Selamat Ulang Tahun!

Kisah The Ben Sahar Law, Undang-undang yang Dibuat dengan Nama Pesepakbola

"Gara-gara pemain ini, Isreal bikin Undang-undang khusus atas namanya. Kok, bisa?"

Feature | 08 November 2021, 13:07
Kisah The Ben Sahar Law, Undang-undang yang Dibuat dengan Nama Pesepakbola

Libero.id - Jika anda penggemar Chelsea sejak lama, anda pasti tahu Ben Sahar. Disebut sebagai wonderkid Israel, pemain ini menjalani debut di era Jose Mourinho. Meski kemudian tenggelam, pemain ini sempat menghebohkan dunia setelah Israel membuat Undang-undang khusus atas namanya.

Banyak pemain yang berstatus wonderkid, kini hilang entah ke mana. Salah satunya Sahar. Pemain Israel itu adalah seorang wonderkid di Chelsea saat memukau para pelatih akademi di Cobham dengan bakatnya yang luar biasa.

Debut senior terjadi di usia 17 tahun. Ketika itu, Mourinho memberinya penampilan pengganti 14 menit melawan Macclesfield Town dalam pertandingan putaran ketiga Piala FA, 6 Januari 2007. Minggu berikutnya, dia membuat debut Liga Premier. Dia tampil sembilan menit dalam kemenangan 4-0 atas Wigan Athletic.

Dua penampilan tim utama Chelsea membuat Sahar mendapatkan panggilan negara. Pada 7 Februari 2007, dia menjalani debut senior saat Israel beruji coba dengan Ukraina. Usianya baru 17 tahun. Itu menjadikan Sahar orang Israel termuda yang pernah mewakili negaranya.

Bulan berikutnya, pada 28 Maret 2007, Sahar membuat rekor yang tetap sampai hari ini. Dia menjadi pencetak gol termuda untuk Israel, dengan dua gol dalam kemenangan 4-0 atas Estonia. Gol itu juga membuat Sahar menjadi pemain termuda Chelsea yang mencetak gol di timnas.

Sayang, semua berubah dengan cepat setelah menuai pujian dari seluruh Eropa. Sahar gagal memenuhi ekspektasi. Alih-alih bermain di klub top Eropa, dia malah pindah dari satu klub kecil ke klub kecil lainnya.

10 Foto Olivia Buzaglo, Presenter TV Chelsea dan Penggemar Timo Werner

10 Foto Olivia Buzaglo, Presenter TV Chelsea dan Penggemar Timo Werner

Semuanya dimulai dengan pinjaman di Queens Park Rangers, Sheffield Wednesday, Portsmouth, dan De Graafschap. Lalu, Sahar dijual pada musim panas 2009 ke Espanyol asuhan Mauricio Pochettino.

Di La Liga 2009/2010, Sahar hanya sanggup mencetak satu gol dalam 22 pertandingan. Hanya lima dari penampilan itu dia diturunkan sebagai starter. Bahkan, Pochettino membatasi pemain yang saat itu berusia 20 tahun hanya beberapa menit dari bangku cadangan.

"Dalam sepakbola, anda harus memiliki kesabaran. Karena jika anda ingin segalanya berjalan lebih cepat, itu bisa salah. Saya harus mengambilnya selangkah demi selangkah," kata Sahar saat itu, dilansir Goal.

Namun, Pochettino justru mengirim Sahar dengan status pinjaman. Awalnya, dia dipinjamkan ke Hapoel Tel Aviv. Kemudian, Auxerre. Selanjutnya, dijual ke Hertha Berlin. Di sana, dia juga dipinjamkan ke Hertha II dan Arminia Bielefeld sebelum dibuang ke Willem II Tilburg di Belanda.

Gagal di negara-negara besar Eropa, Sahar pulang ke kampung halaman. Pemuda kelahiran Holon, 10 Agustu 1989, itu membela Hapoel Be'er Sheva. Sempat ke APOEL Nicosia di Siprus, dia sekarang kembali ke Isreal membela Maccabi Haifa.

Keputusan Sahar kembali ke kampung halaman ternyata tepat. Bersama Be'er Sheva, dia menjuarai Liga Premier Israel (2015/2016, 2016/2017, 2017/2018), Piala Liga Israel (2019/2020), Piala Israel (2016/2017), dan Piala Super Israel (2016). Kemudian, dengan Haifa, Sahar memperoleh Piala Super Israel (2021) dan Piala Israel (2021/2022).


Undang-undang Ben Sahar

Karena prestasinya di usia muda dan pemberitaan yang gencar di media Israel terkait "wonderkid Chelsea", Sahar mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah di negara asalnya, yang tidak didapatkan pesepakbola lainnya. Bahkan, sekelas Yossi Benayoun atau Tal Ben Haim. 

Itu karena Sahar lahir di Israel, dari keluarga Yahudi. Ayahnya adalah kelahiran Israel dan keturunan Yahudi Sephardic (Tunisia-Yahudi), yang bekerja sebagai tukang listrik, dan ibunya mengajar olahraga. Dia dibesarkan di kota kecil, Modi'in.

Sebelum transfernya ke Chelsea, Sahar menerima paspor Polandia, karena ibunya yang lahir di Israel yang merupakan keturunan Yahudi Ashkenazi (Yahudi-Polandia dan Latvia-Yahudi). Paspor itu berguna untuk karier Sahar di Inggris karena dianggap sebagai pemain Uni Eropa.

Tapi, sebagai warga negara Israel, Sahar harus kembali ke Israel untuk menjalani wajib militer nasional selama tiga tahun. Jika tidak mematuhi perintah, Sahar terancam hukuman penjara 5 tahun.

Masalahnya, Sahar ketika itu dianggal seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo di Israel. Asosiasi Sepakbola Israel (IFA) takut jika Sahar dipanggil Polandia (karena sudah memiliki paspor Polandia). Jadi, mereka mulai melakukan lobi kepada pemerintah dan parlemen. Dengan desakan publik, permintaan IFA dikabulkan.

Agar Sahar mendapatkan pengecualian dari wajib militer, Pemerintah Israel mengerjakan Undang-undang baru yang dikenal sebagai "The Ben Sahar Law" (Undang-undang Ben Sahar). Aturan ini memungkinkan Sahar untuk menyelesaikan "tugas negara" di Inggris dengan bekerja di Kedutaan Besar Israel di London.

Sayang, Undang-undang itu akhirnya gagal disahkan DPR Israel. Akibatnya, Sahar tetap harus menjalani wajib militer dengan bergabung ke militer. 

Meski gagal di parlemen, tetap saja wajib militer Sahar mendapatkan pengecualian. Beda dengan orang lain yang harus berlangsung 3 tahun, Sahar hanya akan menjalani dinas militer di waktu luang. Dia hanya perlu bertugas selama kompetisi libur atau saat mengunjungi Israel.

(mochamad rahmatul haq/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan