Apakah nasib Sheikh Mansour akan sama seperti Abramovich?
Belum selesai kontroversi Roman Abramovich dengan Vladimir Putin, Pemerintah Inggris kini pusing dengan ulah Sheikh Mansour. Pemilik Manchester City itu bertemu dengan Presiden Suriah, Bashar Assad. Entah apa yang dibicarakan, yang pasti Assad dan Putin sama-sama berseberangan dengan Inggris secara politik. 

Assad mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) pekan lalu. Itu merupakan kunjungan pertama sejak pecah perang saudara di Suriah pada 2011. 

Sebagai orang penting di UEA, Sheikh Mansour otomatis harus menemui dan menyambut Assad. Keduanya digambarkan berpelukan saat pertemuan tersebut. Tampaknya, itu adalah pertemuan politik antara dua negara Arab yang selama bertahun-tahun tidak akur.

Uniknya, pertemuan tersebut ternyata tidak membuat Inggris senang. Anggota parlemen dari Partai Buruh, Chris Bryant, yang juga ketua All-Party Parliamentary Group untuk Rusia, mempertanyakan apakah Shiekh Mansour adalah orang yang layak dan pantas untuk memiliki klub sepakbola setelah pertemuannya dengan Assad.



"Apa yang tidak didapatkan? Ada pembunuhan biadab dan berkelanjutan yang terjadi di Suriah, dijalankan bersama oleh Assad, dan sekarang Putin melakukan hal yang persis sama dalam perang barbar di Suriah atas agresi militer terhadap kedaulatan Ukraina yang tidak bersalah. Dan, beberapa orang ingin bertemu," kata Bryant kepada The Telegraph.

Belum ada komentar dari Perdana Menteri Bpris Johnson terkait masalah ini. Tidak jelas juga apakah sanksi yang dijatuhkan kepada Abramovich akan dialami Sheikh Mansour juga. 

Namun, kemungkinannya tidak sejauh itu. Mungkin saja akan ada sedikit riak dalam bisnis Sheikh Mansour di Inggris, khususnya yang menyangkut Man City. Hanya saja itu tidak akan separah yang dialami Abramovich dengan The Blues terkait serangan militer Rusia ke Ukraina.