Jika anda pendukung Arsenal sejak zaman prasejarah, anda pasti tahu pemain ini.
Arsenal pernah berjaya di Liga Premier. Bahkan, untuk menandai kesuksesan tersebut The Gunner sempat dijuluki The Invicibles. Itu mengacu hasil musim 2003/2004 yang tak terkalahkan. Tapi, tidak semua anggota skuad tersebut sukses di kemudian hari. Contohnya, Ryan Garry.

Garry bergabung dengan Akademi Arsenal pada 1999, memenangkan Piala FA Junior 2000/2001, melakukan debut seniornya di Piala Liga pada 2002, dan kemudian menjalani debut Liga Premier pada 7 Mei 2003. Arsenal mengalahkan Southampton 6-1 hari itu dalam pertandingan pertama dari 49 pertandingan tak terkalahkan "The Invincibles".

Tapi, itu juga adalah awal dari empat tahun cedera Garry. Dia tidak akan pernah bermain untuk klub lagi sejak saat itu.

"Setelah melakukan debut (di Piala Liga) saya terlibat dalam sebagian besar sesi latihan tim utama. Saya ingat, tepat setelah Natal, Arsene Wenger memberi tahu saya bahwa saya akan bersama tim utama setiap sesi latihan. Saya tahu saya akan bermain (versus Southampton) sehari sebelumnya karena Ashley (Cole) mengatakan kepada saya bahwa dia tidak akan bermain," ungkap Garry, dilansir Planet Football.

"Saya ingat pergi ke hotel sebelum pertandingan. Pertemuan prapertandingan didasarkan pada pemain yang akan saya awasi, pemain sayap Prancis bernama Fabrice Fernandes. Dia adalah pemain terbaik mereka dan saya harus menghentikannya," tambah Garry.

"Saya benar-benar menikmati pengalaman itu. Ini adalah debut Liga Premier, pertandingan malam di bawah lampu sorot. Itu berjalan sangat cepat dan itu adalah permainan yang luar biasa," lanjut Garry.

Setelah mewujudkan mimpinya di Highbury, segalanya berubah. Dia dibekap masalah cedera serius. "Menjelang pertandingan itu, mungkin enam minggu sebelumnya, tulang kering saya sakit. Itu bukan rasa sakit yang hebat, tapi itu membuatku tidak nyaman," ujar Garry.

"Karena cara musim berjalan, karena saya melakukannya dengan baik, tim medis mengatakan kami akan mencapai akhir musim dan kemudian menyelidikinya lebih lanjut. Saya pergi menemui seorang spesialis dan saya mengalami beberapa fraktur stres di kedua tulang kering, sehingga ketidaknyamanan itu jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan orang," ungkap Garry.

"Saat itulah segalanya berubah bagi saya dalam hal kesehatan dan kebugaran. Itu adalah awal dari tiga musim tanpa aktivitas, banyak operasi, banyak rehabilitasi," ucap Garry.

"Saya menghabiskan 10 bulan mencoba menyembuhkan tulang secara alami. Saya harus berlari pada fraktur stres untuk mencoba dan mendapatkan tulang untuk merangsang reaksi untuk sembuh," beber Garry.

"Sayanya itu tidak berhasil. Jadi, saya harus menjalani operasi yang cukup serius. Mereka memasang paku tibia melewati tendon patela a dan kemudian paku di tengah tibia dekat sumsum tulang anda berada. Jadi, mereka mengeluarkan sumsum tulang, lalu mereka memasang paku. Saya sudah melakukannya pada kedua tulang kering," ungkap Garry.

Garry akhirnya kembali berlatih. Tapi, dia segera keluar selama empat bulan dengan sindrom kompartemen karena fasia di tungkai bawah tidak berkembang selama latihan. Itu memaksanya untuk menjalani lebih banyak operasi.

Lebih dari tiga tahun sejak debutnya di Liga Premier, Garry sempat dimainkan lagi. Dia masuk sebagai pemain pengganti  untuk pertandingan Piala Liga melawan Everton pada November 2006. Tapi, kontrak Garry hampir berakhir dan nasib buruk menimpa lagi saat kakinya patah saat menghalangi tembakan dalam latihan. Dia menderita patah tulang spiral.

"Saya pergi menemui pelatih dan dia menunjukkan banyak perhatian serta empati. Dia mendukung, tapi dia bilang dia tidak bisa menawarkan saya kontrak lagi. Itu bukan salah saya. Saya tidak fit selama tiga tahun," ujar Garry.

"Tapi, dia mengatakan kepada saya bahwa saya bisa tinggal di Arsenal selama yang saya butuhkan sampai saya benar-benar fit dan mendapatkan klub lain. Jadi, saya tahu saya mendapat dukungan untuk membuat saya menjalani rehabilitasi," beber Garry.




Kehidupan setelah meninggalkan Arsenal

Empat tahun setelah debutnya di Liga Premier, waktu Garry di Arsenal sudah habis. Hampir tak Terkalahkan, tubuhnya terbukti tidak ada apa-apanya. Untungnya Bournemouth menawarinya kesempatan untuk terus bermain di League One. Tapi, mereka membutuhkan bek.

"Saya ditawari uji coba di Bournemouth dan tinggal selama enam minggu. Itu adalah uji coba yang panjang karena mereka ingin memeriksa kebugaran saya. Pertandingan terakhir saya adalah debut saya di Liga Premier. Jadi, anda tidak tahu pemain seperti apa yang anda dapatkan. Saya menandatangani kontrak enam bulan. Jadi, saya cukup beruntung," kata Garry.

"Kemudian, setelah 10 hingga 15 pertandingan, saya mengalami patah kaki yang sama. Saya berpikir, 'Wow, tidak lagi'. Tapi, itu adalah jeda yang berbeda, itu adalah jeda yang bersih, jadi saya tidak menggunakan gips, hanya pelindung biasa," ujar Garry.

Garry kembali beraksi sebelum akhir musim. Tapi, itu adalah waktu yang sulit bagi Bournemouth karena mereka mengalami degradasi dan masalah administrasi.

Sang bek tetap bertahan dan membuat 26 penampilan pada musim berikutnya di League Two dan kemudian 37 penampilan lagi pada musim setelah itu. Dia menikmati waktunya di klub dan menjadi ayah dari dua anak saat tinggal di pantai selatan.

Tapi, pada usia 27 tahun Garry terpaksa berhenti bermain. Itu terjadi hanya sehari karena masalah saraf yang terus-menerus di kakinya yang disebabkan oleh banyak cedera dan cedera, serta operasi.

Simpati dengan nasib Garry, Pelatih Bournemouth, Lee Bradbury, menawari pekerjaan kepelatihan, bekerja dengan tim muda di pusat keunggulan. Dia dengan cepat berkembang menjadi pelatih tim utama dan pada 2013 menyelesaikan lisensinya. Lalu, kembali ke Akademi Arsenal untuk menjadi salah satu staf pelatih.

"Saya berbicara dengan salah satu pelatih di Arsenal ketika saya cedera. Tapi, saya tidak memulai pelatihan saya saat itu karena saya selalu harus melakukan rehabilitasi," kata Garry.

"Selama salah satu musim panas di Bournemouth, saya berbicara dengan Joe Roach, pelatih muda, dan dia memberi tahu saya bahwa PFA menjalankan kursus. Saya mengikuti kursus dan sangat menikmatinya. Sangat berbeda dengan menjadi pemain," beber Garry.

"Ini adalah musim kelima saya di Arsenal. Grup utama saya adalah U-15. Tapi, saya telah melakukan beberapa peran. Saya telah melatih U-13 selama tiga musim, menjadi asisten U-19 di Liga Champions Junior selama dua musim," tambah Garry.

"Saya bergabung pada usia delapan dan pergi pada usia 22, 23 tahun. Jadi, saya menghabiskan banyak waktu di sini sebagai pemain. Untuk kembali ke sini sebagai pelatih, saya merasa sangat beruntung. Kami memiliki fasilitas yang fantastis di Hale End dan Colney. Di sini, tim utama berbasis dengan 23 dan 18," lanjut Garry.

"Saya dapat melakukan percakapan dengan pemain mana pun ddi sini. Saya dapat memahami posisi mereka seperti yang pernah saya lakukan di sana," kata Garry sekali lagi.

"Apakah itu para pemain yang telah memainkan beberapa pertandingan, tapi tidak bermain secara konsisten dan mereka berpikir 'apa yang harus saya lakukan untuk masuk?' atau pemain yang bertanya-tanya apakah mereka akan mendapatkan beasiswa atau tidak, atau bahkan mereka yang dibebaskan yang bertanya-tanya tentang langkah mereka selanjutnya. Saya pernah berada di posisi mereka," pungkas Garry.