Jasa Carrizo bagi kiper-kiper era modern tidak bisa dibantah.
Argentina dicatat dalam sejarah sebagai negeri sepakbola yang melahirkan banyak pemain bernomor punggung 10 sejati. Diego Maradona dan Lionel Messi menjadi dua nama diantaranya.

Namun, bukan berarti Negeri Tango tidak pernah mempunyai pemain hebat di bawah mistar gawang. Sejarah mencatat, Argentina sempat mempunyai kiper-kiper jempolan dalam diri Sergio Goycochea, Carlos Roa, Roberto Abbondanzieri, Oscar Ustari, Juan Pablo Carrizo, hingga Sergio Romero.

Selain enam nama populer tersebut, sepakbola Argentina juga pernah mengenal Amadeo Raul Carrizo. Jika dibandingkan Goycochea, Roa, Abbondanzieri, atau Romero; Carrizo memang bukan sosok akrab di telinga fans sepak bola internasional masa kini. Itu wajar karena pria kelahiran Rufino, 12 Juni 1926, tersebut aktif berada di lapangan pada 1945-1970.

Meski kurang terkenal, jasa Carrizo bagi kiper-kiper era modern tidak bisa dibantah. Pria yang menghadap Sang Pencipta di Buenos Aires pada 20 Maret 2020 dalam usia 93 tahun itu adalah "Godfather kiper masa kini". 

Jasa Carrizo sangat besar dalam mengubah taktik penjaga gawang. Sebelum era Carrizo, kiper cenderung pasif di bawah mistar. Mereka hanya bertugas menghalau serangan di wilayah penalti menggunakan tangan. Kiper juga enggan menahan gempuran lawan di luar teritorialnya. Mereka sangat malas membantu serangan. Sebab, filosofi kiper saat itu adalah mencegah bola masuk ke gawangnya.



Aksi membosankan kiper di bawah mistar akhirnya sirna setelah Carrizo berkarier bersama River Plate pada 1945-1968. Tak hanya bertugas menjaga gawang, pemilik 20 caps untuk tim nasional Argentina itu juga sangat aktif keluar sarang. Carrizo tidak sungkan menjadi bek, libero, sweeper, hingga holding midfielder. Dia juga rajin mengambil inisiatif serangan layaknya deep-lying playmaker.

Sejarah mencatat, Carrizo menjadi kiper pertama yang menerapkan strategi tendangan gawang menjadi awal mulanya serangan. Bahkan, menghalau bola menggunakan tangan, paha, dada, kepala, atau anggota tubuh lain selain tangan juga merupakan hasil kreasinya. 

Cara bermain Carrizo menjadi inspirasi banyak penjaga gawang legendaris di Amerika Selatan. Sebut saja Hugo Orlando Gatti, Rene Higuita, Rogerio Ceni, Jorge Campos, hingga Jose Luis Chilavert. Kiper Bayern Muenchen dan timnas Jerman saat ini, Manuel Neuer, juga meniru gaya Carrizo. Begitu pula Alisson Becker, Ederson Moraes, Keylor Navas, hingga Bernd Leno.

Hebatnya, bukan hanya taktik yang dikembangkan Carrizo. Inovasinya terhadap sarung tangan juga menuai penghargaan dari kiper-kiper modern. Faktanya, Carrizo dikenal sebagai kiper pertama yang menggunakan sarung tangan khusus penjaga gawang. 

Pada masa ketika Carrizo aktif bermain, sarung tangan sebenarnya sudah ditemukan. Namun, ketika itu muncul anggapan bahwa hanya kiper pengecut yang menutupi tangannya dengan sarung khusus.

Tanpa ragu, Carrizo menggubah anggapan itu. Dengan sarung tangan, kiper menjadi lebih gagah dan tangguh. Di kemudian hari, sarung tangan Carrizo diikuti sejumlah kiper kenamaan di Eropa, termasuk Sepp Maier. Penjaga mistar Jerman Barat itu menggunakan sarung tangan karya Gebhard Reusch saat tampil di Piala Dunia 1974. Hasilnya, Der Panzer juara dan produk Reusch dikenal ke seluruh dunia. Sarung tangan Maier hingga hari ini dikenal dengan label "Reusch". 

Berkat jasa Carrizo di sepakbola, para penjaga gawang di Negeri Tango sepakat menjadikan hari lahirnya, 12 Juni, sebagai "Hari Kiper Argentina". Setiap tahun, Hari Kiper Argentina diperingati dengan meriah oleh para penjaga mistar yang bermain di Liga Argentina maupun kiper Argentina di luar negeri. 

Selain itu, pada 1999 International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) menempatkan Carrizo sebagai kiper terbaik Amerika Selatan abad 20. Sementara di dunia, polling IFFHS menempatkan Carrizo di posisi 10 di belakang Lev Yashin, Gordon Banks, Dino Zoff, Sepp Maier, Ricardo Zamora, Jose Luis Chilavert, Peter Schmeichel, Peter Shilton, dan Frantieek Planicka.

Selama aktif membela River Plate, Carrizo bermain bersama pemain-pemain top di eranya seperti Jose Manuel Moreno, Felix Loustau, Adolfo Pedernera, Angel Labruna, hingga Alfredo di Stefano. Dia membantu klub meraih tujuh trofi Liga Argentina (1945, 1947, 1952, 1953, 1955, 1956, 1957).  Bersama Argentina, Carrizo ikut tampil di Piala Dunia 1958. (*)