Swiss tidak pernah menang di fase knock-out dalam 83 tahun. Tapi, sepakbola bukan matematika.
Penampilan Austria melawan Italia dan keberhasilan Republik Ceko menyingkirkan Belanda membuat Swiss termotivasi saat bertemu Prancis di Arena Nationala, Bucharest, Selasa (29/6/2021) dini hari WIB. Sejarah perempat final menjadi target utama The A-Team.

Swiss bukanlah negara yang punya catatan bagus saat Euro diselenggarakan. Mereka tiga kali tersingkir berturut-turut di babak 16 besar turnamen besar (Piala Dunia 2014 dan 2018 serta Euro 2016). 

Secara keseluruhan, Swiss belum pernah memenangkan pertandingan di fase knock-out turnamen besar manapun dalam 83 tahun terakhir. Kemenangan fase knock-out terakhir mereka terjadi pada babak 16 besar Piala Dunia 1938. Saat itu, Swiss mengalahkan Jerman. 

"Tekanan akan ada pada mereka. Kami akan tetap berpikiran positif. Kami tidak memiliki beban. Jadi, buat apa terlalu pusing memikirkan pertandingan ini," ucap bek Swiss, Loris Benito, dilansir Reuters.

Swiss menantang Prancis setelah finish di posisi ketiga di Grup A dengan empat poin. Mereka maju sebagai salah satu dari empat tim peringkat 3 terbaik bersama Portugal, Ceko, dan Ukraina. Portugal sudah gagal dan Ceko melanju. Sementara Ukraina akan menghadapi Swedia.

Tapi, Swiss layak optimistis. Pasalnya, penampilan mereka sebenarnya cukup bagus. Setelah bermain imbang 1-1 dengan Wales dan kalah 3-0 dari Italia, Swiss mengalahkan Turki 3-2. Xherdan Shaqiri mencetak dua gol dan Haris Saferovic menambahkan satu lagi. Pemain sayap Steven Zuber memberi assist pada ketiga gol Swiss.

"Di sepakbola selalu ada hal yang membuat kami optimistis. Ini bukan matematika yang hasil akhirnya bisa ditentukan dengan melihat materi pemain di atas kertas," kata Benito.

Swiss memang belum pernah mengalahkan Prancis dalam pertandingan kompetitif. Dalam pertemuan sebelumnya di Euro 2016, Swiss menahan imbang Les Bleus 0-0 dalam pertandingan grup. Tapi, di babak 16 besar, skor imbang tidak akan dihitung karena yang diperlukan adalah kemenangan.

"Kompetisi baru dimulai di fase ini. Tidak ada tim unggulan atau medioker. Semuanya sama berat," ucap Didier Deschamps.

Dengan Kylian Mbappé, Antoine Griezmann, dan Karim Benzema, Deschamps sebenarnya memiliki kekuatan di lini depan yang mumpuni. Bahkan, itu cukup untuk memberikan gelar utama berturut-turut (Piala Dunia 2018 dan Euro 2020) untuk menyamai pencapaian generasi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.