"Botol, benda terbang kemana-mana. Meja-meja dihancurkan. Semua orang berteriak dan menjerit."
Chelsea memiliki peluang bagus untuk merebut trofi Liga Champions kedua mereka musim ini. Pasukan yang dilatih Thomas Tuchel ini telah lolos ke babak delapan besar, di mana pada fase ini mereka sudah mengalahkan wakil dari Portugal, FC Porto di leg pertama 2-0. Di atas kertas, The Blues sudah merasa seolah-olah mereka tinggal beberapa langkah lagi untuk menjadi juara.

Jika berhasil mengalahkan Porto, mereka bakal melanggeng ke partai empat besar. Lalu jika menang lagi, sampai ke partai puncak, dan satu kemenangan berikutnya sama dengan mengangkat 'Si Kuping Gajah'. Terdengar sedikit halu bukan? Nyatanya perjuangan untuk jadi kampiun liga Champions tak semudah omongan kosong para fans garis keras tapi dungu.

Para fans harus sadar, ada masa dimana Chelsea lebih sering tersingkir ketimbang terus mulus melaju, dan di antara yang paling pahit untuk diingat, ialah pada tahun 2009. Dimana waktu itu, Frank Lampard cs tampak siap menyambut Barcelona di Stamford Bridge di babak semifinal, karena mengetahui kemenangan kecil saja akan membuat mereka maju ke final, Chelsea tampil amat percaya diri.

Saat peluit ditiup, semuanya berjalan sangat baik, laga baru berjalan sembilan menit, langit-langit London bergemuruh, Michael Essien mencetak gol. Tapi semuanya berantakan di penghujung waktu.

Serangkaian permohonan penalti yang dilayangkan Chelsea untuk memprotes yang mereka anggap sebagai pelanggaran jutsru ditolak oleh wasit Tom Ovrebo.

Dan kemarahan Chelsea mencapai titik puncak setelah gol di menit ke-93 Andres Iniesta mengirim tim tamu lolos ke babak final. Chelsea kalah gol tandang. Setelah di leg pertama bermain 0-0 di Camp Nou.

Setelah peluit akhir ditiup Didier Drogba benar-benar marah, dan menghampiri kamera sambil berteriak bahwa hasil laga itu adalah 'aib'. Para pemain lain mengerubungi wasit dan ribuan fans hanya bisa terdiam dan menangis.


Kesaksian John Obi Mikel

John Obi Mikel, yang merupakan pemain pengganti yang tidak dimainkan malam itu, baru-baru ini berterus terang alias terbuka tentang momen sial Chelsea di malam itu, Obi Mikel mengungkapkan apa yang terjadi di ruang ganti setelah pertandingan.

"Itu adalah kekacauan, baik di terowongan stadion dan di ruang ganti setelahnya," kata mantan gelandang Chelsea itu kepada The Athletic, seperti juga yang dikutip oleh Daily Mail.

"Botol, benda terbang kemana-mana. Meja-meja dihancurkan. Semua orang berteriak dan menjerit."

"Ingat, bisa dibilang itu normal, sebab Chelsea kalah dalam pertandingan krusial. Saya tidak tahu tentang sekarang, tetapi kalah di masa lalu jelas tidak dapat diterima sama sekali ... tapi itu benar-benar malam yang gila," terangnya

Chelsea memang punya banyak alasan untuk merasa kesal. Keputusan wasit sangat merugikan mereka dan mencegah mereka mendapat tempat di final.

Mereka akan semakin frustrasi ketika Barcelona berhasil mengalahkan Manchester United 2-0 di Roma untuk kemudian mengangkat trofi.

Pertandingan itu terjadi hampir 12 tahun lalu yang lewat, tetapi masih menjadi salah satu yang paling diingat oleh para pencinta sepak bola. Terutama fans kedua klub. Dan terutama lagi oleh fans Chelsea.

Tahun ini, akankah Chelsea mampu keluar dari bayang-bayang cerita di atas?