Baik pemain maupun pelatih menjadi bahan lelucon selama berbulan-bulan.
Dicoret dari tim nasional karena permainan yang buruk atau cedera sudah biasa dialami beberapa pesepakbola. Tapi, bagaimana jika alasannya kentut? Mantan penyerang Bournemouth, Tokelo Rantie, pernah mengalaminya bersama Afrika Selatan.

Lahir di Parys, Free State, Rantie memulai kariernya di akademi sepakbola ternama di Afsel, Stars of Africa Academy. Setelah lulus, dia bermain di beberapa klub seperti Ferroviario de Beira dan Maxaquene di negara tetangga Mozambik. Kemudian, ke Divisi II Liga Swedia, IFK Hassleholm.

Karena mampu mencetak 10 gol dalam 12 pertandingan setelah paruh musim, Ranties dipinjamkan ke Orlando Pirates di Liga Premier Afsel untuk musim 2011/2012. Dia mencetak 7 gol dalam 20 pertandingan. Klub mencoba untuk meyakinkan Stars of Africa Academy untuk menyelesaikan transfer. Tapi, gagal akibat tuntutan harga yang terlalu tinggi.

Saat Orlando tidak mampu menebus harga Rantie, Malmo datang pada 9 Agustus 2012 dengan tawaran yang langsung disetujui Stars of Africa Academy. Transfer tersebut merupakan kesepakatan pinjaman selama 17 bulan yang dijadwalkan berakhir pada 1 Januari 2014 dengan opsi bagi Malmo untuk membeli Rantie dengan harga tertentu, harga tersebut tidak diungkapkan.

Meski memulai musim dengan cedera lutut dan harus absen selama pramusim 2013, Malmo memutuskan mempermanenkan status Rantie pada 23 April 2013. Dia menandatangani kontrak 4 tahun hingga akhir musim 2016.

Keputusan Malmo terhadap Rantie ternyata tepat. Dia bermain bagus dan produktif. Akibatnya, pada 28 Agustus 2013, mereka telah menjual Rantie ke Bournemouth. Biaya transfer dirahasiakan. Tapi, dilaporkan menjadi rekor pembelian Bournemouth, yaitu 2,5 juta pounds.

Rantie membuat debut pada 17 September, menggantikan pemain sayap Skotlandia, Ryan Fraser, dalam kemenangan 1-0 melawan Barnsley di Goldsands Stadium. Dia membuat line-up pertamanya untuk klub, 4 hari kemudian, dengan hasil imbang 3-3 melawan Middlesbrough.

Gol pertama Rantie untuk The Charries datang pada 9 November ketika membuka skor imbang 1-1 melawan Burnley di Turf Moor. Sementara gol keduanya datang pada Januari 2014 ketika mencetak gol kemenangan saat Bournemouth mengalahkan Huddersfield Town 2-1.

Berkat statusnya sebagai pemain klub Eropa sejak di Swedia, Rantie mendapatkan kesempatan membela timnas. Debutnya untuk Bafana Bafana terjadi pada 15 Juni 2012 dalam pertandingan persahabatan melawan Gabon. Pada pertandingan pertama itu gol perdana dihasilkan Rantie untuk Afsel.

Lalu, pada 2013 Rantie dipilih untuk turnamen pertamanya. Dia terpilih sebagai bagian dari 23 skuad untuk Piala Afrika, yang diadakan di kandang. Rantie mencetak 1 gol saat Afsel dikalahkan Mali di perempat final melalui adu penalti. Saat itu, Afsel dilatih Gordon Igesund.

Setelah Piala Afrika, Igesund tetap melatih hingga 2014. Begitu pula Rantie yang terus bermain pada sejunlah pertandingan internasional, baik uji coba maupun kualifikasi Pial Afrika atau Piala Dunia.

Namun, ada satu momen lucu sekaligus tragis ketika Ephraim Mashaba mengambil alih tongkat kepelatihan Bafana Bafana dari Igesund pada 2014. Dalam sebuah pelatnas singkat jelang pertandingan Kualifikasi Piala Afrika 2017 pada 2016, Rantie dicoret Mashaba. Penyebabnya, buang gas di depan pelatih!

"Untuk menjaga soliditas dan kekompakan di tim ini, kami terpaksa mencoret Toleko Rantie dari pemusatan latihan," ujar Mashaba, ketika menjawab pertanyaan awak media Afsel tentang alasan pencoretan Rantie yang misterius, dilansir The Sun.



Tentu saja pencoretan Rantie mengejutkan dan menjadi perdebatan sengit saat itu. Pasalnya, pemain yang di tahun itu baru meninggalkan Bournemouth menuju Genclerbirligi di Liga Turki adalah langganan timnas. Rantie juga bermain bagus bersama klub maupun Bafana Bafana.

Media-media olahraga Afsel juga tidak langsung percaya dengan klaim sang pelatih. Mereka mencari tahu alasan yang sebenarnya. Dan, ketika diketahui bahwa hal itu karena insiden sepele, Rantie dan Mashaba menjadi bahan lelucon selama berbulan-bulan.

Selain itu, pers juga tak lupa mengkritik keputusan Mashaba. Mereka menulis keputusan pelatih berusia 69 tahun tersebut terlalu berlebihan. Pasalnya, berdasarkan investigasi yang dilakukan, sejumlah media mengklaim bahwa Rantie hanya menurunkan celananya dan tidak sengaja membuang gas dekat dengan Mashaba.

Beruntung, tidak lama setelah kejadian menggelikan itu, Mashaba dipecat pada akhir tahun dan digantikan Stuart Baxter pada awal 2017. Sementara Rantie kembali bermain, meski Afsel tidak ke Piala Afrika 2017. Rantie bahkan mencetak gol pada Kualifikasi Piala Afrika 2019 dan Kualifikasi Piala Dunia 2018.  

Sayanganya karier klub Rantie tidak berjalan mulus setelah meninggalkan Bournemouth  menuju Genclerbirligi. Dia kurang produktif karena hanya mencetak 3 gol dari 26 laga. Kemudian, Rantie kembali ke Afsel untuk membela Cape Town City dan Mamelodi Sundowns.