Kapten adalah posisi bergengsi. Kapten umumnya memberikan solusi bagi tim. Tapi banyak yang ban kaptennya dicabut.
Selain trofi juara, ban kapten sering dianggap sebagai puncak tertinggi karier pemain sepakbola. Apapun akan dilakukan demi kepercayaan yang didapatkan dari pelatih, manajemen, maupun rekan-rekannya. Tapi, ada juga pemain yang harus menanggalkan ban kapten dengan berbagai alasan, termasuk hukuman.

Berdasarkan aturan pertandingan FIFA (Laws of the Game), satu-satunya tanggung jawab resmi seorang kapten adalah berpartisipasi dalam lemparan koin sebelum kick-off dan sebelum adu penalti.

Bertentangan dengan apa yang dipahami secara umum di sepakbola, baik oleh pemain maupun suporter, kapten tidak memiliki kewenangan khusus di bawah Laws of the Game untuk menggugat keputusan wasit. Tapi, pengadil lapangan memang dapat berbicara secara langsung dengan kapten tentang perilaku tim jika diperlukan.

Pada upacara pemberian penghargaan setelah final, kapten biasanya memimpin tim untuk mengumpulkan medali. Setiap trofi yang dimenangkan oleh tim akan diterima oleh kapten. Dia akan menjadi yang pertama mengangkatnya. Kapten juga biasanya memimpin tim keluar dari ruang ganti pada awal pertandingan.

Namun, di luar regulasi resmi itu, kapten adalah posisi bergengsi. Kapten umumnya memberikan solusi bagi tim. Jika moral rendah, kaptenlah yang akan dipandang untuk meningkatkan semangat rekan-rekan setim.

Kapten juga dapat berdiskusi dengan pelatih dalam menentukan starting line-up untuk permainan tertentu. Di lapangan, kapten sering menjadi kepanjangan lidah pelatih dalam berbicara kepada pemain lain terkait perubahan taktik maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan teknis maupun non teknis.

Dalam sejarah sepakbola, ada banyak pemain yang identik dengan ban kapten. Ada pula pemain yang dicatat pernah kehilangan jabatan tersebut, terutama atas keputusan pelatihnya. Dalam kasus itu, mereka akan tetap bermain seperti biasa atau memutuskan pindah ke klub lain.

Berikut ini kelanjutan karier 10 pemain setelah menanggalkan ban kapten miliknya:


1. John Terry (Inggris)

Ketika membahas kapten yang kehilangan ban kesayangannya, maka yang pertama terbersit di kepala adalah John Terry. Dia dikenal sebagai salah satu bek tengah paling berbakat di Inggris dan Liga Premier yang pernah ada, dengan penampilannya untuk Chelsea dan The Three Lions secara konsisten.

Namun, pada 2010 dia dicopot dari jabatan kapten Inggris gara-gara hal yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola. Dia berselingkuh dengan kekasih mantan  rekan setimnya, Wayne Bridge. Perselingkuhan itu terjadi saat Terry dan Bridge sama-sama membela Chelsea.

Setelah dimaafkan dan mendapatkan kembali ban kapten, Terry baru benar-benar kehilangan ban kapten pada 2012. Kali ini lebih serius, terkait dengan tuduhan pelecehan rasial kepada adik Rio Ferdinand, Anton. Untuk kasus ini, Terry terlempar dari Inggris, meski masih tetap bermain untuk The Blues.


2. Barry Ferguson (Skotlandia dan Glasgow Rangers)

Mereka yang kenal Barry Ferguson akan mengingat sikapnya yang berdedikasi di lapangan dan menunjukkan kualitas kepemimpinan jempolan. Ferguson adalah pemain reguler di Skotlandia dan menjadi kapten Glasgow Rangers.

