Ini mirip beberapa klub Indonesia. Beli lisensi dan langsung promosi ke kasta tertinggi.
Jika di Jerman ada RB Leipzig, maka di Rusia terdapat FC Sochi. Sama-sama tidak punya sejarah, membeli lisensi klub lain, didanai orang kaya, dan sekarang menjadi salah satu kekuatan di kompetisi domestik. Bedanya, The Leopards punya tujuan politik.

Meski baru berdiri tiga tahun, klub dari pesisir ini telah meroket menjadi penantang sejati gelar di Liga Premier Rusia. Di klasemen sementara Sochi berada di posisi kedua, hanya terpaut dua poin di belakang juara bertahan, Zenit Saint Petersburg. Bahkan, awal bulan ini mereka mengalahkan Zenit.

Sochi tidak juga tidak pernah malu untuk bermimpi besar. Bahkan, jika tren ini terus berlanjut, Kualifikasi Liga Champions bisa mereka mainkan musim depan.

Tapi, mengapa Sochi menarik? Ini adalah kasus aneh. Keberadaan mereka di kota wisata musim dingin itu bukan karena warganya menyukai sepakbola. Bukan pula karena bisnis. Mereka hadir sebagai hasil dari keputusan politik yang dibuat Presiden Rusia, Vladimir Putin, menjelang Piala Dunia 2018.

Pemerintah Rusia membutuhkan tim yang bermain di Fisht Olymopic Stadium, yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia. Enam pertandingan telah dimainkan di stadion ini selama turnamen, termasuk saat Spanyol dan Portugal bermain imbang 3-3. Di pertandingan itu Cristiano Ronaldo mencetak hattrick.

Tanpa ada klub sepakbola di sana, pemerintah khawatir animo penonton akan minim. Jadi, mereka memutuskan membentuk sebuah tim profesional dengan membeli klub asal Saint Petersburg yang main di kasta kedua, Dynamo Saint Petersburg.

"Itu adalah instruksi dari atas. Saint Petersburg tidak pernah menginginkan ada lebih dari satu klub. Jadi, mereka hanya mendukung Zenit. Dynamo tidak memiliki infrastruktur yang layak di sana. Jadi, mereka menjualnya," kata Ivan Zhidkov, Pemimpin redaksi Sport Den Za Dnem, dilansir Goal. 

"Di sisi lain, penting untuk mencegah Fisht Olympic Stadium menjadi stadion yang berhantu (karena tidak digunakan). Itu karena ini benar-benar stadion modern yang luar biasa. Salah satu yang terbaik di negara ini," tambah Zhidkov.

Atas perintah Putin, salah satu pengusaha terkaya Rusia yang dekat dengan linkaran dalam Kremlin, Boris Rotenberg, diinstruksikan untuk menjadi pemilik Sochi.

Dengan "bantuan" rezim yang berkuasa, Sochi tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun merangkak dari kompetisi paling bawah untuk naik ke Liga Premier Rusia. Mirip dengan klub-klub Indonesia yang ingin hasil instan, Sochi juga membeli lisensi Dynamo sehingga bisa tampil di kasta kedua (Liga Nasional Rusia) 2018/2019.

Hanya butuh satu musim, Sochi sudah tampil di Liga Premier Rusia 2019/2020 dengan menjuarai Liga Nasional Rusia 2018/2019. Mereka dipromosikan ke kasta tertinggi setelah membangun skuad yang kuat dengan bantuan Zenit. Pada musim panas 2019, tidak kurang dari delapan pemain Zenit pindah ke Sochi, beberapa dengan status pinjaman.

Kemudian secara luas diasumsikan oleh penggemar bahwa Gazprom, perusahaan minyak raksasa milik negara, memiliki semacam kepentingan finansial di tim itu. Sochi dianggap sebagai anak Zenit, yang pemiliknya adalah Gazprom.

Fans datang untuk mengharapkan Sochi kalah dari Zenit dan menunjuk empat kekalahan dalam beberapa musim pertama mereka sebagai bukti teori itu. Tapi, klub benar-benar independen satu sama lain, pejabat Sochi membantah tuduhan tersebut.

Sekarang, setelah mencatatkan kemenangan pertama atas Zenit, Sochi dilihat sebagai pesaing yang sah untuk meraih gelar Liga Premier Rusia 2021/2022. Itu juga menunjukkan kemajuan mereka yang luar biasa.

Sochi menjadikan musim 2019/2020 untuk beradaptasi dengan Liga Premier Rusia. Musim lalu Sochi dipimpin oleh pelatih cerdik, Vladimir Fedotov. Mereka finis di urutan kelima sehingga lolos ke Liga Konferensi Eropa. Sayang, mereka disingkirkan Partizan Belgrade melalui adu penalti tepat sebelum babak penyisihan grup.



"Sochi tidak memiliki skuad terkuat di liga. Tapi,  mereka dikelola dengan sangat baik dan memiliki strategi yang solid, tidak seperti banyak klub besar lainnya. Fedotov adalah pelatih yang sangat baik. Dia bekerja selaras dengan direktur olahraganya, Andrey Orlov," ungkap Zhidkov.

"Ada atmosfer yang sehat di klub. Itu tidak akan menjadi kejutan besar jika mereka tetap berada di dekat puncak klasemen hingga akhir musim," tambah Zhidkov.

Masalah utama Sochi adalah berada di kota yang penduduknya tidak terlalu menyukai sepakbola. Klub sebelumnya, Zhemchuzhina Sochi, hanya bermain di divisi teratas pada 1992 dan 2000, sebelum dibubarkan pada 2003.

"Fisht Olympic Stadium terlalu jauh dari pusat kota dan tidak mudah untuk pergi dan menonton sepakbola. Tapi, resort Laut Hitam cukup populer di kalangan penggemar tandang ketika klub besar seperti Zenit dan Spartak Moscow bermain di sana. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendukung tim anda dan merencanakan liburan pada saat yang sama," kata Zhidkov.

Hanya empat pemain yang pindah langsung dari Zenit. Yang terbaik dari mereka adalah pemain veteran dan jenderal lini tengah asal Ekuador yang kini berusia 36 tahun, Christian Noboa. Dia telah bermain di Rusia sejak 2007, memenangkan dua gelar kejuaraan bersama Rubin Kazan.

Generasi muda Amerika Selatan diwakili oleh striker Kolombia berusia 24 tahun, Mateo Cassierra, yang dibuang oleh Ajax Amsterdam dan didatangkan pada musim panas dari Belenenses hanya dengan 1 juta pounds (Rp 19,4 miliar). Dia telah mencetak tiga gol dalam lima pertandingan, termasuk versus Zenit dan Rostov.

Namun, beberapa penggemar sepakbola di Rusia melihat Sochi sebagai alat politik dan tidak menyukai proyek tersebut karena dicurigai memiliki hubungan dengan Zenit. Mereka disebut "klub plastik", yaitu klub tanpa penggemar dan tanpa masa lalu. Tapi, mereka pasti memiliki masa depan.