Nova Arianto bertanya dan menjelaskan dua hal yang akhir-akhir ini jadi kontroversi.
Dalam dua hari terakhir, Asisten pelatih tim nasional Indonesia, Nova Arianto, menjadi pusat pembicaraan di media sosial. Mantan bek tengah Persib Bandung itu mencurahkan isi hatinya tentang skuad Garuda melalui Instagram. Ada apa?

Putra pelatih legendaris Indonesia, Sartono Anwar, itu memutuskan menjadi pelatih setelah gantung sepatu. Mengawali sebagai asisten pelatih Pelita Bandung Raya (PBR), Nova kemudian melatih Madiun Putra, Bhayangkara U-21, Lampung Sakti, dan Bhayangkara U-20.

Dari level klub, mantan pemain yang terkenal dengan selebrasi suster ngesot itu kemudian diminta menjadi asisten pelatih timnas U-23. Kemudian, saat Shin Tae-yong datang, dia diminta menjadi asisten di timnas U-20 maupun senior.

Perkenalan dengan Tae-yong dan pengalaman mendampingi pelatih asal Korea Selatan tersebut ternyata membuat Nova berkesan. Dia mengaku mendapatkan banyak pejalaran berharga mengelola tim dari pelatih jebolan Piala Dunia 2018 tersebut.

Tak jarang, pergumulan Nova bersama tim pelatih timnas dicurahkan di media sosial. Contohnya yang ditunjukkan pada Kamis (9/9/2021). Dalam postingnya di Instagram, pria kelahiran Semarang, 4 November 1978, itu mempertanyakan kualitas pemain Indonesia. Tampaknya, itu ditanyakan Tae-yong kepada  Nova yang belum ditemukan jawabannya.

"Mengapa pemain Indonesia tidak bisa memaksa untuk melebihi batas kemampuannya?" tulis Nova di @novarianto30.

"Itulah pertanyaan besar head coach kami (Tae-yong) dan sebagai mantan pemain. Di saat bermain kita tidak merasakannya. Tapi, di saat menjadi pelatih kita baru sadar dan tahu apa kelemahan pemain saat ini," tambah Nova.

"Melihat timnas berprestasi harapan terbesar saya dan seluruh pecinta sepakbola. Tapi, selama tidak ada perubahan di pemain, harapan itu hanya seperti sebuah mimpi. Kami coaching staff akan berusaha mencoba merubah mental pemain, walau itu tidak akan mudah karena sudah menjadi kebiasaan. Semoga (dengan) berjalannnya waktu pemain bisa merubah mindset mereka untuk bekerja lebih keras," ungkap Nova.

"Pengalaman yang kita dapat akan membuat kita melakukan evaluasi untuk memperbaiki agar ke depan bisa lebih baik lagi," tutup pemilik 12 caps dan satu gol untuk timnas senior itu.




Tentang pemain Indonesia di luar negeri

Hanya berselang 24 jam dari postingan tentang mental pemain Indonesia, Nova kembali curhat di Instagram. Kali ini tentang pemain keturunan Indonesia di luar negeri. Salah satunya, Ahmad Al-Khuwailid Mustafa.

Khuwailid merupakan pemain kelahiran Lhokseumawe, 29 Januari 2000, dari pasangan Mustafa Ibrahim dan Yulizar Syamsuddin. Bersama keluarganya, dia pindah ke Qatar sejak usia 6 tahun. Dia bergabung dengan Aspire Academy di Qatar sebelum direkrut Al-Duhail.

Setelah tampil bagus di level junior dengan menjuarai Liga Qatar U-23, Khuwailid naik ke level senior untuk musim 2019/2020. Meski jarang bermain, Khuwailid tercatat menjadi bagian skuad Al-Duhail yang meraih gelar juara Liga Qatar 2019/2020. Lalu, pada 2020/2021, Khuwailid pindah ke Qatar SC.

Keberadaan Khuwailid di Qatar ternyata diketahui Tae-yong. Konon, dia meminta PSSI untuk membujuk Khuwailid bermain di timnas. Tapi, rumor juga menyatakan sang pemain menolak panggilan itu.

"Jangan membuat opini opini sendiri mengenai Khuwailid karena banyak yang beredar mengatakan Khuwailid menolak panggilan timnas. Kita belum melakukan pemanggilan kepada siapapun karena tugas yang diberikan head coach kami adalah untuk menanyakan kondisi pemain berpaspor Indonesia, seperti bagaimana kondisi mereka dan agenda klub masing-masing," tulis Nova.

"Semua sudah dihubungi, termasuk salah satunya Khuwailid. Tapi, karena saya tidak punya kontak Khuwailid, saya mencoba berkomunikasi dengan kirim ke DM IG Khuwailid dan bertanya ke ayah Khuwailid. Saya pernah berkomunikasi (dengan ayah Khuwailid) pada Januari. Tapi, memang sampai saat ini belum ada respons dari beliau," tambah Nova.

"Tetap selalu berpikir positif. Mungkin ada kesibukan beliau dan Khuwailid masih fokus bersama klubnya. Jadi, tidak ada yangg salah di sini. Hanya komunikasi yang belum terjalin dengan baik. Saya masih selalu berpikir orang Indonesia akan selalu punya kebanggaan untuk membela tim nasional," tutup Nova.




Tanggapan warga dunia maya

Baik postingan pertama maupun kedua, mendapatkan tanggapan beragam dari banyak orang. Ada yang mendukung. Tapi, beberapa lainnya justru merespons negatif.

"Nikmati Prosesnya dan metode itu lambat laun akan melekat kepada para punggawa timnas kita. Lanjukan Coach Vava," tulis mantan penyerang timnas, Zaenal Arief, saat menanggapi postingan mental pemain Indonesia melalui @zaenalarief96.

"Mantap coach. Mungkin Khuwailid jarang main handphone. Kan beda pesepakbola sini (Indonesia) sama di sana (Qatar). Di sini handphone, terus endorse terus," tulis @larejawimboiis tentang Khuwailid. 

"Ya lagian masak timnas mau ngontak (menghubungi) pemain lewat DM Instagram. Terus tidak dibalas dijawab tidak ada respons tanpa menjelaskan lebih lanjut. Yang bener saja coach. Timnas pernah kirim surat ke klubnya tidak? Masa DM instagram?" tulis @lfc.van.java_.