Mereka juga pernah mendatangkan Zico. Setelah 2014, klub benar-benar kesulitan bernapas.
Pada 25 Agustus 2008, dunia dikejutkan kontrak berdurasi 2 tahun senilai USD 14 juta, yang ditandatangani pemilik Ballon d'Or sekaligus Pemain Terbaik Dunia 1999, Rivaldo Vitor Borba Ferreira. Bukan dengan klub Eropa, melainkan Bunyodkor dari Uzbekistan. Bagaimana kabar mereka sekarang?

Empat tahun sebelum kedatangan legenda Brasil tersebut, Bunyodkor belum eksis. Mereka baru lahir pada 6 Juli 2005, dengan nama Neftgazmontaj-Quruvchi atau biasanya disapa Kuruvchi.

Awalnya, klub ini bermain di Liga Regional Tashkent, yang setara dengan kasta ketiga kompetisi Uzbekistan. Dalam waktu singkat, Kuruvchi mendapatkan tiket promosi ke Pro Liga 2006. Pada musim pertama di kompetisi kasta kedua di bawah Super Liga itu, mereka langsung juara sehingga berhak bermain di kasta elite 2007.

Langkah ajaib Bunyodkor berlanjut di Super Liga 2007. Pada musim pertama, mereka langsung menjadi runner-up di belakang sang juara, Pakhtakor Tashkent, sehingga mendapatkan selembar tiket ke Liga Champions Asia (LCA) 2008.

Setelah 3 tahun yang mengejutkan itu, sensasi mulai diciptakan Bunyodkor. Pertama, mereka mengumumkan membangun stadion baru dengan biaya USD250 juta, berkapasitas 34.000 kursi, dan berstandar FIFA. Masalahnya, 1 tahun sebelumnya, mereka baru menyelesaikan renovasi besar-besaran stadion kandang berkapasitas 15.000 kursi.

Belum selesai menjawab pertanyaan publik, manajemen Bunyodkor menggelar sebuah pertandingan persahabatan melawan Barcelona di Taskhen untuk selanjutnya para pemain mendapatkan kesempatan berlatih di Camp Nou.

Kesepakatan juga memuat kunjungan sejumlah bintang El Barca seperti Lionel Messi, Carles Puyol, Andres Iniesta, hingga Cesc Fabregas, yang baru bergabung dari Arsenal.  Berapa dana yang harus dikeluarkan Bunyodkor? USD1 juta untuk masing-masing dari pemain-pemain bintang tersebut.

Tapi, Bunyodkor tidak berhenti dengan kedatangan Messi. Mereka menjadi headline setelah mengajukan tawaran resmi kepada Samuel Eto'o dengan kontrak jangka pendek yang fantastis. Tanpa malu-malu, proposal itu langsung diajukan kepada Presiden Barcelona, Joan Laporta, dan pemain yang bersangkutan (Eto'o).

"Kepala saya mulai berputar ketika saya mendengar apa yang mereka tawarkan. Bayangkan, USD25 juta untuk dimainkan 2-3 bulan saja," kata Eto'o kepada stasiun televisi Prancis, Telefoot, saat itu setelah kembali dari Tashkent untuk mengisi acara yang sama dengan Messi, Puyol, Iniesta, atau Fabregas.

Lalu, apa jawaban Eto'o? Meski mendapatkan izin Barcelona dan Laporta, legenda sepakbola Kamerun itu menolak. Dia menghormati rekan-rekan dan suporter Barcelona. Eto'o juga ingin menepis anggapan umum di Eropa bahwa pemain-pemain dari Afrika lebih mementingkan uang dibanding komitmen.

Penolakan Eto'o tidak membuat Bunyodkor sakit hati. Mereka beralih ke Rivaldo. Dengan usia yang sudah 36 tahun dan tidak ada lagi klub besar Eropa yang berminat, tawaran Bunyodkor tentu saja masuk akal bagi mantan pemain Barcelona dan AC Milan itu. Apalagi, dia dibayar USD14 juta selama 2 tahun.

