Sebuah tempat keramat yang digunakan diskusi semua anggota skuad.
Seperti ruangan marmer di Highbury atau menara kembar Wembley yang legendaris, Liverpool juga pernah memiliki sebuah tempat keramat yang digunakan diskusi semua anggota skuad. Dari tempat bernama "Boot Room" itu, hadir 13 trofi Liga Inggris dan 4 Piala Champions.

Pada periode 1960-an hingga awal 1990-an, Boot Room menjadi tempat pertemuan staf pelatih Liverpool. Di sana mereka akan duduk, minum teh, dan mendiskusikan tim, baik taktik maupun cara mengalahkan lawan yang segera dihadapi.

Disebut Boot Room karena merupakan sebuah ruangan kecil di dekat ruang ganti pemain di Anfield, yang fungsi utamanya menyimpan sepatu bola seluruh anggota tim. Bill Shankly mengubahnya menjadi ruang pertemuan pelatih informal, dengan suasana santai, dan Joe Fagan yang pertama meletakkan sekardus bir di tempat itu sebagai minuman selain teh.

Anggota asli atau generasi pertama dari Boot Room terdiri Shankly sendiri. Lalu, Bob Paisley, Reuben Bennett, Tom Saunders, Joe Fagan, dan Ronnie Moran. Baik Bennett maupun Saunders tidak pernah mengelola klub sebagai pelatih kepala. Tapi, Bennett yang bertahan paling lama dan meneruskan tradisi itu hingga era Liga Premier digelar.

Dari kelima kru Boot Room, Saunders adalah satu-satunya yang memegang sertifikat kepelatihan penuh. Tapi, semuanya memberikan benang merah yang menyatukan Liverpool selama hampir 40 tahun.

Setiap orang di jajaran pelatih Liverpool memiliki peran tertentu. Paisley adalah seorang ahli taktik yang memiliki perhatian untuk melihat target transfer. Bennett, yang paling dekat dengan Shankly, adalah penghubung ke pelatih. Fagan, dalam kata-kata Roy Evans, adalah "perekat yang menyatukan segalanya".

Paisley tahu tradisi Liverpool, karena pernah menjadi pemain, fisioterapis, dan kemudian pelatih. Dia juga tahu apa yang diharapkan pendukung setia Liverpool dari diskusi-diskusi yang dilakukan para pelatih.

Sementara Fagan seorang yang pendiam. Tapi, dia sangat cerdas sehingga menjadi favorit Shankly. Sedangkan Bennett adalah teman Shankly serta kolega dan pemain yang layak dalam dirinya sendiri. Dan, setelah Shankly pensiun pada 1974, tradisi Boot Room dijalankan oleh para penggantinya seperti Paisley, Fagan, dan Kenny Dalglish.

"Pada saatnya nanti akan dilengkapi dengan kemewahan seperti meja tua reyot dan sepasang kursi plastik, sepotong karpet lusuh di lantai, dan sebuah kalender di dinding yang nantinya akan dibangun," tulis Fagan di buku catatan hariannya, dilansir The Independent.



"Dihiasi dengan foto-foto, diambil dari koran, gambar model pakaian dewasa. Ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ruangan ini merupakan bagian dari klub sepak bola," tambah pelatih yang hidup pada 12 Maret 1921 hingga 30 June 2001 tersebut.

Selain tempat diskusi yang menarik, Boot Room juga digunakan untuk mendidik pelatih-pelatih Liverpool selanjutnya. Ini dikenal sebagai "cara Liverpool" untuk melakukan regenerasi pelatih yang sesuai dengan filosofi klub.

Pelatih-pelatih Liverpool berikutnya yang dididik di Boot Room adalah Paisley, Fagan dan Moran. Meski Kenny Dalglish tidak dididik di Boot Room, dia menyadari nilai-nilai yang dibawa dan dipertahankannya selama masa kerjanya sebagai pelatih Liverpool.

Dengan Boot Room, Liverpool merajai Inggris dan Eropa. Di era Shankly, The Reds mendapatkan 3 gelar Divisi I, 1 Divisi II, 2 Piala FA, 2 Charity Shield, 1 Piala UEFA. Lalu, di era Paisley, Liverpool memperoleh 6 Divisi I, 3 Piala Liga, 6 Charity Shield, 3 Piala Eropa (Liga Champions), 1 Piala UEFA, 1 Piala Super Eropa.

Selanjutnya, ketika Fagan berkuasa, Liverpool memperoleh 1 gelar Divisi I, 1 Piala Liga, dan 1 Piala Eropa (Liga Champions). Kemudian, Dalglish menyumbangkan 3 Divisi I, 2 Piala FA, 1 Piala Liga, 4 1986, 1988, 1989, 1990. Terakhir, Roy Evans memberikan 1 Piala Liga.  

Sayang, Boot Room akhirnya dibongkar untuk dijadikan ruang pers selama masa pemerintahan Graeme Souness pada pada 1991-1994. Entah kualat atau dikutuk, keputusan pria Skotlandia itu ternyata salah. Meski mendapatkan 1 Piala FA, Souness dinilai kurang berhasil karena tidak ada lagi trofi Divisi I (Liga Premier) yang didapatkan.

Barulah setelah Souness dipecat pada 1994 dan digantikan Evans, Boot Room dikembalikan seperti semula. Tapi, tampaknya aura magis ruangan itu sudah hilang sehingga Evans hanya bisa memberikan 1 Piala Liga sebelum posisinya digantikan Gerard Houllier.

Pelatih-pelatih Liverpool setelah Evans tidak juga menggunakan Boot Room, termasuk Rafael Benitez yang menjuarai Liga Champions. Begitu pula Juergen Klopp, yang baru saja membawa The Reds kembali menjuarai Liga Premier sekaligus Liga Champions.

Boot Room kini justru telah berpindah lokasi ke tribune legendaris, The Kop. Di sana ada sebuah restoran resmi klub yang diberi label "The Boot Room Sport Cafe". Itu adalah restoran yang didalamnya berfungsi juga sebagai museum karena terdapat banyak replika trofi, medali, maupun foto-foto di era kejayaan.

Yang paling menarik dari restoran itu adalah interiornya yang benar-benar copy paste dari Boot Room masa lalu ketika sering digunakan untuk berdiskusi para pelatih legendaris The Reds.