Everton dan Erling Haaland Serta 19 Kisah Nyaris Bergabung Lainnya

"Berikut ini 20 kisah klub dan pemain bintang yang nyaris saja berjodoh. Mereka akhirnya gagal bergabung. Harry Kane nyaris ke Arsenal."

Feature | 01 March 2021, 13:49
Everton dan Erling Haaland Serta 19 Kisah Nyaris Bergabung Lainnya

Libero.id - Baru-baru ini mencuat berita soal Erling Haaland yang dahulu pernah ditolak oleh staf akademi Everton, dimana penyerang Norwegia itu kini tampil luar biasa bersama Borussia Dortmund.

Situs kenamaan givemesport.com, merangkup kisah-kisah pemain muda yang dahulu gagal bergabung dengan klub Liga Premier, siapa saja pemain muda tersebut? berikut ulasannya;

1.Arsenal - Harry Kane

Libero.id

Kredit: instagram.com/harrykane

Manajer legendaris arsenal, Arsene Wenger pernah membuat kesalahan dengan menolak Kane muda.

Akademi muda The Gunners menyingkirkannya hanya karena sang pemain dianggap terlalu gemuk. Kini, penyerang Tottenham itu menjadi penyerang kelas wahid bahkan kapten timnas Inggris itu mencetak salah satu gol fenomenal ke gawang Arsenal dengan seragam The Lilywhites.

2.Aston Villa - Roberto Carlos

Menjadi salah satu full-back yang paling disegani sepanjang masa, Roberto Carlos nyatanya pernah hampir bergabung dengan Aston Villa.

Menjelang akhir tahun 1995, pemain Brasil itu pernah tampil di Villa Park saat Brasil menghadapi Swedia dalam pertandingan persahabatan. Carlos mencuri perhatian Doug Ellis, mantan ketua Aston Villa dan ia ingin sang pemain bergabung dengan The Lions, namun manajer klub saat itu, Brian Little tidak begitu tertarik dan transfer tidak terjadi.

Beberapa tahun setelah itu Carlos menjadi salah satu bek terbaik Real Madrid bahkan dunia.

3. Brighton - Roy Keane

Mantan kapten Setan Merah tersebut adalah salah satu gelandang tengah terbaik di Liga Premier pada era 90 hingga 2000-an.

Sebelum namanya melambung bersama Nottingham Forest, Keane muda pada waktu itu sudah siap melakukan perjalanan ke pantai selatan Inggris dari Irlandia untuk bergabung dengan Brighton & Hove Albion, namun transfernya dibatalkan sehari sebelum keberangkatannya karena manajemen The Seagulls tidak terlalu meminati Keane.

4. Burnley - Michael Essien

Dalam performa terbaiknya, Michael Essien adalah salah satu gelandang top dunia, memenangkan setiap trofi bersama Chelsea kecuali Piala FA. Meskipun demikian, Burnley melewatkan untuk mendapatkan jasa legenda Ghana sebagai anak muda meskipun ia sempat berlatih di Turf Moor.

Menurut manajemen The Clarets, sang pemain dianggap kurang  meyakinkan bahkan mereka enggan untuk membayar gaji Essien lebih dari 60 juta Poundsterling dalam seminggu. The Blues kemudian datang dan mau membayar apa yang diminta oleh manajemen Lyon pada musim panas 2005.

5.Chelsea - Kevin De Bruyne

Libero.id

Kredit: instagram.com/kevindebruyne

Entah bagaimana, Chelsea membiarkan Mohamed Salah, Romelu Lukaku dan Kevin De Bruyne lolos dari genggaman mereka, merekrut ketiganya sebagai pemain muda dan memutuskan untuk menguangkan sebelum salah satu dari mereka diberi kesempatan untuk membuat penampilan di Stamford Bridge.

Pemain Belgia itu membuat penampilan tim utama paling sedikit dari ketiganya (hanya sembilan), dan kini De Bruyne menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia saat ini. Dibawah arahan Pep Guardiola di Manchester City, De Bruyne adalah raja assist serta pengumpan terbaik di Tanah Ratu Elizabeth.

6. Crystal Palace - Virgil van Dijk

Memang catatan kemenangan Neil Warnock di Selhurst Park tidak bagus, dalam 17 pertandingan, ia hanya mengumpulkan 3 kemenangan.

Alan Pardew kemudian masuk mengambil alih kursi menajer The Glaziers dan Warnock yang kini menjadi manajer di Middlesbrough pernah membuat satu rekomendasi transfer yang sangat bagus. Warnock pernah ingin mendatangkan Virgil van Dijk dari Celtic, namun hanya sebatas pengintaian saja tidak sampai pada tahapan tawar menawar.

Beberapa musim setelah itu, Liverpool resmi mendatangkan Van Dijk ke Anfield dengan mahar 75 juta Poundsterling dan kini mungkin ada penyelesan.