Belanja Bunyodkor dilanjutkan dengan mempekerjakan Arthur Antunes Coimbra alias Zico sebagai pelatih. Tapi, legenda Brasil itu hanya bertahan 4 bulan sebelum mendapatkan tawaran yang lebih menantang di Rusia bersama CSKA Moscow. Pada saat itu, Bunyodkor menjadi "klub super". Apalagi, logo mereka dibuah mirip lambang Barcelona.

Predikat klub super semakin melekat karena pada debut di LCA bersama Rivaldo, Bunyodkor langsung menggebrak. Perkasa di fase grup, mereka melangkah ke perempat final dan terhenti di semifinal dari Adelaide United.

Namun, ditengah kekaguman orang pada Bunyodkor, tetap saja ada yang mempertanyakan sumber dananya. Sebab, Uzbekistan saat itu bukan negara kaya. Mereka berbatasan dengan Afghanistan yang sedang berperang. Pendapatan rata-rata rakyatnya juga di bawah USD30. Sementara tingkat pengangguran menurut Bank Dunia mencapai 40%.

Jadi, darimana uangnya? Apa yang terjadi di Uzbekistan? Mengapa mengelontorkan uang jutaan dollar jauh lebih penting dibanding memberi pekerjaan kepada jutaan rakyat?

Tidak ada yang tahu pasti jawabannya. Bahkan, Alisher Usmanov, warga Uzbekistan yang dikenal sebagai pemilik Arsenal itu tidak pernah tahu siapa sebenarnya pemilik Bunyodkor.

"Di Uzbekistan kebanyakan orang sangat takut pada penguasa. Sebab, mereka telah menunjukkan lebih dari sekali bagaimana cara menghadapi orang-orang yang berbeda," kata Danil Kislov, editor situs berita oposisi Uzbekistan, ferghana.ru.

Secara formal, Miradil Djalalov didaftarkan sebagai pemilik Bunyodkor. Dia adalah bos Zeromax, yaitu sebuah perusahaan yang berbasis di Swiss dan bergerak di banyak bidang, termasuk pertambangan minyak, gas, dan emas. Lokasi kerjanya di Uzbekistan.

Tapi, Djalalov tidak bekerja seorang diri tanpa dukungan mantan Diktaktor Uzbekistan, Islam Karimov. Sang putri, Gulnara Karimova, dikatakan bertanggung jawab atas kebangkitan Bunyodkor. Zeromax secara luas dianggap dikendalikan olehnya.

Sensasi Bunyodkor ketika itu dianggap sebagai bagian dari upaya Karimov mengenalkan Gulnara kepada publik sebelum akhirnya ditunjuk sebagai presiden selanjutnya lewat pemilihan umun yang sudah direkayasa.

Rencana itu akhirnya tidak terwujud setelah Presiden Karimov menderita sakit sejak 2013 dan harus berjuang untuk hidup hingga meninggal pada 2016. Segera setelah kematiannya, Nigmatilla Yuldashev ditunjuk sebagai presiden sementara hingga pemilu yang dinilai kurang demoktaris memenangkan Shavkat Mirziyoyev.

Kondisi itu juga mempengaruhi prestasi Bunyodkor di sepakbola. Sejak menjadi runner-up 2007, Bunyodkor juara pada 2008, 2009, 2010, 2011, dan 2013, serta runner-up 2012. Semua itu terjadi di era ketika Presiden Karimov dan putrinya memiliki kekuasaan untuk mengatur semua hal.

Setelah 2014, klub benar-benar kesulitan bernapas. Mereka tidak lagi memiliki pemain-pemain dengan level seperti Rivaldo atau pelatih sekelas Zico. Prestasi terbaik Bunyodkor adalah runner-up 2016. Selebihnya, peringkat 4 pada 2014, 2015, 2017, 2018, dan 2020. Lalu, peringkat 3 pada 2019.

Tenggelamnya Bunyodkor benar-benar dimanfaatkan Pakhtakor untuk kembali mendominasi. Mereka juara 4 kali dalam 7 musim terakhir. Sementara yang 3 musim lainnya menjadi milik Lokomotiv Tashkent.