Tapi, perilaku Ferguson di luar lapangan saat bertugas untuk negara dianggap tidak dapat diterima oleh kedua belah pihak. Minum larut malam dan perilaku tidak bertanggung jawab di bangku cadangan Skotlandia menyebabkan Ferguson kehilangan ban kapten. Tidak hanya Skotlandia, melainkan juga Rangers.

Jabatan Ferguson dicopot oleh Pelatih Rengers ketika itu, Paul Le Guen. Dia kemudian didenda karena tindakannya. Tidak lama berselang, Ferguson meninggalkan Skotlandia untuk bermain di Birmingham City.


3. Samuel Eto’o (Kamerun)



Samuel Eto'o adalah striker yang dianggap sebagai salah satu yang terhebat di generasinya. Legenda Barcelona itu mencetak 56 gol untuk Kamerun dan membantu negaranya itu meraih dua kemenangan Piala Afrika dan satu medali emas Olimpiade.

Tapi, setelah kampanye Piala Dunia 2014 yang buruk di Brasil, Eto'o digantikan oleh Stephane M’Bia sebagai kapten. Tidak ada penjelasan untuk hal itu. Eto'o yang sakit hati kemudian mengumumkan pengunduran dirinya dari sepakbola internasional. Tapi, dia tetap aktif di klub hingga benar-benar gantung sepatu pada 2019 setelah membela SC Qatar.


4. Neymar (Brasil)

Banyak yang lupa bahwa Neymar adalah kapten Brasil di era milenial. Dia juga menjadi kapten di Copa Amerika 2015 dan Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Tapi, atas saran sejumlah mantan pemain dan pelatih di Negeri Samba, ban kapten Neymar diberikan kepada Dani Alves sebelum Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona CONMEBOL. Alasannya, aktivitas Neymar di luar stadion penuh kontroversi.


5. William Gallas (Arsenal)

William Gallas bermain untuk tiga klub terbesar London ketika berkarier di Inggris, yaitu Chelsea, Arsenal, dan Tottenham Hotspur. Saat bersama The Gunners, ban kapten menjadi milik bek asal Prancis itu. Dia ditunjuk memimpin rekan-rekannya pada 9 Agustus 2017.

Sayang, mulutnya menghambat kariernya. Gara-gara wawancara dengan media, Gallas harus memberikan ban kapten kepada Cesc Fabregas pada 24 November 2008. Dalam wawancara tersebut Gallas mengkritik habis-habisan rekan-rekannya. Akibatnya, Gallas harus meninggalkan Arsenal ke Tottenham setelah pencopotan tersebut.


6. Christopher Samba (Blackburn Rovers)

Pada era itu, Christopher Samba merupakan raksasa di jantung pertahanan Blackburn Rovers. Dia dianggap sebagai salah satu bek paling solid di Liga Premier. Akibatnya, Sam Allardyce menunjuk pesepakbola asal Kongo tersebut menjadi kapten pada 2010/2011.

Tapi, setelah Steve Kean mengambil alih kendali dari Big Sam, semuanya berubah. Gara-gara berbicara kepada media keinginan mencari tantangan di klub lain "suatu hari nanti", Kean mencopot ban kapten Samba. Dan, segera setelahnya Samba bergabung dengan Samuel Eto'o di Anzhi Makhachkala.


7. Joey Barton (Queens Park Rangers)

Tidak mungkin menyebut nama kapten yang dicopot tanpa melibatkan Joey Barton. Dia sudah menjadi sosok legendaris dan ikonik dalam hal kontroversi, pelanggaran regulasi, kekerasan di lapangan, hingga kata-kata kotor yang keluar dari mulut para pesepakbola.

Sejak kedatangannya ke Queens Park Rangers (QPR) pada awal musim 2011/2012, Barton langsung ditunjuk menjadi kapten olen Neill Warnock. Begitu pula saat Mark Hughes datang pada pertengahan musim.

