Banyak yang menduga Maldini adalah keluarga sepakbola terbaik. Faktanya, ada yang lebih hebat.
Keluarga sepakbola adalah hal yang tidak bisa dihindari. Keberadaan kakek, ayah, menantu, keponakan, anak, cucu memainkan olahraga ini sudah berlangsung sejak lama. Ada yang sukses, banyak juga yang tidak.

Pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohon layak menggambarkan kiprah beberapa keluarga sepakbola ini. Anak menjadi pemain setelah mengikuti ayahnya. Sang ayah terjun ke sepakbola berdasarkan pengalaman kakeknya. Hebatnya, beberapa keluarga itu sukses.

Sukses yang dimaksud di sini adalah jumlah piala yang berhasil dikumpulkan anggota keluarganya. Entah di level kompetisi lokal, regional, maupun internasional bersama tim nasional.

Berikut ini 6 contoh keluarga sepakbola sukses berdasarkan jumlah piala yang dikoleksi:


6. Kluivert

Anggota keluarga: Kenneth, Patrick, Justin, Ruben

Jumlah penghargaan: 11

Hoofdklasse (2), Eredivisie (3), La Liga (1), Liga Champions (1), Piala Super Eropa (1), Piala Intercontinental (1)

Dinasti Kluivert dimulai di Suriname dengan Kenneth Kluivert yang merupakan legenda klub lokal yang memenangkan dua gelar untuk FC Robinhood. Lalu, dia pindah ke Belanda. DI sanalah, putranya Patrick akhirnya berhasil menembus skuad utama Ajax Amsterdam untul memenangkan Liga Champions pada usia 18 tahun sebelum pindah ke Barcelona dan tampil dengan sangat mengesankan.

Putra-putra Patrick: Justin dan Ruben menempa jalan mereka sendiri. Justin juga bermain di Ajax sebelum pindah ke AS Roma dan sekarang di Nice. Sementara Ruben kembali ke Belanda bermain untuk FC Utrecht. Keduanya masih berharap untuk bisa mengikuti jejak ikonik ayah dan kakeknya.




5. Hernandez (Meksiko)

Anggota keluarga: Tomas Balcazar, Javier, Javier Chicharito

Total penghargaan: 12

Liga MX (4), Liga Premier(2), Copa MX (1), Liga Europa (1), Community Shield (1), Piala Dunia Antarklub (1), Piala Emas CONCACAF (1), Piala CONCACAF (1).

Hingga saat ini, keluarga Hernandez merupakan satu-satunya yang memiliki tiga pemain dari tiga generasi di Piala Dunia. Generasi pertama adalah Tomas Baltazar. Kakek Chicharito dari pihak ibu itu tampil di Piala Dunia 1954. Dia membuat satu gol.

Tiga dekade kemudian, ayah Chicharito mulai dipanggil ke skuad Meskiko untuk Piala Dunia 1986. Tapi, dia tidak dipercaya tampil oleh Bora Milutinovic. Terakhir, Chicharito sendiri yang membela Meksiko di tiga Piala Dunia, yaitu 2010, 2014, dan 2018.




4. Alonso (Spanyol)

Anggota keluarga: Marcos Alonso Imaz, Marcos Alonso Pena, Marcos Alonso Mendoza

Total penghargaan: 19

La Liga (6), Liga Premier (1), Liga Champions (6), Copa del Rey (2), Piala FA (1), Liga Europa (1), Piala Super Eropa (1), Piala Intercontinental (1)

Kakek Marcos Alonso, Marquitos, adalah bek terkenal di era 1950-an. Dia turut berkontribusi di musim-musim sensasional Real Madrid ketika berhasil memenangi lima trofi Liga Champions versi lama berturut-turut sejak musim 1955/1956.

Sementara itu ayah Alonso, Marcos Alonso Pena, terkenal karena kemahirannya bermain sebagai sayap kanan pada era 1980-an. Puncak kariernya terjadi pada 1982-1987, saat membela Barcelona.

