Yang itu mau merubah jadi Real Masjid. Kalau yang ini bagaimana?
Beberapa waktu lalu, penggemar Real Madrid di Indonesia dihebohkan pernyataan seorang pengusaha dan penceramah terkenal, Yusuf Mansur. Dia sesumbar membeli Real Madrid dan mengubahnya menjadi Real Masjid. Kini, di Mesir, hal yang hampir mirip terjadi.

Tidak ada yang meragukan Real Madrid sebagai salah satu klub terbesar di dunia. Los Blancos telah menjadi klub paling sukses di Spanyol dan  Eropa.

Klub yang bermarkas di Estadio Santiago Bernabeu itu sangat populer bagi penggemar sepakbola dari segala penjuru bumi. Buktinya, mereka memiliki pengikut Instagram yang mencapai 123 juta akun. Itu menjadi yang terbanyak untuk klub sepakbola profesional.

Reputasi Real Madrid ternyata membuat beberapa orang di berbagai belahan bumi ingin membelinya. Salah satunya, Yusuf Mansur. Pengusaha sekaligus penceramah itu viral setelah sesumbar dirinya akan membeli Real Madrid.

Meski itu hanya gimmick, Yusuf Mansur tampaknya akan mendapatkan saingan. Di Mesir, ada orang kaya bernama Mortada Mansour yang juga sesumbar akan membeli Real Madrid.

Sama-sama Mansur (Mansour), tapi berbeda. Jika Mansur yang di Indonesia berkutat di dunia keagamaan, Mansour yang di Mesir adalah pengusaha pemilik klub paling kaya di Liga Premier Mesir, Zamalek. Mortada Mansour menyebut bisa membeli pemain-pemain Real Madrid dengan kekayaannya. Bahkan, dia mengklaim bisa membeli klubnya.

"Kami akan menjadi klub terkaya di Mesir, dan kami dapat merekrut pemain mana pun. Bahkan, jika itu dari Real Madrid," kata Mortada Mansour kepada awak media, dilansir Goal.

Presiden Zamalek itu mengumumkan rincian cabang baru klub yang akan dibangun di sebuah kota satetit bernama "6 Oktober", termasuk stadion baru untuk timnya. Mortada Mansour menegaskan dana yang akan diperoleh dari cabang baru itu memastikan Zamalek memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan daripada klub rival, Al-Ahly.



Awalnya, Zamalek meminta sebidang tanah baru di sebuah kota satelit lainnya bernama "New Cairo". Tapi, ditolak. Padahal, Al-Ahly diberikan sebidang tanah oleh pemerintah di tempat itu. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran terjadinya perselisihan antara suporter kedua tim.

"Kami meminta Perdana Menteri untuk mendapatkan sebidang tanah. Sayangnya kami tidak mendapatkannya. Itu berbeda dengan apa yang terjadi pada Al-Ahly, yang mendapat sebidang tanah untuk mendirikan cabang baru klub. Pada akhirnya ini adalah pandangan para pejabat dan kami menghormatinya," ujar Mortada Mansour.

"Saya meminta para penggemar Al-Ahly untuk memperhatikan apa yang terjadi sekarang dan upaya untuk membuat hasutan di dalam negeri. Sebab, yang paling penting bagi kami adalah Mesir, bukan Zamalek atau Al-Ahly atau Mortada Mansour atau Al-Khatib. Yang paling penting adalah negara kita," pungkas Mortada Mansour.