Dengan darah Indonesia, ia malang melintang di kompetisi benua biru
Jordi Amat tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola tanah air, pasalnya mantan pemain Swansea City dan Espanyol itu dalam satu wawancara panjang secara terbuka mengaku merupakan keturunan Indonesia.

Pemain yang saat ini berseragam KAS Eupen di Jupiler Pro League atau kasta tertinggi Belgia itu mengatakan kepada Goal Indonesia.

“Nenek saya dilahirkan di Makassar, Sulawesi dan merupakan sosok penting yang mendukung saya dalam karier sepak bola selama ini,” ucap Jordi Amat.

Selanjutnya pemain kelahiran 21 Maret 1992 itu berkata, “Ibu dari nenek saya berasal dari Siau, dan ayahnya yang tak lain moyang saya bernama M.D Kansil berasal dari Banda Neira, Maluku,”tambahnya.

M.D Kansil atau Manalang Doelag Kansil bukanlah nama asing di telinga orang-orang Sulawesi. Sebab nama itu dulunya merupakan Raja di Kerajaan Siau --- kerajaan yang terletak di Sulawesi Utara dari 1895 hingga 1908.

“Semenjak kecil, nenek saya sering menceritakan kepada saya tentang moyang saya yang merupakan Raja Siau ke-17 dan kisah-kisah tersebut telah membangunkan lagi naluri ingin tahu saya tentang Indonesia,”

Dalam wawancara yang sama, pemain berusia 29 itu mengakui keinginannya untuk membela timnas Indonesia.

Meskipun memiliki darah Indonesia, Jordi Amat tak pernah merasakan diri sebagai bagian dari Indonesia yang utuh. Jordi Amat lahir di Catalunya, Barcelona dengan nama lengkap Jordi Amat Maas.

Memulai kariernya di Canet de Mar

Pada 1999, di usianya yang baru 7 tahun, pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini hijrah ke klub papan atas Catalunya, Espanyol.

Perjalanan Jordi Amat ke skuad utama Espanyol berjalan dengan mulus. Pada 2009, ia bergabung dengan tim B Espanyol dan setahun setelahnya, ia berhasil menjalani debut di skuad utama saat Espanyol menghadapi Real Mallorca di La Liga Spanyol.

Dimana pada saat itu, klub yang berjuluk Los Periquitos masih dilatih oleh Mauricio Pochettino --- pelatih Paris Saint-Germain saat ini.

Dan hubungannya dengan Pochettino juga sangat baik.

“Pochettino seperti ayah saya. Itu hubungan yang spesial. Dia menjaga saya dan dia berbicara banyak kepada saya, dia mengatakan Anda harus begini, harus begitu.” ucap Jordi Amat.

“Pochettino berkata bahwa ia sama dengan saya, 20 tahun sebelumnya,  ketika dia berusia 17 tahun memainkan debutnya di bawah Marcelo Bielsa. Itu seperti kemiripan, di tahun yang berbeda,”

Pada musim 2012, Jordi Amat dipinjamkan ke Rayo Vallecano dan kembali ke Espanyol pada 2013, Jordi Amat pun mendapat tawaran dari Swansea City yang kemudian memboyongnya.

Empat tahun di Liga Premier, ia berhasil membawa The Swans bersaing cukup pantas dengan finis di urutan ke-8 pada musim 2014/15.



Pada 2017, Jordi Amat lalu hengkang ke Real Betis degan status pinjaman. Dan ternyata kepergiannya berimbas pada buruknya penampilan Swansea yang pada musim itu berujung degradasi.

Sekembalinya ke Swansea pada 2018, Jordi Amat dilepas secara permanen ke Rayo Vallecano, satu musim disana, Jordi
Setelahnya, ia hengkang ke Belgia dan lalu berseragam KAS Eupen dari 2019 dengan kontrak yang akan habis pada musim panas 2022 mendatang.

Performanya juga terbilang moncer, dimana pada musim 2021/22 ini, ia ditunjuk sebagai kapten KAS Eupen dan berhasil membawa timnya bersaing di papan atas Jupiler Pro League dengan menempati peringkat ke-3 dalam 11 pertandingan sejauh ini.



Selain itu, di level internasional Jordi Amat juga pernah merasakan seragam La Furia Roja, dengan membela kelompok usia tim nasional Spanyol dari U-19, U-20 dan U-21.

Dari tiga tim kelompok usia tersebut, Jordi Amat telah menorehkan 27 dan sempat tampil di Kualifikasi Euro U-21.