Bagaimana ini PSSI, mana yang benar?
Keputusan PSSI menghentikan Liga 2 dan Liga 3 berbuntut panjang. Mengaku mendapat desakan dari mayoritas klub kasta kedua, fakta menunjukkan sebaliknya. Beberapa petinggi klub merasa tidak pernah menandatangani persetujuan penghentian kompetisi. Mereka menyebut tandatangannya dipalsukan.

Berdasarkan rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada Kamis (12/1/2023), otoritas tertinggi sepakbola Indonesia itu menghentikan Liga 2 dan Liga 3. Tidak hanya itu, Liga 1 juga tidak ada degradasi.

PSSI beralasan keputusan itu diambil berdasarkan sejumlah alasan. Mulai dari rekomendasi  Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Tragedi Kanjuruhan hingga permintaan 20 dari 28 peserta liga level kedua yang menghendaki penghentian kompetisi 2022/2023.

Untuk memperkuat dalilnya, PSSI kemudian merilis daftar tandatangan klub yang setuju penghentian kompetisi. Ada sejumlah nama pengurus klub yang tertera dalam daftar tersebut.

Masalahnya, setelah dikonfirmasi ke beberapa orang yang ada di daftar tersebut, banyak orang terkejut. Pasalnya, beberapa pengurus klub mengaku tidak pernah membubuhkan tandatangan. Mereka menuduh tandatangannya sengaja dipalsukan oleh PSSI.

Contohnya, Karo United salah satunya. Mereka membantah menyetujui penghentian Liga 2 musim ini.

"Karo United tak pernah setuju terkait pengajuan Liga 2 dihentikan. Sikap klub disampaikan perwakilan kami dalam owner meeting 14 Desember. Kami dengan tegas mengusulkan kepada PSSI dan PT LIB untuk sistem bubble. Bila sistem bubble tak dijalankan, kamu usul liga ditunda sampai seluruh klub siap," tulis Karo United di Instagram.

"Terkait informasi manajemen Karo United menyetujui liga dihentikan, kami akan telusuri lebih lanjut. Sebab, hingga informasi ini beredar, posisi Karo United dengan tegas meminta liga dilanjutkan," lanjut tim promosi itu.

Bukan hanya Karo United. Persela Lamongan juga ada dalam daftar yang sama. Dan, manajemen Laskar Joko Tingkir kemudian memberikan klarifikasi. Mereka membantah menyetujui penghentian Liga 2

"Persela sangat komit terhadap kelanjutan Liga 2. Keputusan menyangkut kelanjutan liga jangan sampai mengorbankan orang-orang yang benar-benar mencintai dan ingin memajukan sepakbola Indonesia. PSSI dan LIB harus mengakomodasi klub-klub yang masih serius dan siap melanjutkan liga," tuls Manajer Persela Lamongan, Fariz Julinar, Instagram resmi klub.



Senada dengan Persela Lamongan, manajemen Persiba Balikpapan juga bingung mengapa tandatangannya ada di daftar penghentian Liga 2. COO Persiba Balikpapan, Imam Turmudzi, langsung merespons. Dia memberikan sanggahan. Dia membantah itu tandatangannya.

"Tanda tangan palsu itu. Saya tanda tangan, tapi bukan itu isinya," ujar Imam Turmudzi kepada media.

Imam Turmudzi menceritakan saat rapat pemilik klub dengan PT LIB pada 14 Desember 2022, kesepakatan dihasilkan. Semuanya sepakat kelanjutan kompetisi 2022/2023 dengan sistem sentralisisasi (bubble, terpusat) dengan pembiayaan dan tanggung jawab peyelenggaraan pertandingan PT LIB.

“Saya tanda tangani itu saat owner meeting dan ada kesepakatan kalau liga dilanjutkan dengan sistem bubble dengan semua operasional tanggung jawab PT LIB," tambah Imam Turmudzi.





Tuduhan pemalsuan tandatangan juga dilontarkan CEO PSCS Cilacap, Fanny Irawatie. Dia menyatakan tidak pernah menandatangani surat kesepakatan tersebut. Sebaliknya, PSCS Cilacap merupakan salah satu klub yang justru menginginkan Liga 2 bergulir kembali.

"Saya tidak tahu ada surat itu. Bukan tanda tangan dan bukan tulisan saya. Apalagi kami merupakan klub yang menginginkan liga dilanjutkan. Kami secara resmi juga mengirimkan surat yang isinya meminta agar Liga 2 tetap dilanjutkan. Surat tersebut kami kirim sehari setelah owner meeting, yaitu 15 Desember 2022," ujar Fanny Irawatie.

"Ada Kongres PSSI pada 15 Januari 2023. Kami lihat PSSI akan menyampaikan apa. Apakah akan diputuskan lanjut atau tidak Liga 2. Kami lihat statuta seperti apa. Kalau pemberhentian tidak sesuai statuta, kami akan protes," pungkas Fanny Irawatie.