Pada masanya, Montero adalah bek kejam. Tapi, tidak sebarbar pemain Liga Indonesia.
Jika di era sekarang ada Pepe sebagai bek tengah yang terkenal brutal, maka 20 tahun lalu sepakbola mengenal Paolo Montero. Serupa, tapi tak sama. Dia adalah bek tengah paling ditakuti di dunia.

Sepanjang 1990-an hingga 2000-an, Juventus memiliki reputasi yang baik di lini belakang karena memiliki beberapa pemain yang paling garang dalam sepakbola. Mereka tidak ragu memamerkan sisi tangguh mereka, dengan cara licik jika perlu. Itu adalah salah satu kekuatan Juventus pada eranya.

Dan, yang dijuluki monster dari semua predikat itu adalah Montero. Dia adalah lambang dari seorang pemain kuat dan membuat Clark Kent kabur dalam pertempuran 50:50. Sang Superman sendiri akan berpikir dua kali untuk melakukan duel udara melawan pria yang terbukti memiliki banyak kryptonite striker.

Tentu saja itu hanya candaan. Tapi, fakta di lapangan menunjukkan Montero adalah sosok yang paling ditakuti pemain depan lawan. Torehan 16 kartu merah menjadi yang paling banyak dari pada pemain lain di kompetisi papan atas Italia.

Namun, pemain Uruguay itu lebih dari sekadar sosok brutal di jantung pertahanan Juventus yang tangguh selama satu dekade dari pertengahan 1990-an hingga pertengahan dekade 2000-an.

Montero juga menjadi perbincangan karena dinilai sebagai permainan yang cerdas saat duel di udara. Dia juga memiliki kaki kiri yang kuat untuk seorang bek tengah dan mampu bermain sebagai fullback jika diperlukan.

Reputasinya yang menakutkan, dibenarkan Luigi di Biagio, mantan pemain AS Roma dan Inter Milan. Montero menerima larangan tiga pertandingan karena pukulan keras ke rahang Di Biagio saat membela I Nerazzurri bermain imbang melawan Juventus di Derby d'Italia pada 2000.

Banyak orang yang bermain baik bersamanya atau merasa senang saat melawannya telah membuat klaim bahwa dia tidak memiliki kelemahan yang nyata. "Di Serie A, ada beberapa pitbull yang menghabiskan seluruh pertandingan dengan berdiri di belakang anda dan menendang anda," kata Francesco Totti tentang Montero, dilansir One Football.

"Misalnya, Montero adalah pemain yang bisa menyerang anda ketika dia kehilangan posisi. Tapi, dia tidak selalu begitu selama pertandingan, dia merupakan bek yang sangat kuat," tambah legenda Roma itu dalam sebuah kesempatan.



Kadang, sifatnya yang berapi-api tumpah keluar lapangan karena dia pernah diduga membuat seorang paparazzi yang mengambil terlalu banyak foto rekan setim lamanya di Juventus, Angelo di Livio.

Namun, apa yang membuat pria berjuluk "The Terminator" itu sangat disayangi oleh para penggemar di di Turin? Itu karena sang pemain selalu bersedia memberikan apa yang mereka dambakan, kemenangan dengan segala cara. Pantang menyerah dan bersedia melakukan pekerjaan kotor.

"Sepakbola dibuat untuk orang-orang yang licik dan ketika saya masuk ke lapangan, satu-satunya keinginan saya adalah untuk menang. Saya tidak berpikir untuk menjadi panutan bagi putra-putra saya atau orang-orang yang memperhatikan saya. Terkadang, anda harus melakukan apa saja untuk menang dan itulah sifat saya," kata Montero kepada The Observer pada 2003.

"Saya tidak mengkritik mereka yang berpura-pura cedera, menarik baju, diving, atau melakukan hal lain untuk memenangkan pertandingan karena itulah tujuan sepakbola," tambah Montero.

Dan, justru itulah yang membuatnya begitu dicintai hingga hari ini di Turin. Di Juventus, kemenangan akan selalu menjadi kebutuhan. Di Montero menjadi seorang pemain brutal yang harus dihormati oleh para pendukung Juventus.