Kisah Adidas Predator, Sepatu Favorit Pesepakbola Dunia Diciptakan Eks Liverpool

Biografi | 16 September 2021, 09:05
Kisah Adidas Predator, Sepatu Favorit Pesepakbola Dunia Diciptakan Eks Liverpool
Craig Johnston, David Beckham, Paul Gascoigne

"Sepatu paling laris, ikonik, dan legendaris. Terima kasih untuk penciptanya!"

Libero.id - Pada November 2017, Adidas dan David Beckham merilis trio sepatu baru yang terinspirasi dari sepatu Predator Accelerator 1998. Wajar untuk mengatakan bahwa mereka tidak terlalu mirip dengan aslinya. Tapi, itu adalah alasan yang cukup baik untuk melihat kembali salah satu sepatu bola paling ikonik sepanjang masa.

Kembali pada 1994, Adidas tampaknya telah merevolusi sepakbola. "Predator" adalah sepatu yang tampak aneh. Tapi, kemudian menjadi identik dengan Beckham, Zinedine Zidane, atau Alessandro del Piero. Sepatu itu menjanjikan kontrol yang lebih baik, tembakan yang lebih keras, dan servis yang maksimal.

Dihiasi dengan bagian paku karet yang mencolok di sekitar area jari kaki, Predator benar-benar berbeda. Bahkan ada tes ilmiah yang dilakukan untuk menguji kualitas sepatu besutan Adidas ini.

Segala sesuatu yang ada pada Predator diklaim membuat pemain bisa menendang bola dengan sangat keras. Bahkan, jika Adidas tidak pernah meminta anda untuk menjelaskan dengan tepat mengapa deretan gigi karet itu ada, anda hanya tahu mereka akan melakukannya.

Uniknya, pada 2002, ketika Predator yang sangat populer dirilis, gigi karet tersebut telah benar-benar hilang. Itu karena model terbaru telah dirampingkan dibandingkan dua model Predator sebelumnya.


Lahir dari mantan pemain Liverpool

Percaya atau tidak, Predator tidak lahir begitu saja. Semuanya berawal dari Craig Johnston. Dia adalah mentan gelandang kelahiran Afrika Selatan keturunan Australia, tapi membela tim nasional Inggris U-21. Dia bermain untuk Middlesbrough pada 1977-1981 dan Liverpool (1981-1988).

Jika anda penggemar The Reds, pasti ingat pemain ini. Semasa menetap di Anfield, dia membantu Liverpool menjuarai Divisi I lima kali, Piala FA sekali, Piala Liga dua kali, Charity Shield sekali, dan Liga Champions 1983/1984.

Setelah bergelimang sukses sebagai pemain Liverpool, Johnston pensiun pada 1988. Dia kembali ke negara asal orang tuanya, Australia. Di sana, dia membantu merawat saudara perempuannya yang sakit parah sambil melatih anak-anak sekolah di sekitar rumahnya.

Saat melatih itulah Johnston menemukan ide untuk menggunakan karet sebagai ganti kulit untuk membuat tonjolan di bagian atas sepatu sepakbola. Secara teoritis, itu membantu mengontrol bola.

Penemuan Johnston berawal dari ketidaksengajaan. Dia sangat kritis tentang desain sepatu sepakbola. Dia percaya bahwa kancing pada sol sepatu tidak terlepas dengan cukup cepat, yang berarti bahwa mereka tersangkut di tanah memberikan tekanan ekstra pada lutut, pergelangan kaki, dan metatarsal para pemain yang sudah tertekan. 

Dalam kondisi seperti itu, Johnston menduga bahwa sepatu yang menyebabkan pemain muda cedera. Dia juga berpendapat bahwa hal itu dapat diselesaikan dengan merancang stud yang lebih kecil, yang tidak menempel pada tanah.

Johnston kemudian menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mengembangkan prototipe dan bereksperimen dengan desain. Dia merancang sepatu inovatif yang disebut The Pig atau Patented Interactive Grip. Itu adalah "kulit" yang dapat ditempatkan di atas ujung sepatu. Dia butuh lima tahun untuk menyempurnakan penemuannya.

Setelah merasa sempurnya, desain tersebut diajukan ke Nike, Adidas, hingga Reebok. Hasilnya, tidak ada satu pun yang tertarik. Semuanya menolak mentah-mentah karena dianggap aneh.

Tapi, Johnston tidak kehabisan ide. Dia kemudian membujuk legenda Jerman, Franz Beckenbauer, Karl-Heinz Rummenigge, dan Paul Breitner untuk difilmkan saat menggunakan prototipe Predator dalam kondisi bersalju. Kebetulan, dia mengenal ketiganya, dan ternyata itu berhasil. 

Entah karena model yang digunakan merupakan nama populer atau memang manfaatnya, fakta menunjukkan, Adidas terpukau. Mereka mengambil desain Johnston dan membeli hak patennya. Adidas memberi Johnston 2% dari semua hasil penjualan Predator.

Dan, seperti yang kemudian menjadi sejarah, Predator menjadi sepatu sepakbola legendaris. Sejak keluar pertama pada 1994, Predator telah menelurkan 23 versi lainnya. Yang terbaru adalah Predator 21 Freak, yang diproduksi pada 2021.

(diaz alvioriki/anda)

  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Komentar

(500 Karakter Tersisa)

Foto

10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama

Klasemen