Selain perubahan nama dan format, tidak setiap tahun Liga Indonesia bisa digelar tepat waktu. Yang stabil adalah 4 tim tidak pernah terdegradasi.
Sejak digelar pada 1994 dan diklaim sebagai kompetisi profesional, Liga Indonesia selalu tidak konsisten. Selain perubahan nama dan format, tidak setiap tahun kompetisi bisa digelar tepat waktu. Yang stabil adalah 4 tim yang tidak pernah terdegradasi.

Liga Indonesia adalah kompetisi gabungan Perserikatan dengan Galatama yang memulai musim perdana pada 1994/1995. Hingga 2007, Divisi Utama menjadi kasta tertinggi di Liga Indonesia, meski sempat terhenti saat Reformasi. Lalu, pada 2008 Indonesia Super League (ISL) menjadi puncak piramida kompetisi.

ISL sempat terancam Liga Primer Indonesia (LPI) pada dan dilanjutkan Indonesia Premier League (IPL) pada 2011/2012 dan 2013. Tapi, bukan berarti ISL mati. Kompetisi tetap berlangsung, meski harus menyandang status ilegal. Sebaliknya, LPI yang tadinya kompetisi sempalan, berubah menjadi resmi (IPL).

Sempat bersatu pada 2014, kompetisi kembali berubah setelah pembekuan keanggotaan PSSI oleh FIFA terkait intervensi pemerintah. Sempat digelar Indonesia Soccer Championship (ISC), kompetisi dilanjutkan setelah sanksi dicabut dengan label Liga 1.

Meski kompetisi berubah dengan cepat dan selalu tidak konsisten, ternyata ada beberapa klub yang mampu mempertahankan status penghuni kasta tertinggi di era Liga Indonesia. Entah memilih IPL atau ISL saat ada dualisme, tim-tim tersebut tidak pernah turun ke kasta kedua.

Berikut ini 4 tim yang selalu sanggup mempertahankan status di level tertinggi kompetisi pada era Liga Indonesia:

1. Persija Jakarta



Dengan bangga, para pendukung Persija selalu mengklaim memiliki 11 gelar "Liga Indonesia". Klaim tersebut muncul saat ada yang bertanya tentang sebuah bintang di atas logo klub.

Itu pendapat yang salah. Sebab, yang terjadi sebenarnya adalah 9 gelar tersebut berasal dari Perserikatan dan hanya 2 yang merupakan Liga Indonesia. Pada era itu, yang disebut liga adalah Galatama, sedangkan Perserikatan hanya turnamen. Macan Kemayoran juara di era Liga Indonesia pertama kali pada 2001. Mereka kembali juara pada 2018 saat kompetisi bertajuk Liga 1.

Beda dengan jumlah trofi yang menjadi perdebatan, status Persija sebagai tim yang belum pernah turun kasta tidak terbantahkan lagi. Status itu bukan hanya disandang sejak era Liga Indonesia, melainkan juga Perserikatan pertama kali digulirkan pada 1930 atau hanya beberapa bulan setelah PSSI dibentuk.

Meski tidak selalu mulus, Persija tetap eksis di era Liga Indonesia, baik Divisi Utama, ISL, ISC, hingga Liga 1. Beberapa kali mereka nyaris turun kasta. Contohnya, pada 1995/1996 saat finish di peringkat 14 dari 16 peserta. Lalu, 1996/1997 peringkat 10 dari 11 peserta.

Situasi Persija membaik ketika Sutiyoso menjadi Gubernur DKI. Dengan dana APBD, Bang Yos mengubah Macan Kemayoran dari tim gurem menjadi spesialis papan atas. Status itu bertahan hingga saat ini.


2. Persib Bandung



Lahir pada 14 Maret 1933 dengan nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), Persib termasuk klub tradisional Indonesia. Di era Perserikatan, Maung Bandung juara 5 kali (1937, 1959/1961, 1986, 1989/1990, 1993/1994) dan runner-up 8 kali (1933, 1934, 1936, 1957/1958, 1965/1966, 1966/1967, 1983, 1985).

Ketika Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995, Persib langsung juara. Mereka mengalahkan Petrokimia Putra pada pertandingan puncak di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah itu, Persib harus menunggu hingga ISL 2014 untuk kembali mengangkat piala.

Namun, bukan berarti Persib konsisten di papan atas kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Pada 2003, Maung Bandung nyaris turun kasta. Saat itu, PSSI berencana mengurangi peserta dari 20 menjadi 18 tim pada 2004. Akibatnya, pada 2003 ada 4 tim degradasi otomatis dan 2 tim lewat play-off.

Sial bagi Persib karena hanya mampu finish di posisi 16. Bersama Perseden Denpasar, mereka harus menjalani pertandingan play-off yang juga diikuti dua wakil Divisi I, Persela Lamongan dan PSIM Yogyakarta. Maung Bandung selamat setelah memuncaki klasemen play-off diikuti Persela. Perseden terdegradasi dan PSIM tetap di Divisi I.


3. PSM Makassar



Sebagai tim ISL, PSM sempat membelot ke Liga Primer Indonesia (LPI) 2011. Ketika seharusnya menjadi peserta ISL 2010/2011, Juku Eja memilih menyeberang bersama Persibo Bojonegoro dan Persema Malang. Lalu, ketika LPI berhenti, PSM melanjutkannya ke IPL 2011/2012 dan 2013 sebelum balik lagi ke ISL 2014.

Meski membingungkan karena akan ada klaim kompetisi ilegal dan legal, fakta menunjukkan PSM memang belum pernah turun kasta di era Liga Indonesia. Tapi, Juku Eja juga baru satu kali juara, yaitu pada 1999/2000.

Untuk kompetisi berlabel Liga 1, prestasi PSM sebenarnya layak dibanggakan. Pada 2017, mereka ada di posisi 3. Kemudian, pada 2018 menjadi runner-up. Sayangnya pada 2019 Juku Eja justru hanya sanggup menempati peringkat 12. Sementara pada 2020 dan 2021, kompetisi belum jelas karena pandemi Covid-19.


4. Persipura Jayapura

Persipura adalah klub dari era Perserikatan. Mereka lahir pada 1 Mei 1963. Saat itu, mereka bukan tim besar karena lebih banyak menghabiskan waktu di Divisi I, naik ke Divisi Utama, mengejutkan sebentar, dan turun lagi ke Divisi I. Status yoyo mereka jalani hingga Liga Indonesia bergulir pada 1994/1995.

Sejak 1994/1995 hingga 2004, prestasi Mutiara Hitam di Divisi Utama biasa-biasa saja. Mengandalkan produk-produk lokal dan beberapa pemain asing bagus, Persipura dikenal sebagai klub yang mengganggu kemapanan tim-tim tradisional Indonesia.

Namun, semua berubah pada 2005. Menjalani 34 pertandingan di wilayah timur, Persipura mencatatkan 46 poin dari 26 laga untuk menjadi pemuncak klasemen akhir fase grup. Sukses itu berlanjut di babak 8 besar dengan menyapu bersih semua pertandingan. Kemudian, di final, Mutiara Hitam mempermalukan Persija.

Setelah itu, kecepatan mesin Persipura tidak bisa dibendung. Mereka juara lagi pada 2008/2009, 2010/2011, 2013 dan menjadi runner-up pada 2009/2010, 2011/2012, 2014. Bahkan, saat ISC 2016 digelar saat Indonesia dihukum FIFA, Mutiara Hitam berhasil menjadi tim terbaik.