Sangat sulit membayangkan Liga 1 musim depan tanpa Persipura.
Persipura Jayapura sedang berada di titik terendah sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994. Mutiara Hitam musim ini jadi bulan-bulann para peserta Liga 1. Yang paling baru menyerah 2-4 dari Persik Kediri di Stadion Moch Soebroto Mangelang, Kamis (21/10/2021) malam.

Membayangkan Persipura berada di zona merah degradasi tidak pernah ada dalam benak para penggemar sepakbola Indonesia sejak lama. Itu karena tanah Papua melahirkan banyak telenta hebat lapangan hijau.

Sokongan materi yang jempolan dan kucuran dana melimpah dari PT Freeport Indonesia telah membuat Persipura menjadi kekuatan sepakbola yang ditakuti klub besar dari Pulau Jawa seperti Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, atau Arema FC. 

Persipura tercatat menjadi klub pengoleksi gelar Liga Indonesia terbanyak dengan empat piala. Mereka juga memiliki satu piala kompetisi tidak resmi Indonesia Soccer Championship (ISC A), yang digelar saat Indonesia dihukum FIFA. Mereka juga tiga kali menjadi runner-up maupun peringkat ketiga.



Namun, itu dulu. Mutiara Hitam di Liga 1 2021/2022 benar-benar berbeda. Mereka berubah dari klub besar dengan prestasi bagus dan permainan menghibur menjadi klub papan bawah. 

Statistik menunjukkan, kekalahan dari Macan Putih menjadi yang kelima dari delapan pekan Liga 1 musim ini. Mereka hanya menang satu kali melawan Persiraja Banda Aceh serta imbang dua kali dengan Persija dan Madura United. Akibatnya, mereka ada di zona degradasi. 

Meski liga masih panjang, Jacksen Tiago harus berbenah. Jika gagal, Persipura akan mencatatkan sejarah buruk turun ke kasta kedua kompetisi Indonesia untuk kali pertama sejak 1994.