Tapi, pada hari terakhir musim itu, pada 23 Mei 2012, karier Barton sebagai kapten tamat. Di tengah pertandingan perebutan gelar Manchester City yang terkenal melawan QPR itu, Barton diusir keluar lapangan setelah menyikut Carlos Tevez. Dia kemudian menendang Sergio Aguero sebelum membidikkan sundulan ke Vincent Kompany.

Kesimpulannya, QPR tidak terkesan dengan aksi itu. Selanjutnya, dia dibuang ke Marseille dengan status pinjaman pada 2013/2014.


8. Branislav Ivanovic (Serbia)

Kesuksesan bersama Chelsea lewat 3 gelar Liga Premier, 1 Liga Champions, 1 Liga Eropa, 3 Piala FA, dan 1 Piala Liga telah membuat Branislav Ivanovic mendapatkan kehormatan menjadi kapten Serbia. Dia menjadi kapten pada 2012 hingga dicopot pada 2018 untuk diserahkan kepada Aleksandar Kolarov.

"Kami telah membuat keputusan yang tetap menjadi masalah internal. Tapi, saya ingin menjelaskan bahwa tidak ada kesalahpahaman dengan Ivanovic, yang tetap menjadi bagian dari tim," kata Pelatih Serbia saat itu, Mladen Krstajic, dilansir Daily Mail, saat menolak membeberkan alasan pencopotan itu.

Pada akhirnya, Serbia tidak lolos dari babak penyisihan grup Piala Dunia 2018. Tapi, Ivanovic menjadi pemain Serbia yang paling banyak bermain sepanjang masa dengan 105 penampilan. Dia membuktikan bahwa tidak semua orang hancur hanya karena kehilangan kain yang melekat di lengan.

Sekarang, pada usia 37 tahun, Ivanovic kembali ke Inggris membela West Bromwich Albion setelah menjadi bintang di Zenit Saint Petersburg.


9. Mauro Icardi (Inter Milan)



Hubungan Mauro Icardi dengan Inter Milan dan pendukungnya bisa digambarkan sebagai "cinta tapi benci, benci tapi cinta". Striker Argentina membuat Ultras marah setelah buku autobigrafinya yang kontroversial. Mereka menyuarakan pemecatan Icardi sebagai kapten. Padahal, posisi itu sudah didapatkan sejak 2015 di usia 22 tahun.

Episode itu ternyata segera berlalu dan dia sekali lagi menjadi kesayangan Inter. Tapi, pada pertengahan musim 2018/2019, Icardi harus merelakan ban kapten benar-benar terbang karena sengketa kontrak baru. Hal ini, tentu saja, menimbulkan kemarahan penggemar dan spekulasi tentang masa depan sang striker.

Dia akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada I Nerazzurri ketika bergabung dengan Paris Saint-Germain (PSG) dengan status pinjaman untuk selanjutnya permanen.


10. Granit Xhaka (Arsenal)



Arsenal punya catatan panjang tentang hubungan yang buruk antara kapten dengan suporter. Pernah menimpa Gallas, Fabregas, Robin van Persie, hingga Laurent Koscielny, kutukan itu ternyata juga menyapa Granit Xhaka.

Hanya sebulan sebagai kapten, Xhaka membuat suporter marah. Dalam pertandingan melawan Crystal Palace, Xhaka ditarik keluar. Itu disambut dengan sorakan dari sebagian besar suporter Arsenal. Pemain asal Swiss keturunan Albania itu menanggapi dengan sinis. Dia mengangkat tangannya, meletakkan di telinga, dan melepas jersey Arsenal saat menuju terowongan.

Setelah kejadian, Unai Emery menggambarkan perilaku Xhaka sebagai "kesalahan" dan ban kaptennya diberikan kepada Pierre-Emerick Aubameyang. Saat itu, diperkirakan karier Xhaka di Arsenal berakhir. Tapi, Mikel Arteta datang dan semuanya kembali normal tampa ban kapten di lengan Xhaka.