Pertama kali terjadi di dunia.
Biasanya, pemain sepakbola akan dikartu merah wasit saat pertandingan berlangsung atau 1-2 menit setelah selesai. Tapi, yang terjadi di kompetisi kasta bawah Brasil unik. Seorang pemain diusir wasit, 15 menit setelah duel. Bukan karena kecurangan di lapangan yang terlewatkan, melainkan saat wawancara di televisi.

Kisah aneh sekaligus langka itu terjadi pada Campeonato Paraense 2021 (kompetisi level negara bagian Para). Itu pertandingan leg pertama perempat final di Estadio Municipal Zinho de Oliveira, Maraba, 1 Mei 2021, antara tuan rumah Aguia de Maraba melawan Clube do Remo.

Pertandingan itu berlangsung setelah Remo menempati peringkat pertama fase reguler (diikuti 12 tim). Sementara Aguia di posisi delapan. Berdasarkan regulasi kompetisi, posisi 1 bertemu posisi 8, posisi 2 bertemu posisi 7, posisi 3 bertemu posisi 6, dan posisi 4 bertemu posisi 5.

Untuk perempat final, semifinal, dan final, pertandingan menggunakan sistem home and away. Tim yang peringkatnya lebih rendah di fase reguler mendapatkan hak untuk menggelar leg pertama terlebih dulu.

Sesuai jadwal, Aguia harus menjamu Remo terlebih dulu pada 1 Mei 2021. Selanjutnya, leg kedua digelar 3 hari kemudian. Semuanya berlangsung biasa-biasa saja selama 90 menit pertandingan. Para pemain kedua kubu melancarkan serangan untuk mencoba menghasilkan gol.

Beberapa kali, pemain-pemain Aguia melancarkan protes kepada sang pengadil lapangan, Joelson Nazareno Ferreira Cardoso. Hal yang sama dilakukan sejumlah punggawa Remo. Tapi, semua protes masih dalam kondisi yang wajar, normal, dan tanpa tekanan berlebih.

Ketika pertandingan baru berjalan 1 menit, Remo sudah unggul 1-0 melalui Lucas Tocantins. Kemudian, Felipe Gedoz menggandakan skor menjadi 2-0 di menit 31 dan menutup paruh pertama dengan kegembiraan di kubu tamu.

Aguia mencoba bangkit pada babak kedua. Mereka mulai melakukan inisiatif penyerangan dan akhirnya berhasil mendapatkan gol di menit 71 melalui Eduardo Echeverria. Tapi, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Sekitar 2 menit kemudian, Edson Carius memanfaatkan situasi untuk membuat Remo memimpin 3-1 hingga menit terakhir.

Setelah pertandingan, semuanya juga berlangsung biasa-biasa saja. Para pemain kedua kubu berjabat tangan. Begitu pula dengan wasit dan para asistennya. Tidak ada tanda-tanda aneh.

Hal yang umum berlaku pada sepakbola di seluruh dunia juga hadir di Campeonato Paraense musim ini, yaitu wawancara di pinggir lapangan oleh stasiun televisi pemegang hak siar. Wawancara biasanya melibatkan kapten, pelatih, atau pemain terbaik masing-masing tim di pertandingan tersebut.

Nah, dalam wawancara dengan TV Cultura selaku pemegang hak siar Campeonato Paraense, Aguia mengutus Romario Augusto da Sousa alias Romarinha. Dengan penuh percaya diri, pemain bernomor punggung 21 itu berbicara banyak hal tentang jalannya pertandingan, mulai dari timnya, tim lawan, suasana stadion, hingga wasit.

"Sayangnya, wasit di Para (Campeonato Paraense) memalukan. Kami telah berada di sini tiga, empat pertandingan, kami disakiti oleh wasit di sini," kata Romarinha dalam wawancara dengan TV Cultura ketika menyinggung tentang kepemimpinan wasit selama kompetisi.  

"Para pemain meletakkan tangan mereka di wajah mereka (tanda frustrasi) dan tidak ada seorangpun di Asosiasi (Sepakbola Para) yang membantu kami menyelesaikan masalah ini. Apapun alasannya mereka terus mengirim orang-orang jahat ini untuk meniup peluit di sini (menjadi wasit). Dengan cara ini (kami) akan sulit (menang)," tambah Romarinha.

Mendengar wawancara Romarinha di televisi yang ada di ruang ganti wasit, Cardoso marah. Tanpa berbicara dengan Luis Diego Nascimento Lopes (AW 1), Jhonathan Leone Lopes (AW 2), atau Andre Michel Petri Galina (ofisial keempat), sang wasit utama langsung mengambil kartu merah dan memberikannya kepada Romarinha.

Kejadian itu berlangsung 15 menit setelah pertandingan berakhir dan semua orang sudah berada di ruang ganti, kecuali mereka yang menjalankan tugas wawancara dengan TV Cultura.

Kemudian, wasit melaporkan kartu merah dalam laporan tertulis yang diberikan kepada Asosiasi Sepakbola Para. Dalam tulisannya, dia menjelaskan alasan dengan sangat lugas. "Itu karena dia (Romarinha) merusak kehormatan dan integritas moral saya, selama wawancara untuk TV Cultura," tulis Cardoso.

Meski antimainstream dan tidak ada di regulasi, Campeonato Paraense mengesahkan keputusan Cardoso. Terbukti, pada pertandingan leg kedua, Romarinha hanya bisa duduk manis di depan layar kaya sambil menyesali ucapannya, 3 hari sebelumnya.

Romarinha semakin menyesal karena Aguia kembali menelan pil pahit kekalahan. Mereka menyerah 0-1 lewat gol Carius di menit 77. Remo melaju ke semifinal untuk menantang Tuna Luso. Laga akan digelar 9 dan 12 mei 2021.