Bahkan Manny Pacquiao, Oscar de La Hoya, Saul 'Canelo' Alvarez dan Conor McGregor gagal mengalahkan Mayweather.
Kalau Anda mengikuti tinju, maka nama Floyd Mayweather seharusnya tidak asing. Petinju Amerika Serikat yang menyabet 16 gelar juara di lima kelas berbeda. Ia adalah legenda dan pemenang sejati. Ia memegang rekor 50 kali tak terkalahkan.

Namun, ada titik dimana Mayweather berada di bawah ketiak petinju lain. Coba ingat-ingat siapakah petinju yang kali terakhir bisa menaklukkan Mayweather, apakah Conor McGregor? Tentu saja bukan.

Sosok itu bernama Serafim Todorov, nama yang jarang publik ketahui. Karena memang usai mengalahkan  Mayweather kariernya tidak berjalan dengan cara yang sama seperti mantan juara dunia itu.

Mayweather merasakan kekalahan dalam keadaan kontroversial di Olimpiade 1996 di Atlanta, Georgia. Mayweather yang saat itu masih berusia 19 tahun kalah 10-9 dari Todorov dari Bulgaria, delapan tahun lebih tua darinya.

Wasit sempat keliru mengangkat tangan Mayweather saat Todorov diumumkan sebagai pemenang pertandingan semifinal.

Todorov, pada saat itu merupakan peraih medali emas tiga kali di kejuaraan dunia dan Eropa, meraih medali perak setelah kalah dari Somluck Kamsing dari Thailand di final.

Namun pasca pertandingan itu,  Mayweather telah menjadi nama terbesar dalam tinju, menghasilkan sekitar 1 miliar Dollar di atas ring, dan karier lawannya, Todorov pergi ke arah yang sangat berbeda.




Titik Awal Kehancuran Karier Serafim Todorov

Serafim Todorov menolak tawaran dari sekelompok promotor di Amerika Serikat dan kemudian mencoba mewakili Turki di Kejuaraan Tinju Amatir Dunia 1997 karena ia merasa negara asalnya, Bulgaria tidak mendukungnya.

Namun hal itu tidak terjadi, sebab Federasi Tinju Bulgaria berdiri teguh. Akibatnya, Todorov kelak pensiun dari tinju 2003.

Setelah 12 tahun tak terdengar, Todorov
kembali ke ring pada tahun 2015 pada usia 46 dan berhasil mengalahkan Aleksandar Chukaleiski dalam empat ronde melalui keputusan mutlak dalam kontes kelas welter.

Pada tahun yang sama, New York Times melakukan bagian rinci tentang Todorov dan mengungkapkan petinju itu hidup dari dana pensiun yang handa 435 Dollar per bulan. Pada saat itu Todorov bahkan dikabarkan tidak memiliki TV layar datar

Ia tinggal di unit apartemen sederhana di lantai satu di Pazardzhik bersama istri, putra dan menantunya, pekerjaannya bervariasi dari bekerja sebagai sopir, di toko kelontong, dan di pabrik sosis.


Setelah Mengalahkan Mayweather

Merefleksikan kemenangannya atas salah satu petinju hebat, Todorov berkata: "Pengalaman saya jauh lebih kuat. Saya mengalahkan semua orang Rusia, semua orang Kuba, beberapa orang Amerika, Jerman, juara Olimpiade.

"Saya mengolok-olok mereka di atas ring. Inggris, Prancis - saya mengalahkan mereka semua. Saya sangat pintar. Saya adalah petarung yang sangat cantik dan menarik untuk ditonton. Anda harus menjadi seorang seniman di atas ring. Saya adalah seorang seniman."

Lalu tiba pada mengomentari Mayweather, “Itu seperti pertarungan lainnya, sejujurnya – saya telah mengalahkan petarung yang jauh lebih kuat."

Dari sis Mayweather sendiri, baru-baru ini ia percaya kekalahannya, meskipun disayangkan, adalah titik pemicu kebangkitannya, "salah satu hal terbaik yang pernah terjadi pada saya" karena mendorongnya dalam permainan profesional.

Mayweather sebetulnya tahu tentang nasib pria berusia 51 tahun yang tempo hari pernah mengalahkannya, dan kini menjadi tunawisma, ia menambahkan bahwa dirinya tidak mengerti mengapa Todorov tidak beralih menjadi pelatih tinju.

"Saya tidak berharap yang terbaik untuknya," katanya kepada World Boxing News .

"Saya tidak tahu mengapa dia tidak menjadi pelatih tinju karena pada saat kami bertarung, dia sudah jauh lebih tua dari saya.

Agak menyedihkan mendengar kaba
Todorov yang seperti itu. Sebuah kisah yang sangat berbeda.

Tetapi setidaknya Todorov dapat mengatakan bahwa dia melakukan apa yang gagal dilakukan Manny Pacquiao , Oscar de La Hoya, Saul 'Canelo' Alvarez dan Conor McGregor.  Ya, mengalahkan Floyd Mayweather.