Sepakbola bukan tentang biaya, tapi tentang cinta.
Matteo Pessina tak lagi asing di telinga penggemar tim nasional Italia. Pessina menjelma sebagai gelandang andalan Gli Azzurri di Euro 2020. Performanya begitu gemilang sejauh ini, bahkan dia mencetak gol saat Italia menjamu Wales.

Pessina memang bukan sosok maestro sepakbola sepopuler Lorenzo Insigne dan Marco Verratti, yang memiliki nilai transfer lebih dari 30 juta euro. Namun, di Euro 2020, dia menunjukkan prestasi terbaik. Pemuda berusia 24 tahun itu mencetak gol Italia ketika melawan Wales, sekaligus memastikan Gli Azzurri mengakhiri babak penyisihan grup dengan sembilan poin utuh tanpa kekalahan.

Tapi, sangat berbeda bagi gelandang Atalanta Bergamo itu ketika membahas tentang kesejahteraan dan pendapatan finansial yang diterima Pessina. Untuk ukuran seorang gelandang yang sanggup memenuhi kriteria hingga dapat tampil di Euro 2020, gajinya yang sekarang lebih rendah dari ukuran standar.

Pessina tercatat sebagai pemain dengan penghasilan terendah di skuad Italia. Dia menerima gaji tahunan 400.000 euro (Rp 6,8 miliar). Dia terpanggil masuk skuad Gli Azzurri setelah Roberto Mancini kehilangan Stefano Sensi karena cedera jelang Euro 2020 digulirkan musim panas ini.

"Ini adalah dongeng bagi saya. Itu adalah pertandingan yang sempurna. Saya memulai debut sebagai starter di Kejuaraan Eropa, kemudian mencetak gol seperti sesuatu yang Anda impikan ketika Anda pertama kali mulai bermain sepakbola. Saya tidak akan tidur selama seminggu," kata Pessina.

"Contoh saya menunjukkan bahwa para pemain yang memulai di Serie C dapat mencapai tim nasional jika mereka mau berkorban," timpal Pessina dengan penuh semangat.

Pessina, yang melakukan debutnya di Monza pada 2014, menandatangani kontrak dengan AC Milan pada 2015. Tetapi, dia kemudian pindah ke Lecce, Catania, Como, kemudian berakhir di Atalanta hingga menuai sejarah melakukan caps perdananya bersama Gli Azzurri.

Pessina dapat dianggap sebagai potongan dari kain yang berbeda ketika membandingkan dirinya dengan rekan satu timnya.

Meskipun dia adalah pemain dengan gaji terendah di skuad Italia, Pessina adalah seorang mahasiswa berprestasi yang menekuni studi ekonomi. Bahkan, di waktu luangnya, dia kedapatan belajar untuk sekolahnya tersebut. Sebagai seorang yang cukup berprestasi dalam hal akademik, dia turut berpartisipasi dalam kompetisi balet.

Pessina telah mengakui bahwa dia lebih suka membaca daripada bermain PlayStation dan ingin menjadi seorang arsitek seperti ibunya, yang membuatnya mendaftar di kursus Administrasi dan Ekonomi di Universitas Luiss di Roma.

“Ketika saya masih muda, saya belajar matematika dan geometri. Mereka membantu saya membuka pikiran dan berpikir lebih cepat,” kata Pessina. "Di posisi saya di lapangan, keputusan seperseribu detik dapat membuat perbedaan."

Pessina telah mengakui bahwa dia juga ingin melanjutkan sepakbola sebagai pelatih ketika karier bermainnya berakhir. Dia mencintai matematika hingga tingkat terumitnya, begitupun dia memandang sepakbola. Meski dengan gaji rendah, dia tidak mempermasalahkannya walau performa begitu gemilang di Euro 2020 musim ini.

Pessina mencintai sepakbola. Karena itu, dia berupaya keras tampil maksimal meski penghasilan minimal. Dalam penilaiannya, sepakbola bukan tentang biaya, namun tentang cinta.