7. Everton - Erling Haaland

Libero.id

Kredit: instagram.com/erling.haaland

Pengintai bakat Skandinavia telah mengatur uji coba empat hari dengan barisan pemuda The Toffees, tetapi staf akademi tidak begitu antusias dan dengan cepat mengirim Haaland untuk kembali ke Norwegia.

Kini pemain yang telah berusia 20 tahun tersebut telah menjadi salah satu penyerang terbaik di dunia dan dianggap oleh Miguel Delaney, jurnalis Spanyol-Irlandia sebagai calon pemain bintang dunia bersama Kylian Mbappe dari PSG.

8. Fulham - Gabriel Batistuta

Menjelang akhir tahun 2003, Fulham adalah tim Inggris yang paling meminati oleh jasa Batistuta. Agennya juga sangat tertarik untuk pindah ke Craven Cottage tetapi manajer Fulham saat itu, Jean Tigana menolak untuk menerima kedatangan mantan pemain Fiorentina tersebut. Akhirnya Batigol bermain di Qatar bersama Al-Arabi  hingga ia pensiun pada tahun 2005.

9. Leeds - David Seaman

Mungkin ada kekecewaan dari David Seaman ketika ia dijual oleh pahlawan masa kecilnya yang menjadi manajer Leeds saat itu, Eddie Grey karena menjualanya ke Peterborough United.

Dalam empat tahun, Seaman kembali ke papan atas bersama Birmingham City dan pada saat Liga Premier muncul, ia menjadi kiper No.1 di Arsenal dan No.1 Inggris. Nigel Martyn jelas bukan penjaga gawang yang buruk, tetapi bayangkan Leeds memiliki pelapis sebagus Seaman, mereka mungkin akan lebih suskes lagi.

10. Leicester City - Johan Cruyff

Leicester City begitu yakin mereka telah menandatangani Johan Cruyff sehingga manajer Jock Wallace mengatakan kepada pers bahwa itu pada dasarnya adalah kesepakatan yang sudah selesai.

Legenda sepak bola itu menghabiskan satu musim bersama itm asal Amerika, Washington Diplomats dan ingin kembali ke Eropa serta berharap mendapatkan dirinya bugar untuk Piala Dunia 1982. Leicester yang pada waktu itu terancam terdegradasi tampak seperti solusi yang menguntungkan semua pihak untuk menikung trasnfer mantan pemain Ajax tersebut, dan benar saja, meski Wallace memberi pengarahan kepada pers, Cruyff rupanya sedang menuju ke Spanyol dan pada akhir pekan berikutnya ia malah melakukan debut untuk Levante.

11. Liverpool - Cristiano Ronaldo

Pada tahun 2002, The Reds pernah hampir mendatangkan CR 7 dan Ricardo Quaresma setelah tampil mengesankan untuk Portugal di Turnamen Toulon.

Namun, keuangan adalah masalah nyata - Ronaldo menginginkan gaji yang melebihi gaji Michael Owen, dan anak ajaib Inggris itu baru saja memukau jalannya saat  ia memenangkan Ballon d'Or pada tahun 2001.

Setahun kemudian, tepatnya pada 12 Agustus 2003,  Manchester United resmi bermain mendatangkan CR 7 dan ditahun-tahun berikutnya ia menunjukan kepada dunia bahwa ia adalah yang terbaik bahkan hingga sekarang.

12. Manchester City - Jerome Boateng

Libero.id

Kredit: instagram.com/jeromeboateng

Mungkin Boateng tidak terlalu menikmati masa-masanya saat bermain untuk Manchester City. Setelah mendapat penghargaan dari Hamburg sebagai pemain muda, pemain internasional Jerman itu harus puas dengan pertandingan sesekali sebagai bek sayap dan mengakhiri musim pertamanya dan satu-satunya di Etihad, City mengizinkannya untuk kembali ke Bundesliga bersama Bayern Muenchen.

Kini bersama Die Roten, Boateng terhitung sebagai  salah satu pemain belakang terbaik di dunia dan ia suskes memenangkan dua Liga Champions dan dan delapan gelar Bundesliga di Allianz Arena.

13. Manchester United - Alan Shearer

Begitulah kualitas dan prestise akademi Manchester United sehingga Anda bisa menjadi tim Liga Premier yang cukup kuat dari alumni yang tidak cukup berhasil di Old Trafford, dari Jonny Evans hingga Dwight McNeil.

Tapi bukan rahasia bahwa Sir Alex Ferguson sangat ingin bekerja dengan Alan Shearer, pencetak gol terhebat dalam sejarah Liga Premier, namun mengalami kegagalan sebanyak dua kali untuk mendatangkannya. Memang, Shearer dilaporkan melecehkan Ferguson pada dua kesempatan terpisah - pertama ketika ia meninggalkan Southampton sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan di sepak bola Inggris, dan kemudian ketika ia pergi dari Blackburn usai membawa The Riversiders memenangkan Liga Premier musim 1994/95.

Pembicaraan diadakan dengan Shearer dan agennya, tetapi akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menandatangani kontrak dengan klub masa kecil Newcastle. Shearer tidak mencicipi trofi selama sisa karirnya, sementara United akan mendominasi sepakbola Inggris tanpa dia.

