Beda dengan VAR, alat ini lebih akurat dan tidak butuh waktu lama saat menentukan off side.
Penggunaan teknologi untuk membantu ofisial dalam membuat keputusan off side agar lebih akurat akan segera diujicoba di Piala Arab 2021, 30 November-18 Desember 2021. Jika sukses, alat ini akan melengkapi VAR, yang sudah terlebih dulu digunakan. 

Untuk menjawab kritikan banyak kalangan terhadap kelemahan VAR yang kerap memunculkan kontroversi di berbagai pertandingan tim nasional maupun liga-liga papan atas dunia, FIFA merespons dengan menyiapkan teknologi baru. Jika sukses di Piala Arab, alat ini bisa digunakan di Piala Dunia 2022. 

"VAR memiliki dampak yang sangat positif dalam sepakbola dan angka kesalahan wasit akakn berkurang. Tapi, ada hal ketika itu dapat ditingkatkan, dan off side adalah salah satunya," kata wasit legendaris Italia yang kini memimpin Komisi Wasit FIFA, Pierluigi Collina, dilansir BBC Sport.

"Kami sadar proses untuk memeriksa off side bisa memakan waktu lebih lama dari keputusan lain, terutama ketika itu sangat cepat. Kami juga menyadari bahwa posisi garis mungkin tidak 100% akurat. Jadi, FIFA sedang mengembangkan teknologi yang dapat memberi jawaban dengan lebih cepat dan akurat," tambah Collina.

Sejak diperkenalkannya VAR di liga-liga besar Eropa, keputusan off side menjadi salah satu yang paling kontroversial. Itu beberapa gol dianulir dengan margin sangat tipis. Gol Roberto Firmino untuk Liverpool ke gawang Aston Villa pada 2019, misalnya, dianulir karena ketiaknya off side. Ada lagi yang hanya gara-gara jari. 

Lalu, bagaimana alat ini bekerja? Alat deteksi off side semiotomatis (semi-automated off side technology) ini bekerja dengan menggunakan bantuan antara 10 hingga 12 kamera yang akan menunjukkan 29 titik untuk setiap pemain hingga 50 kali per detik. 

Jika melihat potensi off side, peringatan akan dikirim ke VAR dan akan ditanyangkan ulang untuk dianalisis sebelum akhirnya memberi tahu wasit utama.

"Ini dikenal sebagai off side semiotomatis. Untuk off side, keputusan akan diambil setelah menganalisis posisi pemain, dan juga keterlibatan mereka dalam permainan. Teknologi ini bisa menarik garis, tapi penilaian tetap di tangan wasit. Ini tetap krusial," ungkap Collina.



Awalnya, uji coba alat ini berjalan pada 2020. Tapi, terganggu pandemi Virus Corona sehingga haru mundur hingga 2021. Beberapa tes pendahuluan telah dilakukan di Inggris, Spanyol, dan Jerman.

Piala Arab, yang diikuti 16 tim dan dipentaskan di enam stadion di Qatar, adalah event uji coba paling signifikan untuk teknologi tersebut. "Ini didasarkan pada teknologi pelacakan anggota badan," kata Direktur Teknologi dan Inovasi FIFA, Johannes Holzmueller.



"Perangkat lunak sedang memproses data ini, dan jika terjadi off side, peringatan otomatis akan dikirim ke ruang kendali VAR. Itulah alasan kami menyebutnya semiotomatis," tambah Holzmueller.

"Ada dua titik fokus. Fokus pertama adalah pada titik tendangan saat bola dimainkan, dan yang kedua adalah bagian tubuh mana yang paling dekat dengan garis gawang, bek atau penyerang. Kami berharap dengan teknologi itu kami bisa lebih cepat dan akurat," pungkas Holzmueller.