Dia berhasil memenangkan satu trofi La Liga, satu Copa del Rey, satu Supercopa de Espana, dua Copa de La Liga, dan menjadi runner-up di Liga Champions 1985/1986. Sedangkan bersama timnas Spanyol pencapaian tertingginya adalah runner-up Euro 1984.

Sekarang, generasi terbaru adalah Marcos Alonso. Bersama Chelsea, dia telah memenangkan Liga Premier dan Liga Champions.




3. Forlan (Uruguay)

Anggota keluarga: Juan Carlos Corazzo, Pablo, Diego

Total penghargaan: 22

Primera Division Uruguay (8), Liga Premier (1), Liga Hong Kong (1), Copa Libertadores (1), Piala FA (1), Liga Europa (1), Campeonato Paulista (3), Campeonato Gaucho (1), Community Shield (1), Piala Super Eropa (1), Piala Interkontinental (1), Copa America (2)

Juan Carlos Carazzo tidak banyak dikenal sebagai pemain top. Tapi, dia menemukan kesuksesan sebagai pelatih tim nasional Uruguay. Dia membawa Uruguay meraih dua kemenangan Copa America. Dan, pada kemenangan kedua, salah satu pemainnya adalah Pablo Forlan, yang berstatus menantu. Dan, Pablo adalah ayah Diego Forlan.

Beda dengan Carazzo, Pablo lebih cemerlang sebagai pemain. Dia memenangkan empat Primera Division Uruguay berturut-turut dan Copa Libertadores 1966. Begitu juga dengan Diego, yang meneruskan tiga generasi kaluarga Uruguay itu saat menjuarai kompetisi di Amerika Selatan.




2. Maldini (Italia)

Anggota Keluarga: Cesare, Paolo, Christian, Daniel

Total penghargaan: 30

Serie A (11), Liga Champions (6), Coppa Italia (1), Supercoppa Italiana (5), Piala Super Eropa (4), Piala Interkontinental (2), Piala Dunia Antarklub (1)

Cesare adalah bagian dari Milan yang memenangkan Liga Champions pada 1960-an. Sementara Paolo datang di akhir 1980-an dan menjadi pilar pertahanan AC Milan selama lebih dari dua dekade, menjuarai Serie A tujuh kali, dan Liga Champions lima kali.

Putra sulung Paolo, Christian, sepertinya tidak mengikuti jejak ayah dan kakeknya. Sementara Daniel telah menunjukkan tanda-tanda yang bagus setelah mencetak gol pertama dalam debut starting line-up untuk I Rossoneri di Serie A, beberapa pekan lalu.


1. Llorente (Spanyol)

Anggota keluarga: Paco Gento, Ramon Grosso, Paco, Marcos

Total penghargaan: 45

La Liga (23), Liga Champions (8), Copa del Rey (7), Supercopa de Espana (4), Piala Intercontinental (1), Piala Dunia Antarklub (2)

Paco Gento adalah satu-satunya orang yang memenangkan Liga Champions enam kali. Paco juga memenangkan La Liga 12 kali. Semuanya di era kejayaan Real Madrid pada dekade 1960-an.  

Keponakan Paco Gento, Paco Llorente, tidak terlalu dominan seperti pamannya dan harus meninggalkan Madrid untuk menempuh jalannya sendiri. Tapi, dia akhirnya kembali ke Estadio Santiago Bernabeu dan memenangkan tiga gelar La Liga berturut-turut dengan tim "Quinta del Buitre" yang terkenal itu. 

Ketika Paco menikah, itu adalah putri Ramon Grosso, Maria Angela. Jadi Grosso adalah menantu dari sang legenda.

Jika ada pesepakbola keluarga yang bisa melampaui kecemerlangan dinasti Maldini, itu benar-benar Gento-Llorente. Jumlah trofi mereka benar-benar luar biasa dan dampaknya terhadap sepakbola terasa hingga hari ini, dalam tiga generasi. Yang paling muda tentu saja Marcos Llorente yang sedag berusaha mengikuti jejak leluhurnya.