14. Newcastle - Dennis Bergkamp

Dennis Bergkamp identik dengan gol terkenal ke gawang Newcastle, namun nyatanya mantan pemain Ajax itu pernah diminati oleh manajemen The Magpies.

Setelah tiga musim yang sarat gol di Ajax, Bergkamp berjuang untuk menghasilkan sepak bola terbaiknya bersama Inter Milan, sementara Newcastle mencari striker superstar untuk menggantikan Andy Cole dari Manchester United. Menjelang akhir tahun 1995, Newcastle justru mendatangkan Les Ferdinand yang tampil luar biasa bersama Queens Park Rangers.

15. Sheffield United - Diego Maradona

Kembali pada tahun 1970-an, manajer Sheffield United, Harry Haslam melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dalam misi untuk mengkontrak Ossie Ardiles dan Ricky Villa namun sayang keduanya malah bergabung denganTottenham Hostpur.

Haslam mencari alternatif dan segera memutuskan untuk Diego Maradona yang waktu masih sangat belia dengan menyetujui kesepakatan 400 ribu Poundsterling dengan Argentinos Juniors. Satu-satunya masalah adalah majikan Haslam, pimpinan Sheffield United saat itu,  John Hassell menyatakan bahwa tidak ada pesepakbola berusia 18 tahun yang bisa mendapatkan jumlah yang begitu besar dan beberapa tahuun setelah itu, Maradona justru menuai banyak kesuskesan.

16. Southampton - Emmanuel Adebayor, Didier Drogba dan Florent Malouda

Southampton bisa saja mengontrak Emmanuel Adebayor, Didier Drogba dan Florent Malouda di musim panas yang sama, membangun momentum kampanye 2002/03 yang membuat mereka finis kedelapan dan mencapai final Piala FA.

Namun manajer saat itu, Gordan Strachan memiliki pemikiran yang berbeda dan Strachan mengirim scoutnya sendir yakni  Ray Clarke, dan Clarke sendiri tidak tertarik dengan Malouda serta mempertanyakan sentuhan pertama Drogba yang mengecewakan. Adebayor, sementara itu, hampir diumumkan sebagai pemain The Saints. Tapi ada sedikit ketidaksepakatan mengenai istilah pribadi, dan tiba-tiba Didier Deschamps yang menjadi manajer Monaco saat itu datang menikung dan jelas pemain Togo itu lebih memilih Monaco.


17. Tottenham - David Beckham

David Beckham mungkin lahir dalam keluarga gila Manchester United, tetapi ia besar di London, menjalani uji coba dengan Leyton Orient dan bersekolah di Tottenham’s School of Excellence. Bekcham muda menghabiskan 4 musim di akademi muda The Lilywhites, dan ketika waktunya ia hampir dipromosikan ke tim utama, bos Tottenham,  Terry Venables justru  menolaknya. Pemilik Inter Miami itu kemudian bergabung dengan akademi Setan Merah pada 1991 dan setelah itu kesuskesnnya terdengar dimana-mana.

18. West Brom - Luka Modric

Ketika ruang direksi West Brom di pegang oleh Jeremy Peace dan Mark Jenkins, The Baggies berusaha keras untuk mendapatkan bintang Dynamo Zagreb saat itu, Luka Modric.

Kepindahan pemenag Ballon d’OR 2018 itu hampir saja terjadi, namun sayang The Baggies gagal promosi ke Liga Premier musim 2006/07, kemungkinan besar jika mereka promosi maka  transfer Modric ke Hawthorns akan terlaksana.

19.West Ham - Andriy Shevchenko

Libero.id

Kredit: instagram.com/andriyshevchenko

Tidak boleh dilupakan bahwa sebelum Chelsea menjadikan Andriy Shevchenko sebagai salah satu pemain gagal termahal dalam sejarah Liga Premier, ia mungkin pencetak gol terbaik di dunia dan telah membawa AC Milan meraih kejayaan Liga Champions 2002/03.

Di tahun 1990-an, Redknapp mengklaim ingin mendatangkan penyerang AC Milan saat itu, Andriy Shevchenko, tetapi asisten Redknapp, Frank Richard George Lampard merasa label harganya terlalu tinggi dan transfer tersebut gagal.

20. Wolves - Michel Platini

Kembali pada tahun 80-an, Bos Wolves saat itu, John Barnwell dengan berani berusaha membawanya ke Molineux dan bahkan sampai ke tahap mendiskusikan biaya dengan Saint Etienne.

Tetapi karena kurangnya dana klub yang berada di Midlands barat itu, dan menurut manajemen klub, gagasan tersebut akan menghabiskan banyak uang serta diperparah dengan Platini yang mengalami patah pergelangan kaki sehingga transfer tersebut gagal.

Tidak lama kemudian, Platini malah pindah ke Juventus, di mana ia memenangkan hampir semua trofi - termasuk tiga Ballon d'Ors berturut-turut.

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0% Suka
  • 0% Lucu
  • 0% Sedih
  • 0% Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network