Dia adalah pemain keempat yang cetak dua gol di debut timnas Prancis. Apa kabarnya kini?
Pada 6 Juni 2011, Martin Marvin membuat suporter tim nasional Prancis senang. Tampil pada debut membela Les Bleus, dia mencetak dua gol. Dia menjadi orang ketiga yang melakukannya setelah Jean Vincent, Zinedine Zidane, dan Bafetimbi Gomis. Akibatnya, julukan "The Next Zidane" disandang. Ada lagi yang menyebut "Little Xavi.

Martin lahir di arondisemen (distrik) 14 di Paris dan berasal dari daerah Porte de Vanves. Dia tumbuh di dekat Parc des Princes dan secara teratur menghadiri pertandingan-pertandingan Paris Saint-Germain (PSG). 

Dia memulai karier sepakbola di Club Athlatique de Paris pada usia enam tahun. Setelah dua tahun di klub, Martin bergabung dengan Montrouge CF di pinggiran selatan Paris. Komitmen Martin terhadap sepakbola semakin cepat setelah tim nasional Prancis memenangkan Piala Dunia FIFA. Dia menggambarkan kemenangan itu sebagai "saat saya ingin menjadi pemain profesional". 

Saat bermain di Montrouge, Martin berlatih dan bermain bersama Hatem Ben Arfa, Issiar Dia, Flavien Belson, dan Dominique Malonga. Kuartet itu bermanfaat bagi tim U-13 yang memenangkan Coupe de Paris pada 1997 dengan mengalahkan PSG di final.

Setelah menunjukkan potensinya di Montrouge, Martin mengikuti seleksi di Clairefontaine. Tapi, setelah seleksi beberapa hari, dia tidak terpilih, meski rekannya Ben Arfa lolos. 

Gagal masuk akademi sepakbola paling elite di Negeri Mode itu, Martin tidak menyerah. Dia terus berlatih dan pada 2002 menarik minat dari klub profesional di Ligue 1, Sochaux, setelah dipantau pemandu bakat klub, Christian Puxel. Dia tampil mengesankan selama trial dan akhirnya dikontrak secara profesional.

Keputusan Martin bergabung dengan Sochaux ternyata tepat. Setibanya di klub, Martin dimasukkan ke akademi dan dengan cepat mengembangkan hubungan yang baik dengan rekan satu timnya di masa depan seperti Ryad Boudebouz, Sloan Privat, Geoffrey Tulasne, hingga Frederic Duplus. 

Martin dipengaruhi untuk berlatih keras di akademi oleh mantan pemain klub, Camel Meriem, serta lulusan akademi lainnya, Jeremy Menez dan Mevlut Erdinc. Mereka adalah pemain-pemain yang mempengaruhi karier Martin di klub itu.

Penampilan Martin di Sochaux benar-benar membuat sorot kamera tertuju. Sebagai gelandang, pemain kelahiran 10 Januari 1988 itu bisa bermain di posisi Zidane dengan sangat bagus. Dia juga bisa beroperasi layaknya Xavi Hernandez yang mengendalikan lapangan tengah. 

Selain empat musim membela Sochaux, Martin memainkan 133 pertandingan Ligue 1 dengan mencetak delapan gol. Akibatnya, dia menjadi rebutan banyak klub besar Eropa seperti PSG, Arsenal, hingga Inter Milan. 



Performa yang bagus di Sochaux juga mengantarkan Martin bermain untuk Les Bleus. Pada 26 Mei 2011, setelah musim liga yang sukses dengan Sochaux, Martin dipanggil ke timnas oleh Laurent Blanc untuk pertandingan melawan Belarus, Ukraina, dan Polandia. Gelandang tersebut menggambarkan panggilan tersebut sebagai "sebuah mimpi".

Kemudian, Martin melakukan debut internasional senior pada 6 Juni 2011 dalam pertandingan persahabatan melawan Ukraina. Dia tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua dengan hasil menang 4-1.

Dalam pertandingan tersebut, Martin mencetak dua gol dan membuat assist untuk gol lainnya, yang dicetak oleh sesama debutan, Younes Kaboul. Dengan dua golnya, Martin menjadi pemain Les Bleus keempat, setelah Vincent, Zidane, dan Gomis, yang mencetak dua gol pada debut internasional.

Sayang, setelah debut yang gemilang, karier Martin justru turun drastis. Setelah tidak dipanggil Blanc untuk Euro 2012, dia meninggalkan Sochaux untuk membela Lille pada 20 Juni 2012.

Pada musim pertama di Lille, Martin masih dipercaya meruput secara reguler. Tapi, pada musim-musim berikutnya, bangku cadangan lebih akrab dengan pesepakbola berpostur 171 cm itu. Martin kemudian memilih dipinjamkan ke Dijon pada 2016/2017 sebelum pindah ke Stade de Reims di Ligue 2 2017/2018. 

Meski sempat membawa Reims promosi ke Ligue 1, performa Martin sangat mengecewakan. Selanjutnya, Martin pindah ke Chambly di Ligue 2. Sayanganya pada akhir musim 2020/2021, klub itu terdegradasi ke  Championnat National 1 (Divisi III) setelah menempati posisi 19 klasemen akhir Ligue 2.



Kegagalan mempertahankan Chambly dan penampilan yang buruk membuat kontrak Martin tidak diperpanjang. Pada transfer window musim panas 2021, dia pindah ke Hyeres di Championnat National 2 (Divisi IV).

"Klub mendapat kehormatan untuk mengumumkan kedatangan Marvin Martin, gelandang serang profesional, mantan pemain nasional Prancis. Berasal dari FC Chambly Oise, Marvin Martin memiliki tidak kurang dari 240 pertandingan di Ligue 1 selama kariernya," tulis klub amatir itu di akun media sosialnya.

Hyeres adalah tim sepakbola Prancis yang bermain di kota Hyeres. Klub ini didirikan pada 1912 dan memainkan musim pertama sepakbola profesional di Prancis pada 1932/1933, tapi terdegradasi. Saat ini klub bermain di tingkat amatir, di Championnat National 2, level keempat sepakbola Prancis.