Kisah Shin Tae-yong Benahi Passing Timnas Indonesia, Bikin Geleng-geleng Kepala

"Normalnya, pelatih timnas tidak bicara passing dan teknik. Tapi, Indonesia memang beda!"

Analisis | 25 November 2021, 20:05
Kisah Shin Tae-yong Benahi Passing Timnas Indonesia, Bikin Geleng-geleng Kepala

Libero.id - Meski membosankan, menjadi pelatih tim nasional itu sebenarnya jauh lebih mudah dari klub. Di klub, anda harus memikirkan semuanya hingga ke hal-hal detail. Sementara di timnas pelatih hanya cukup mengatur taktik dan strategi. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi Shin Tae-yong.

Beberapa hari lalu, akun YouTube resmi PSSI merilis sebuah tayangan berdurasi 14 menit 24 detik yang diberi judul "Skuad Garuda Asah Latihan Passing". Dalam tayangan itu dijelaskan bahwa latihan digelar di Antalya, Turki, pada Sabtu (20/11/2021). 

Diawali dengan peregangan dan pemanasan, para pemain kemudian melakukan tendangan ke gawang sebelum akhirnya dikumpulkan di tengah untuk mendapatkan pengarahan dari pelatih asal Korea Selatan tersebut. 

Setelah itu, para pemain mulai melakukan latihan passing. Bahkan, untuk menunjukkan umpan yang benar, salah satu asisten Tae-yong memperagakan sendiri umpan-umpan yang benar yang seharusnya dilakukan pemain. Dan, itu harus diikuti semua pemain, termasuk pemain naturalisasi seperti Victor Igbonefo. 

Hanya dalam waktu singkat, ratusan ribu orang menyaksikan dan menghujani kolom komentar. Para pendukung timnas beragam menanggapi tayangan itu. Ada yang senang, sedih, biasa-biasa saja, hingga memberikan kritik pedas. Mayoritas mempertanyakan mengapa pemain sekelas timnas masih diberi menu latihan passing.

Apakah salah memberi menu latihan passing di level timnas? Tentu saja! Timnas adalah kumpulan pemain-pemain terbaik dari sebuah negara. Hanya mereka yang memiliki kualifikasi khusus yang diizinkan bermain untuk negara di pertandingan internasional antarnegara. 

Logikanya, jika pemain terbaik masih tidak bisa melakukan passing, bagaimana dengan pesepakbola-pesepakbola lain, baik di kompetisi kasta tertinggi maupun pemain amatir?

Meski miris, inilah situasi yang dihadapi sepakbola Indonesia saat ini. Bahkan, legenda sepakbola Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, sempat memberi komentar tentang masalah ini. Pria yang belum lama diberhentikan sebagai pelatih Sabah FC di kompetisi Malaysia itu mengaku tidak heran jika Tae-yong merasa perlu membenahi passing pemain timnas.

"Ini sering terjadi. Keluhan yang sama juga pernah diutarakan pelatih-pelatih yang dulu. Artinya, hampir di setia masa," ujar Kurniawan kepada salah satu media nasional. 

Jadi, apa yang salah? Tentu saja sistem pembinaan pemain muda di Indonesia. Bagi sepakbola, passing adalah teknik dasar. Ketika anak balita pertama kali menyentuh bola, latihan pertama yang diajarkan pelatihnya adalah menendang, umpan, dan berlari,

Jika passing pemain timnas sangat buruk, berarti ada yang salah ketika mereka berada di level junior, khususnya saat belajar di akademi atau sekolah sepakbola, yang jumlahnya ribuan di seluruh penjuru negeri. 

Fakta menunjukkan, selama ini terjadi kesalahan pola pikir pembinaan usia dini di Indonesia. Bagi PSSI, pelatih, orang tua, pendukung, hingga media; anak-anak SSB dibebani target juara. Mereka lebih bangga pemain mendapat piala dibanding menendang bola dengan benar. 

Bayangkan, anak-anak yang pergi ke Danone Cup misalnya, diberi target juara. Mereka akan mendapatkan pujian ketika bisa mengalahkan tim-tim dari Eropa atau Amerika. Bahkan, terkadang diarak keliling kampungnya seperti Pele yang mendapatkan tiga Piala Jules Rimet.

Contoh lainnya hadir ketika timnas U-19 asuhan Indra Sjafri menjuarai Piala AFF U-19 2013. Bayangkan, hanya sebuah gelar regional di level junior, Evan Dimas dkk sampai dibuatkan panggung untuk "Tur Nusantara" yang disaksikan ribuan orang di stadion serta disiarkan langsung televisi selama berbulan-bulan. 

Hal yang kurang lebih sama tercipta ketika timnas U-22 menjuarai Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Lagi-lagi tim yang diasuh Indra itu diperlakukan layaknya juara dunia sekembalinya ke Indonesia. Selain arak-arakan keliling Jakarta, Marinus Wanewar dkk juga diterima Presiden Jokowi di Istana Negara. 

Itu juga terjadi di level klub ketika menjuarai kompetisi junior atau turnamen tidak resmi. Contohnya pernah dilakukan Persib Bandung saat menjuarai Liga 1 U-16 dan U-19 pada 2018. 

Pemujaan berlebihan terhadap pemain-pemain junior itulah yang sebenarnya merusak sepakbola Indonesia. Akibatnya, orientasi pembinaan bukan "proses", melainkan "hasil". Jadi, tidak heran jika kompetisi junior separti Piala Suratin atau Elite Pro Academy (EPA) sering diwarnai aksi kurang sportif seperti tekel brutal, perkelahian, hingga pemalsuan identitas. 

Selain itu, euforia yang didapatkan justru telah membuat pemain junior Indonesia loyo di level junior. Ketika Hwang Hee-chan sudah berkelana di Redbull Salzburg dan Wolverhampton Wanderers atau Eldor Shomurodov sudah menjadi bintang di AS Roma, Evan masih di Bhayangkara FC. Bahkan, dia termasuk pemain yang diajari pasing oleh Tae-yong.

Apa yang terjadi di Indonesia sangat sulit dibayangkan muncul di Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Argentina, Brasil, Jepang, Korea Selatan, atau bahkan negara tetangga Malaysia. 

Di negara-negara itu, pesta meriah tujuh hari tujuh malam hanya dilaksanakan di level timnas senior. Itu pun dengan syarat ketat seperti menjuarai Piala Dunia, Euro, Copa America, atau Piala Asia. Contohnya, yang dilakukan Italia dan Argentina pada musim panas lalu saat juara kompetisi regional.

Untuk level junior, tidak pernah ada cerita Inggris U-17 diarak keliling London saat menjuarai Piala Dunia U-17 2017. Begitu pula Ukraina U-20 saat menjurai Piala Dunia U-20 2019. Bahkan, ketika Lionel Messi dan Sergio Aguero menjuarai Piala Dunia U-20 2005 bersama Argentina U-20, keduanya langsung balik ke klub dan di Buenos Aires suasananya biasa-biasa saja.

Jadi, kesimpulannya adalah cara pandang semua orang terhadap pembinaan pemain junior harus berubah. Jangan memuji pemain muda karena piala, melainkan banggalah jika mereka menendang bola dengan benar! 

(andri ananto/anda)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0% Suka
  • 0% Lucu
  • 0% Sedih
  • 0% Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network