanya berlutut untuk Tuhan" terlihat di jalan-jalan Budapest sebelum pertandingan melawan Inggris bulan lalu. 



Bahkan, setelah pelecehan rasialis selama pertandingan melawan Inggris bulan lalu, Menteri Luar negeri Hungaria, Peter Szijjarto, memposting di Facebook yang mengkritik pemain Inggris karena "mengeluh"  tentang suasana permusuhan di Bundapest. Dia membandingkannya dengan ejekan fans The Three Lions saat lagu kebangsaan Italia diperdengarkan selama final Euro 2020.

"Pemerintah tidak mengkritik mereka karena akan berisiko membuat Carpathian Brigade berantakan, dan kelompok sayap kanan yang kurang terkendali akan muncul kembali," jelas Toth.

Warisan Ultas di Hungaria sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu. Tapi, gerakan tersebut tidak pernah memiliki kekuatan kolektif seperti saat ini. Hanya karena tidak ada simbol neo-NAZI yang ditampilkan di pertandingan tim nasional, bukan berarti sentimen itu tidak ada.

Di bawah pemerintahan Hungaria saat ini,  Carpathian Brigade menjadi semakin berani dan telah membangun aliansi yang dulunya tampak tidak terpikirkan. Mereka menjadi semacam bonek pemerintahan sayap kanan dalam memainkan isu yang akan mendulang suara di pemilihan umum.