Jerman lebih dulu melakukan aksi protes.
Pada Maret 2021, sebelum kualifikasi Piala Dunia melawan Gibraltar, negara Skandinavia itu memprotes masalah hak asasi manusia di Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

The Guardian melaporkan bahwa terdapat 6.500 pekerja asing yang kebanyakan dari India, Pakistan, Sri Lanka, Nepal, dan Bangladesh telah meninggal di Qatar sejak 2010 saat membangun stadion untuk Piala Dunia 2022.

Para pemain Norwegia mengambil sikap dengan mengenakan kaos bertuliskan "HAK MANUSIA - Di Dalam dan di luar Lapangan" saat mereka berbaris jelang pertandingan.

Asosiasi Sepakbola Norwegia (NFF) sedang mempertimbangkan untuk memboikot turnamen tersebut. Media lokal NRK mengatakan federasi akan membuat keputusan akhir setelah mengadakan pemungutan suara pekan ini.

Norwegia telah memainkan tiga laga kualifikasi Piala Dunia sejauh ini, tetapi mereka kemungkinan akan terkena denda 40.000 Franc Swiss (Rp 625 juta) jika negara tersebut memilih untuk keluar dari kualifikasi. Hukuman itu belum termasuk denda finansial lainnya.

"FIFA jelas ingin menyamakan boikot dengan menarik diri dari kompetisi, yang berarti Norwegia tidak berpartisipasi lebih jauh dalam pertandingan kualifikasi," bunyi pernyataan dari NFF sebagai tanggapan kepada FIFA.

Tetapi, NRK menambahkan penolakan mereka juga mungkin melihat konsekuensi yang lebih substansial.

FIFA dilaporkan telah menulis surat kepada NFF untuk memberi tahu mereka bahwa boikot mereka dapat membawa larangan untuk Piala Dunia 2026, yang akan diadakan di AS, Kanada, dan Meksiko (jika mereka memenuhi kriteria lolos).

Bahkan, ada kemungkinan pendanaan dalam sepakbola Norwegia dibatalkan jika negara ini berdiri teguh dalam protesnya.