Italia ternyata banyak diuntungkan oleh pengunduran jadwal Euro. Ini perinciannya.
Euforia juara Euro 2020 belum juga hilang. Tapi pendukung timnas Italia bernama David Ferrini punya pandangan lain soal capaian negeri Pizza itu, ia menanyakan apakah Italia akan tetap memenangkan Euro jika turnamen itu berjalan sesuai rencana, alias tidak tertunda pandemi.
 
Seharusnya Euro dilangsungkan pada 14 Juni 2020.  Dan menimbang-nimbang beberapa hal, termasuk cedera dan komposisi pemain saat itu, dan hal lain berkaitan kondisi Italia saat itu. Pertanyaan dari Ferrini perlu direnungkan dan analisis.

Faktanya, sepanjang pertandingan kualifikasi yang digelar pada bulan-bulan di tahun 2019, mereka yang dipanggil dan sering dimainkan adalah Gigio Donnarumma, Leonardo Bonucci, Jorginho, Nicolò Barella, Federico Bernadeschi, dan Ciro Immobile.



Sandro Tonali, dengan Brescia pada saat itu, adalah alternatif pilihan di lini tengah. Ada keraguan apakah dia bisa berkontribusi dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Manuel Locatelli dan Matteo Pessina.

Bisakah Anda bayangkan memenangkan semua tujuh pertandingan turnamen tanpa pemain-pemain seperti Marco Verratti, Leonardo Spinazzola, Manuel Locatelli dan kapten Giorgio Chiellini?

Hingga Juni 2020, Azzurri memang tak terkalahkan sepanjang kualifikasi Euro, melawan Yunani, Bosnia, Armenia, Finlandia, dan Lichtenstein. Semua dilibas. Tapi itu hanya negara-negara kecil.

Seperti yang dikatakan beberapa pakar sepak bola yang berbasis di Inggris, “Italia masih belum bertemu tim kuat.”

Tentu, tim asuhan Mancini akan mampu melewati fase grup, tetapi mereka tidak punya cukup waktu untuk membangun reputasi ditakuti yang merupakan komponen penting dalam hal memenangkan trofi.

Dalam arti kata lain, dapat dimengerti, Italia belum mampu menurunkan susunan pemain yang konsisten.

Kondisi Pemain Italia Saat Itu

Jika Euro tetap pada jadwal aslinya. Maka seperti inilah kira-kira gambaran para pemain timnas Italia di klub-klubnya saat itu:



Pertama, Federico Chiesa belum lama tiba dari Fiorentina. Namun penyerang sayap itu telah mampu berbuat sesuatu untuk Bianconeri, dengan mencetak delapan gol Serie A, empat kali di Liga Champions dan pemenang di Final Piala Italia.

Kedua, Lorenzo Insigne berubah dari total delapan gol yang biasa-biasa saja pada 2019-20 menjadi catatan terbaik sepanjang kariernya dengan 19 gol pada 2020-21.

Seperti Manuel Locatelli dan Alessandro Bastoni, Domenico Berardi tidak ambil bagian dalam kualifikasi Euro, dan tidak dipanggil kembali ke tim nasional hingga Oktober 2020. Pemain sayap Sassuolo mengakhiri musim terakhir dengan 17 gol dan itulah tempatnya di skuad Mancini di depan Matteo Politano.

Dengan tambahan musim Serie A, Giovanni Di Lorenzo semakin meningkatkan statusnya sebagai bek serbaguna dengan menyelesaikan masa jabatan keduanya di Napoli. Sangat mudah untuk melupakan bahwa Di Lorenzo bermain di Serie B sebelum serah terima tim nasional Ventura-Mancini.

Tanpa penundaan turnamen, Danilo D'Ambrosio dan Armando Izzo menjadi favorit untuk membayangi Alessandro Florenzi. Nicolò Barella baru saja menyelesaikan musim pertamanya di Inter Milan. Namun, penundaan turnamen memungkinkan gelandang Inter untuk unggul, membantu klubnya meraih Scudetto.

Leonardo Spinazzola berada di belakang Emerson dan Cristiano Biraghi bisa jadi pelapis dan memainkan peran bek kiri. Namun bintang Roma itu bersinar terang di tim Giallorossi yang performa itu membuatnya wajib dimasukkan dalam tim.

Dua belas bulan terakhir Jorginho melambungkan Chelsea dan masuk kandidat Ballon d'Or setelah membawa timnya meraih kesuksesan Liga Champions UEFA. Perbedaan dalam hal kepercayaan diri dari musim sebelumnya sangat besar.

Kita juga perlu meninjau cedera. Giorgio Chiellini hanya bermain empat pertandingan untuk Juventus pada 2019-20 setelah mengalami cedera ligamen cruciatum. Bek tengah kelahiran Livorno itu hampir dipastikan akan absen di Euro 2020. Marco Verratti juga absen setelah dinyatakan positif hanya beberapa hari sebelum turnamen seharusnya dimulai.

Kesimpulan

Pendek kata, Italia akan membutuhkan tambahan 12 bulan untuk membentuk skuat secara kolektif. Berkat memiliki satu tahun ekstra untuk membangun skuad yang solid, penggemar Italia dapat menikmati trofi utama keenam mereka.

Mungkin ini semua adalah nasib sekaligus takdir Italia. Sebuah gelar juara akhirnya. Dan itu dimenangkan di tahun yang ganjil, selama periode sejarah yang ganjil. 

Anda bisa memberi kesimpulan sendiri.