Klub yang seharusnya bermain di kasta kedua justru juara di kasta tertinggi. Ini ceritanya!
Kompetisi sepakbola di Amerika Selatan umumnya memiliki sistem yang berbeda dengan Eropa, Asia, atau negara-negara lain di dunia. Di sana mereka membagi liga dalam dua putaran dengan nama "Apertura" dan "Clausura". Lalu, sistem yang rumit digunakan untuk tim degradasi atau tiket Copa Libertadores-Copa Sudamericana.

Dengan sistem tersebut, terkadang muncul kejadian-kejadian tak terduga atau hasil yang aneh. Contohnya, baru saja dialami Alianza Lima di Liga 1 Peru. 

Alianza adalah salah satu klub raksasa tradisional Peru. Klub yang identik dengan Teofilo Cubillas itu baru saja mengoleksi gelar liga ke-24. Mereka memenangkan kompetisi kasta tertinggi setelah mengalahkan Sporting Crystal di pertandingan final play-off.

Tapi, tahukah anda bahwa Alianza musim lalu terdegradasi ke Liga 2? Mengapa klub yang seharusnya main di kasta kedua justru berhasil menjuarai kompetisi tertinggi di Peru? Ternyata, jawabannya panjang!

Kisah aneh ini dimulai di penghujung musim 2020. Saat itu, Alianza sempat terdegradasi ke Liga 2. Penyebabnya, pandemi Covid-19 yang membuat Alianza kesulitan finansial. Mereka kesulitan mengumpulkan uang dari penonton karena semua pertandingan dipusatkan di Lima dan tanpa suporter. Akibatnya, klub terdegradasi. 

Tapi, begitu musim berakhir, keluhan dimulai. Ada perdebatan tentang tim yang seharusnya finish di bawah Alianza. Itu tentang Carlos Stein, yang lolos degradasi setelah finish di atas Alianza.

Alianza mengajukan gugatan dan meminta Carlos Stein yang didegradasi. Pasalnya, klub telah mengalami beberapa masalah keuangan, salah satunya gaji pemain mereka terlambat dipenuhi. 

Asosiasi Sepakbola Peru (FFP) kemudian memberi mereka denda. Alianza berdalih hal itu belum cukup, karena peraturan menetapkan bahwa poin harus dikurangi.

FFP tidak setuju dengan permintaan Alianza. Mereka berdalih dan membenarkan degradasi Alianza dengan menyebut hukuman denda sudah cukup dan tidak perlu tambahan pengurangan poin. Alianza kemudian membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

Ketika sidang berlangsung dan keputusan belum keluar. Masalahnya, musim baru 2021 di Peru telah dimulai. Carlos Stein telah memainkan pertandingan di Liga 1 dan Alianza di Liga 2.

Kemudian, keputusan itu datang. Alianza memenangkan sengketa. CAS memutuskan bahwa peraturan harus ditegakkan bahwa Carlos Stein harus kehilangan dua poin. Pengurangan itu berarti poin Carlos Stein musim lalu berada di bawah Alianza. Artinya, Alianza tetap bertahan di Liga 1 dan Carlos Stein harus main di Liga 2.

Jadi, apa yang dilakukan FFP? Mau tidak mau, Peru harus mengikuti putusan CAS. Liga dibiarkan berjalan dengan pertandingan Carlos Stein dan Alianza yang sudah dilaksanakan batal demi hukum. Mereka bertukar tempat dan harus memulai lagi dari awal ketika klub-klub lain sudah memainkan beberapa pertandingan.



Khawatir yang terburuk, Alianza telah bersiap untuk pertempuran demi mendapatkan kembali status elite. Dengan cepat, mereka mempekerjakan Carlos Bustos sebagai pelatih. Dia dikenal sebagai pelatih mendasarkan timnya pada pertahanan yang ketat dan metode yang apik.

Awalnya, itu dibuat dengan mempertimbangkan lawan-lawan Alianza di Liga 2. Tapi, ternyata hasilnya justru moncer di Liga 1. Setelah gagal di Apertura, Alianza menggila di Clausura. Mereka menempati peringkat pertama Clausura sehingga harus bertemu juara Apertura, Sporting Crystal.

Musim Alianza berakhir dengan indah ketika memainkan dua leg final play-off. Alianza menjaga situasi tetap ketat dan berhasil menang dengan agregat 1-0 (1-0, 0-0).

Uniknya, Carlos Stein yang terpaksa bermain di Liga 2, akhirnya mendapatkan keadilannya. Mereka mendapatkan tempat di Liga 1 2022 setelah mengalahkan Binacional dalam play-off promosi-degradasi melalui adu penalti 4-2 setelah berbagi agregat 1-1 (0-1, 1-0).