Selamat Ulang Tahun!

Profil Sadio Mane, Pakai HP Retak Meski Gaji Rp 2,6 Miliar per Minggu

"Dengan gajinya itu, Mane bisa membeli 150 smartphone paling mahal sekalipun setiap minggunya."

Biografi | 17 January 2020, 10:54
Profil Sadio Mane, Pakai HP Retak Meski Gaji Rp 2,6 Miliar per Minggu

Libero.id - Kesederhanaan meski harta berlimpah menjadi kelebihan utama Sadio Mane. Striker Liverpool asal Senegal itu diketahui membawa iPhone yang sudah retak meskipun bergaji 150 ribu pounds (Rp 2,6 miliar) per pekan. Dengan gajinya itu, Mane bisa membeli 150 smartphone paling mahal sekalipun setiap minggunya.

Sadio Mane dikenal sebagai muslim taat. Dia merayakan gol yang dicetak dengan sujud syukur di lapangan. Musim lalu, seseorang memergoki Sadio Mane membersihkan toilet sebuah masjid di Liverpool usai dia mencetak gol melawan Leicester.
 
Gaji tahunan Sadio Mane sebesar 7,8 juta pounds setahun. Masih kalah dari rekan setimnya Mohamed Salah, Virgil van Dijk atau Roberto Firmino.

Kemiskinan yang dialami pada masa lalu tidak membuat Sadio Mane silau harta. “Buat apa saya memiliki 10 Ferrari, 20 jam tangan permata atau dua pesawat pribadi? Apa gunanya barang-barang ini buat saya dan buat dunia,” kata Mane suatu ketika.

Siapa sesungguhnya Sadio Mane? Selain bermain untuk Liverpool di Liga Primer Inggris, Sane juga membela Tim Nasional Senegal. Sadio Mane dikenal karena postur kecil yang bikin dia lincah. Dia memiliki kecepatan, kekuatan, dribel, dan keterampilan luar biasa mencetak gol. Insting golnya tinggi.

Mane berkembang menjadi salah satu penyerang terbaik di dunia dengan gaya hidup sederhana.

Sadio Mane lahir pada 10 April 1992 di Sedhiou, Senegal. Dia tumbuh di sebuah desa kecil bernama Bambali yang terletak di Senegal bagian selatan. Orang tuanya yang sangat miskin memiliki lebih banyak anak untuk diasuh sehingga Mane harus tinggal bersama pamannya. Dia mengawali bakat dengan bermain sepak bola jalanan.

Libero.id

Sadio Mane tampak membawa ponsel yang sudah retak layarnya.

Sungguh sedih, dia tidak bisa pergi ke sekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayainya. Waktu luang diisi dengan bermain sepak bola di jalan-jalan berdebu di desanya setiap pagi, bahkan di senja hari sebelum matahari terbenam.

Satu situasi yang menarik minatnya untuk menjadi pemain sepak bola profesional adalah ketika dia menyaksikan laga Tim Nasional Senegal di Piala Dunia. Tentu saja lewat televisi. Saat itu Senegal mencapai perempat final, bahkan mengalahkan juara dunia Prancis di babak penyisihan grup. Sebuah catatan gemilang mengingat Senegal bermain di piala dunia untuk pertama kali. 

Sukses Senegal membuat Mane serius dalam menekuni sepakbola. Pada awalnya, orang tuanya menentangnya. Mereka merasa punya rencana lain untuk putra mereka di luar sepak bola. Tetapi Mane tidak sependapat dengan orangtua. Berkat kegigihan Mane, orangtua tidak bisa menutup keinginan anaknya.

Mereka akhirnya mendukung putra mereka dengan menjual hasil pertanian demi mengumpulkan uang agar Mane masuk ke sebuah akademi sepakbola di Dakar.

Tidak lama kemudian beberapa pencari bakat Prancis menemukan Mane. Dia hijrah dari Generation Foot, akademi sepak bola itu, ke Prancis untuk bermain untuk Metz di Ligue 2. Dia memainkan 19 pertandingan untuk Metz, mencetak 1 gol. Selama di Metz, Mane satu tim dengan Kalidou Kolibaly, benteng pertahanan tangguh milik Napoli.

Setelah penampilannya di Metz, Mane pindah ke Red Bull Salzburg untuk bermain di Bundesliga Austria dengan harga transfer 4 juta euro. Ini adalah pendapatan terbesar ketiga dari transfer untuk Metz sepanjang sejarah klub. 

Pada 27 Oktober 2012, ia mencetak hat-trick pertama dalam karir seniornya saat timnya menang 3-1 melawan Kalsdorf di putaran ke-3 Piala Austria. Dan pada Mei 2014, ia telah mencetak 31 gol dalam 63 penampilan untuk Salzburg. Musim 2013-2014 itu mereka memenangkan gelar double domestik. Pada saat itu Mane menyadari tantangan besar menunggunya di depan mata. 

