Hasilkan 102 gol untuk klub di musim 2020/2021 seharusnya membuat trisula maut Prancis tajam di Euro 2020.
Mencetak 102 gol untuk Barcelona, Paris Saint-Germain (PSG), Barcelona, dan Real Madrid sepanjang musim 2020/2021, suporter Prancis berharap banyak pada Antoine Griezmann, Karim Benzema, dan Kylian Mbappe saat bertemu Hungaria di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (19/6/2021) malam WIB.

Ada kegembiraan besar ketika Didier Deschamps berfantasi saat melawan Jerman dengan menempatkan trisula maut: Griezmann, Benzema, Mbappe di starting line-up. Tapi, setelah unggul 1-0, justru lini tengah yang mendapat sambutan hangat.

Deschamps memulai dengan trisula penyerang tersebut untuk pertama kalinya dalam sebuah pertandingan kompetitif. Sayang, justru gol bunuh diri bek Jerman, Mats Hummels, yang menentukan hasil pertandingan Grup F. Ketiga sama sekali tidak mampu menjebol jala Manuel Neuer.

Setelah pertandingan, surat kabar asal Marseille, La Provence, menggambarkan poros lini tengah Paul Pogba, N'Golo Kante, dan Adrien Rabiot sebagai "Segitiga Emas". Itulah kontrol yang mereka berikan kepada sang juara dunia melawan Jerman. Merekalah pahlawan hari itu.

Karena itu, pertandingan selanjutnya melawan Hungaria seharusnya menawarkan paket serangan yang menakutkan. Ini menjadi kesempatan emas bagi ketiganya untuk merebut kembali pusat perhatian fans setelah Benzema dan Mbappe mengalami malam yang membuat frustrasi di Allianz Arena dengan gol yang dianulir karena off side.

Ini gampang-gampang susah. Secara teknis tidak akan ada masalah. Hal yang menganggu justru ada di tribun. Dengan fans tuan rumah yang memenuhi setiap sudut stadion, tekanannya akan berbeda.

Contohnya, di pertandingan pertama. Di bawah dukungan suporter di Puskas Arena, Hungaria bertahan dengan gaya yang penuh bersemangat melawan Portugal. Juara bertahan terlihat frustrasi. Terbukti, tiga gol Portugal baru bisa tercipta pada menit 84, 87 (pen), dan 92.  

Hungaria asuhan Marco Rossi hanya memiliki sedikit waktu untuk membereskan diri dari kekalahan itu (yang pertama dari 11 laga) dan segalanya akan menjadi lebih sulit saat melawan Les Bleus. Apalagi, Deschamps kemungkinan akan memulai dengan Mbappe, Griezmann, dan Benzema lagi.

Jika trisula itu tidak cukup membuat pusing Hungaria, suhu udara saat kick-off di sore hari yang diperkirakan 30 derajat Celcius bisa menjadi faktor non teknis lain yang menyulitkan Hungaria maupun Prancis.

"Saya pikir ketika cuaca sepanas itu, sulit bagi semua orang untuk bermain. Ini juga akan sulit bagi Prancis. Kami semua tahu betapa bagusnya mereka. Jadi yang penting adalah mengistirahatkan fisik dan mental sehingga kami bisa menghadapi Prancis dengan cara terbaik," kata Pelatih Hungaria, Marco Rossi, dilansir Reuters.

Prancis akan lolos ke babak 16 besar jika memenangkan pertemuan pertama dengan Hungaria dalam 16 tahun. Sebaliknya, kekalahan lain akan membuat Hungaria mengakhiri peluang untuk maju ke fase selanjutnya.

Bek Prancis Lucas Hernandez, yang umpan silangnya diubah menjadi bunuh diri oleh Hummels, mengatakan tidak akan ada penurunan intensitas. Bahkan, jika di atas kertas, pertandingan Sabtu adalah yang termudah dari tiga pertandingan grup. "Melawan Hungaria dan kemudian Portugal, kami harus melakukan agresi ini lagi," kata Hernandez.

"Kami mengatur tempo melawan Jerman. Tapi, kami harus terus melawan Hungaria. Stadion akan penuh dan intimidatif. Kami tidak lagi terbiasa dengan itu. Ini akan menjadi pertempuran lain. Hongaria bertahan dengan baik melawan Portugal selama 80 menit. Mereka kuat dalam bertahan. Mereka tidak meninggalkan banyak ruang. Kami harus waspada," ungkap Hernandez.

Harapan Hungaria mendapat pukulan lagi minggu ini ketika Daniel Gazdag mengundurkan diri dari skuad karena cedera. Itu membuat mereka kehilangan kreativitas lain setelah Dominik Szoboszlai dan Zsolt Kalmar juga absen di turnamen.

Szabolcs Schon, yang golnya dianulir melawan Portugal ketika skor 0-0 setelah masuk sebagai pemain pengganti, sepertinya tidak akan memaksa masuk ke starting line-up. Kemungkinan, Rossi akan tetap percaya dengan Roland Sallai dan Adam Szalai di depan.