Pada 1 September 2014, Mane hijrah ke Southampton setelah menandatangani kontrak 4 tahun untuk bermain di Liga Primer Inggris. Southampton harus merogoh kocek 12 juta pounds demi Mane. Pertandingan pertamanya untuk Southampton adalah dalam kemenangan 2-1 melawan Arsenal di Piala Liga. Dia melakukan debut Premier League dalam kemenangan 2-1 atas Queens Park Rangers, di mana dia memberikan assist untuk gol pertama  Southampton.

Pada 16 Mei 2015, Mane mencetak hat-trick dalam kemenangan 6-1 melawan Aston Villa. Dia hanya butuh 2 menit 56 detik untuk mencetak semua 3 gol dan menjadi hat-trick tercepat di Liga Primer. Mane menyelesaikan musim dengan 10 gol di semua kompetisi.

Musim 2015-16, Mane mencetak 15 gol di semua kompetisi untuk menjadi pencetak gol terbanyak Southampton untuk musim itu. Ini adalah musim terakhirnya di klub sebelum hengkang ke Liverpool.

Mane bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2016 dan menandatangani kontrak 5 tahun. Untuk memboyongnya, Liverpool membayar 34 juta poundsterling ke Southampton sehingga membuatnya menjadi pemain Afrika termahal saat itu.

Debut Mane dijalani dengan mencetak gol kemenangan dalam pertandingan menegangkan melawan Arsenal yang berakhir 4-3. Dia kemudian mencetak satu-satunya gol dalam derbi Merseyside melawan Everton, sebelum mencetak 2 gol untuk mengalahkan Tottenham Hostpur. Dia menutup musim dengan 13 gol liga dan mendapatkan satu posisi di tim terbaik musim tersebut. Dia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Liverpool musim tersebut.

Pada 2018, Mane menjadi bagian dari kuartet bersama Firmino, Coutinho dan Salah, tetapi kuartet itu berubah menjadi trio ketika Philippe Coutinho memilih merumput dengan Barcelona selama jendela transfer Januari. Mane mencetak hat-trick pertamanya untuk Liverpool dalam kemenangan tandang 5-0 lawan Porto di babak 16 Liga Champions. Mane berhasil menyamakan kedudukan sebelum kalah 1-3 dari Real Madrid dan menjadi pemain Senegal pertama yang mencetak gol di final Liga Champions.

Pada November 2018, Mane diberi perpanjangan kontrak, dan pada bulan Maret, ia mencetak gol kompetitif ke-50 sebagai pemain Liverpool dalam kemenangan 4-2 melawan Burnley. Tiga hari kemudian dia mencetak dua gol dalam kemenangan 3 - 1 melawan Bayern Munich, untuk membantu timnya lolos ke perempat final Liga Champions. 

Pertandingan terakhir Mane di Liga Primer musim itu diiringi dengan mencetak dua gol saat kemenangan 2-0 atas Wolverhampton Wanderers. Ini membuat Mane mengakhiri musim dengan 22 gol dan satu dari tiga pemain untuk berbagi sepatu emas. Musim semakin sempurna setelah Liverpool meraih gelar Liga Champions dengan mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0.

Bersama tim nasional, Mane berkiprah pertama kalinya di Olimpiade 2012 dan dikalahkan 2-4 oleh Meksiko di perempat final. Dia kemudian bermain di Piala Afrika Antar Bangsa 2017 tetapi timnya kalah adu penalti dengan Kamerun di perempat final. Dia juga bagian dari skuad 23 pemain untuk Senegal di Piala Dunia 2018 yang mencetak satu gol melawan Jepang dengan hasil imbang 2 - 2. Dia sekali lagi mewakili Senegal di Piala Afrika 2019 dan berperan penting menuju final sebelum kalah 0-1 dari Aljazair. Dengan penampilannya yang luar biasa, Mane dianugerahi Pemain Terbaik Afrika  pada 7 Januari 2020, menjadi orang Senegal kedua yang memenangkan penghargaan prestisius.

Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan pribadi Mane, selain dia seorang Muslim yang taat. Dia tampaknya fokus sepenuhnya pada karir sepakbolanya untuk saat ini. Tak lupa, dia mempertahankan statusnya sebagai dermawan. 

“Saya membangun sekolah, stadion, menyediakan baju, sepatu, makanan untuk orang-orang miskin. Saya menyumbang 70 euro per bulan untuk semua orang di wilayah sangat miskin di Senegal,” tuturnya. Sungguh, seorang pemain bola berhati mulia.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan